Dalam kicauan Twitternya pada akhir pekan lalu, Trump meminta beberapa anggota Dewan Perwakilan yang berasal dari etnis minoritas untuk kembali ke negara asal mereka.
Meski tidak menyebut nama, sang presiden disebut menyiratkan bahwa anggota-anggota Kongres tersebut bukan warga asli AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jauh sebelum duduk di Gedung Putih, tepatnya ketika masa pencalonan presiden untuk pemilihan 2016 lalu, Trump mencibir latar belakang pendahulunya, Barack Obama, yang merupakan keturunan Amerika-Afrika.
Selama kampanyenya menjelang pemilihan presiden 2016 lalu, Trump juga kerap menyudutkan kaum imigran, terutama minoritas Muslim AS. Ia bahkan berjanji "melarang total umat Muslim" masuk AS.
Saat itu, Trump juga pernah memojokkan orang tua Kapten Humayun Khan, seorang personel militer AS beragama Islam yang tewas di Irak, dengan pernyataan rasial setelah sang ayah mengkritiknya.
Trump juga sempat memberlakukan kebijakan larangan masuk bagi sejumlah negara berpenduduk mayoritas Muslim dengan alasan keamanan. Aturan kontroversial itu lantas mendapat kecaman dan kritik secara global.
Pada 2015 lalu, Trump sempat mengklaim bahwa "ribuan dan ribuan" Muslim di New Jersey bersorak setelah serangan teror 11 September 2001 atau 9/11 di New York. Klaim Trump tersebut keliru.
Lihat juga:Kicau Rasis Trump Pancing Amarah Theresa May |
"Mereka membawa narkoba, mereka membawa kejahatan, mereka adalah pemerkosa, dan beberapa saya berasumsi adalah orang baik," kata Trump saat itu seperti dikutip AFP.
Trump bahkan sempat menganggap para imigran adalah "binatang" yang menurutnya banyak melakukan hal-hal buruk dan jahat di Negeri Paman Sam.
Pernyataan itu diucapkan Trump ketika dia berupaya membela kebijakan pengetatan imigrasi AS, dan pembangunan tembok di sepanjang perbatasan Meksiko untuk membendung imigran ilegal.
Selain itu, dalam suatu pertemuan pribadi di Gedung Putih sekitar Januari 2018 lalu, Trump menegaskan bahwa dirinya lebih memilih untuk menampung para imigran berkulit putih dari negara Eropa Barat daripada Afrika. Ia bahkan menganggap negara Afrika sebagai atau "negara-negara brengsek".
[Gambas:Video CNN]
"Kenapa kita harus menampung semua orang yang berasal dari negara brengsek datang ke sini?" kata Trump merujuk pada negara Afrika, Haiti, dan El Salvador.
"Mengapa kita membutuhkan lebih banyak orang Haiti? Keluarkan mereka. Kita harus memiliki lebih banyak orang-orang dari tempat-tempat seperti Norwegia," ucap Trump menambahkan.
Trump juga kembali dikritik ketika merespons kerusuhan Charlottesville pada Agustus 2017 lalu. Kelompok supremasi kulit putih, neo-Nazi, dan anti-Semit berkumpul di Charlottesville, Virginia, untuk menggelar rapat umum.
Kelompok anti-rasisme berbondong-bondong berdemo memprotes pertemuan tersebut hingga memicu bentrokan. Seorang anggota kelompok neo-Nazi dengan sengaja menggunakan mobilnya untuk menabrak kerumunan massa anti-rasisme. Insiden itu menewaskan satu orang dan melukai 29 orang lainnya.