Picu Amarah dan Kecaman, Trump Tak Peduli Disebut Rasial

CNN Indonesia | Selasa, 16/07/2019 17:04 WIB
Picu Amarah dan Kecaman, Trump Tak Peduli Disebut Rasial Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS/Joshua Roberts)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeluarkan serangan bernada rasial kepada empat anggota kongres wanita dari Partai Demokrat pada Senin (15/7). Trump bahkan tidak menghiraukan segala kritikan yang menyebut ucapannya tersebut bersifat rasial. 

"Itu tidak mengganggu saya karena ada banyak orang yang setuju dengan saya," ujar Trump. 

Cuitan bernada rasial Trump itu memicu amarah dan kecaman dari anggota Partai Demokrat di DPR. 

Ketika berpidato di Gedung Putih, Trump mengatakan bahwa orang-orang yang suka mengkritik AS harus angkat kaki. 

"Jika kamu tidak senang di AS, jika kamu mengeluh setiap saat, sangat mudah: Kamu (semua) bisa pergi," kata Trump yang kemudian mendapat tepuk tangan dari para pengusaha yang hadir dilansir Reuters.

Seruan itu disampaikan Trump setelah cuitannya di Twitter pada Minggu (14/7) yang menyebut empat anggota kongres wanita harus kembali ke tempat mereka berasal.

Padahal, empat anggota kongres wanita yang dimaksud Trump merupakan warga AS. Mereka adalah anggota DPR dari New York yakni Alexandria Ocasio Cortez, Ilhan Omar dari Minnesota, Ayanna Pressley dari Massachusetts dan Rashida Tlaib dari Michigan. Hanya satu dari mereka yakni Omar yang lahir di luar AS sekaligus merupakan pengungsi dari Somalia. 

Sebelumnya, keempat anggota kongres tersebut sempat mengkritik Trump atas sejumlah kebijakan yang dibuatnya. 

Dalam sebuah konferensi pers di Capitol Hill, empat anggota kongres itu menyebut Trump sedang menabur benih perpecahan dan mencoba menarik perhatian publik dari kebijakan-kebijakan terhadap imigrasi, layanan kesehatan dan perpajakan yang mereka anggap gagal. 

"Pemikiran dan pemimpin yang lemah menantang kesetiaan kepada negara kami guna menghindari penentangan dan perdebatan terkait kebijakan (Trump)," ujar Ocasio-Cortez. 

Tlaib dan Omar juga ikut menyerukan agar Trump dapat dimakzulkan. 

Ketua DPR Nancy Pelosi yang sempat dikritik oleh anggota "the squad," mengatakan bahwa partainya akan mengajukan tuntutan yang mengecam "cuitan bersifat xenofobia" dari Trump. 

Daftar tuntutan tersebut memuat anggota DPR yang "dengan tegas mengecam komentar rasis Presiden Donald Trump yang telah melegitimasi dan meningkatkan ketakutan serta kebencian terhadap orang Amerika baru serta orang kulit berwarna ..." 

Menurut anggota DPR dari Partai Demokrat, Steny Hoyer, tuntutan tersebut akan dibahas pada Selasa (16/7). 

Tuntutan tersebut kemungkinan akan menyebabkan sesama anggota Partai Republik Trump di Kongres berada dalam posisi terjepit, memaksa mereka untuk melawan Trump yang didukung kuat oleh konservatif, atau membela pernyataan presiden Puman Sam tersebut. 

Selain itu, serangan bernada rasial dari Trump nyatanya malah meningkatkan ketenaran keempat anggota kongres Partai Demokrat yang progresif itu. Hal ini tentunya memunculkan kekhawatiran bagi anggota Demokrat moderat yang ingin mempertahankan posisi mereka dalam pemilu 2020 mendatang. 

[Gambas:Video CNN]

Meskipun banyak dari anggota Partai Republik yang memilih diam dengan retorik bersifat pemecah belah yang kerap dilakukan Trump, ada pula sebagian kecil dari mereka yang mulai bersuara menanggapi cuitan rasial Trump. 

Will Hurd, anggota DPR perwakilan Texas sekaligus satu-satunya anggota Partai Republik keturunan Afrika Amerika menyebut serangan Trump itu bersifat rasial. 

Melalui Twitternya, Tim Scott, satu-satunya anggota Senat Partai Republik berkulit hitam, menyebutnya sebagai "serangan rasis." 

Sementara, anggota Senat Mitt Romney dan Marco Rubio turut mengecam kicauan Trump tersebut namun ia enggan mengkategorikannya sebagai sesuatu yang rasis. 

Pemimpin Senat Partai Republik, Mitch McConnell juga tidak memberikan tanggapannya terkait komentar kontroversial Trump tersebut. 

Pada Senin kemarin, Lindsey Graham, anggota Senat Partai Republik sekaligus teman main golf Trump menyebut empat anggota kongres wanita itu sebagai "komunis" dan "anti-Yahudi." Graham juga mengimbau Trump untuk berhenti melakukan serangan pribadi. 

"... Intinya di sini adalah ini (AS) adalah negara yang beragam," ujar Graham yang sebelumnya sempat berbicara dengan Trump. 

Insiden ini berawal ketika Trump berkicau di Twitter dan menyerang empat anggota kongres wanita dari Partai Demokrat yang progresif. 

"Mengapa mereka tidak kembali dan membantu memperbaiki tempat-tempat yang sungguh rusak dan penuh kejahatan di mana mereka datang. Kemudian kembali dan menunjukkan kepada kami bagaimana itu diselesaikan," cuit Trump. 

Trump sendiri memang kerap menggunakan kata-kata yang menyinggung rasial sejak masa kampanye pilpres lalu terutama ketika membahas persoalan tentang imigran yang mencoba masuk ke AS.


(ajw/dea)