Pedemo Hong Kong Geruduk Toko Pedagang Asal China

CNN Indonesia | Minggu, 14/07/2019 09:20 WIB
Pedemo Hong Kong Geruduk Toko Pedagang Asal China Suasana demo di Hong Kong. (REUTERS/Jorge Silva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bentrokan yang disertai kekerasan meletus setelah beberapa ribu orang melakukan aksi demonstrasi di Hong Kong terhadap para pedagang dari China yang dengan cepat menjadi kerusuhan musim panas di wilayah semi-otonom.

Setelah mengeluarkan peringatan, polisi pada hari Sabtu (13/7) waktu setempat bergerak maju untuk membubarkan kerumunan sebagian besar demonstran muda yang mengatakan unjuk rasa damai telah gagal membawa perubahan.

Polisi menggunakan semprotan merica dan pentungan. Dalam kepanikan, pengunjuk rasa saling berebut melarikan diri, beberapa terjatuh. Sebagian besar dari mereka telah topeng dan helm pelindung dalam aksi tersebut.



Demonstrasi besar dalam satu bulan terakhir terhadap rancangan untuk mengubah undang-undang ekstradisi yang akan memungkinkan pelaku kriminal di Hong Kong diadili di China telah membangkitkan kembali gerakan-gerakan lain di kota itu.

Ribuan orang berdemo pada akhir pekan lalu atas wanita paruh baya daratan yang bernyanyi keras dan menari provokatif di taman umum.

Protes memiliki benang merah: pemerintah Hong Kong, yang dipimpin oleh chief executive yang tidak terpilih secara demokratis, tidak menanggapi keprihatinan rakyat.

Protes lain bakal digelar pada Minggu (14/7).

Berjalan di belakang spanduk bertuliskan, "Tegakkan hukum dengan ketat, hentikan pedagang lintas batas," demo pada Sabtu melewati apotek dan toko kosmetik milik pedagang asal Tiongkok yang populer di kalangan turis. Banyak toko yang memilih tutup karena protes ini.

Amy Chan, seorang karyawan bank berusia 25 tahun, menyebut protes itu sebagai tindakan berkelanjutan yang terus berkembang atas momentum unjuk rasa anti ekstradisi.

"Saya berharap bahwa melalui tindakan hari ini, orang-orang di Hong Kong tidak akan lupa bahwa sebenarnya ada banyak masalah sosial lainnya yang menunggu untuk diselesaikan."


Pemimpin kota, Carrie Lam, telah berjanji untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam mendengarkan semua keluhan masyarakat, tetapi banyak pengunjuk rasa ingin dia mengundurkan diri.

Pemerintahnya mengusulkan undang-undang pada bulan Februari yang akan memungkinkan pelaku kriminal diekstradisi ke Tiongkok.

Proposal itu menyulut kekhawatiran bahwa hak dan kebebasan yang dijamin oleh bekas jajahan Inggris selama 50 tahun setelah kembalinya 1997 ke China dikepung oleh pemerintah pro-Beijing di Hong Kong.

Lam menangguhkan undang-undang tanpa batas waktu setelah pengunjuk rasa memblokir legislatif pada 12 Juni, mencegah Dewan Legislatif dari pertemuan untuk memperdebatkan RUU ekstradisi.

Dihadapkan dengan protes yang terus-menerus, ia menyatakan RUU itu telah "mati" pada hari Selasa pekan ini, tetapi para pengunjuk rasa tetap tidak puas, menuntutnya ditarik secara resmi.

Demo Sabtu berlangsung di Sheung Shui, sebuah distrik yang terletak di seberang perbatasan dari kota daratan Shenzhen.

Penyelenggara Ronald Leung, pemimpin Kelompok Kepedulian Impor Paralel Distrik Utara, mengatakan warga telah mengeluh tentang masalah pedagang China selama bertahun-tahun.

"Warga benar-benar marah," katanya.

"Mereka ingin keluar dan menunjukkan kepedulian mereka terhadap masalah pedagang lintas batas di daerah itu, yang tidak pernah diselesaikan."


[Gambas:Video CNN]

(AP/ard)