India Desak Interpol Rilis Red Notice untuk Zakir Naik

CNN Indonesia | Kamis, 22/08/2019 14:51 WIB
India Desak Interpol Rilis Red Notice untuk Zakir Naik Pemerintah India dilaporkan bakal mendesak Interpol untuk merilis red notice terhadap dai kondang yang kini berstatus penduduk tetap di Malaysia, Zakir Naik. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah India dilaporkan bakal mendesak Interpol untuk merilis red notice terhadap dai kondang yang kini berstatus penduduk tetap di Malaysia, Zakir Naik.

Seorang pejabat di Direktorat Aparat India (ED) mengatakan bahwa pihaknya akan melontarkan desakan itu dalam waktu dekat.

"Kami dipersenjatai dengan perintah penangkapan yang tak terbantahkan dan berdasarkan hukum, red notice merupakan langkah kami selanjutnya," ujar pejabat tersebut kepada Hindustan Times, sebagaimana dikutip Free Malaysia Today.
Zakir memang menjadi buronan di India sejak 2016 lalu, ketika aparat membuka penyelidikan terkait pencucian uang dan ujaran kebencian yang memicu ekstremisme.


Namun, Zakir ogah pulang karena khawatir tidak akan diperlakukan adil dalam sistem peradilan India. Ia pun kabur dari India dan mendapatkan perlindungan di Malaysia.

Status Zakir di Malaysia terancam setelah sejumlah menteri mendesak Perdana Menteri Mahathir Mohamad untuk mencabut predikat penduduk tetap sang dai karena ucapan bernada rasial yang dilontarkan.

Kisruh ini bermula ketika Zakir menyebut umat Hindu sebagai minoritas di Malaysia memiliki "hak seratus kali lipat" ketimbang Muslim yang juga merupakan minoritas di India.
Selain itu, Zakir juga pernah menyatakan etnis China di Malaysia hanya "tamu" dan seharusnya dipulangkan ke negara asalnya.

Masalah ras dan agama sendiri merupakan isu sensitif di Malaysia, di mana Muslim menjadi mayoritas dengan porsi 60 persen dari total 32 juta warga.

Akibat pernyataan ini, Zakir diperiksa kepolisian hingga dua kali. Ia pun dilarang memberikan ceramah di seluruh pelosok Malaysia.

Namun, Mahathir mengatakan bahwa Zakir tak dapat dikembalikan ke India karena ada ketakutan ia bakal dibunuh di sana. (has/has)