OBITUARI

Ben Ali dan Noda Kekuasaan Pemicu 'Arab Spring'

CNN Indonesia | Jumat, 20/09/2019 20:56 WIB
Ben Ali dan Noda Kekuasaan Pemicu 'Arab Spring' Ilustrasi mantan Presiden Tunisia, Zain al-Abidin Ben Ali. (AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Zain al-Abidin Ben Ali bisa jadi risih didengar di telinga warga Tunisia. Sebab, dia dianggap sebagai sosok yang membawa negara itu ke dalam jurang kemelaratan.

Ben Ali kini sudah tutup usia pada umur 83 tahun. Namun, di akhir hayatnya dia hidup dalam pengasingan di Arab Saudi, usai dilengserkan melalui demo besar-besaran pada 14 Januari 2011.

Semangat gerakan di Tunisia lantas menyebar ke seluruh penjuru Arab, yang dikenal sebagai 'Musim Semi Arab' (Arab Spring). Hal itu memicu revolusi di Libya yang menumbangkan Muammar Khaddafi, dan juga menyebar ke Mesir untuk menggeser diktator Husni Mubarak.


Gelombang Arab Spring juga meluas ke Suriah, Yaman, Bahrain, Maroko, Aljazair, Kuwait, Oman dan Sudan.


Dia dilahirkan pada 3 September 1936 dari keluarga kelas menengah di Kota Hammam Sousse, yang saat itu masih menjadi wilayah protektorat Prancis. Dia sempat bergabung dengan gerakan pemberontakan melawan penjajah Barat.

Akibatnya, Ben Ali dikeluarkan dari sekolah dan masuk penjara. Dia kemudian pindah ke Prancis dan lulus dari akademi militer St. Cyr.

Ben Ali juga pernah menempuh pendidikan artileri di pusdiklat Chalons-sur-Marne, kemudian melanjutkannya ke Amerika Serikat. Ketika pulang ke Tunisia, dia dimasukkan ke dalam dinas intelijen.

Dia kemudian ditugaskan sebagai atase militer di Maroko sejak 1974. Pangkatnya kemudian naik hingga menjadi jenderal.

Dia pernah menjadi duta besar untuk Polandia dan ditunjuk menjadi menteri pertahanan pada 1984. Saat itu dia dianggap bertanggung jawab atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia, karena menumpas aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga sembako yang dipimpin serikat buruh Tunisia. Saat itu sejumlah orang dilaporkan tewas.

Ben Ali yang pada 1987 menjadi perdana menteri merebut kekuasaan dari tangan presiden saat itu, Habib Bourguiba, dengan kudeta. Dia lantas merombak besar-besaran sistem ekonomi Tunisia.


Ben Ali lantas meneken perjanjian kerja sama dagang dengan Uni Eropa. Dia juga melakukan reformasi kesehatan dan pendidikan.

Pertumbuhan ekonomi memang naik, tetapi jumlah pengangguran dan tingkat kemiskinan masih tetap tinggi. Ben Ali juga mulai otoriter dan menyingkirkan lawan politiknya satu persatu.

Tokoh politik yang sempat menjadi saingan terberat Ben Ali adalah Rachid Ghannouchi. Ghannouchi memimpin Partai Kebangkitan (Ennahada) yang mengusung ideologi Islam.

Ben Ali juga membungkam media massa yang gencar mengkritik kebijakan ekonomi dan politik Tunisia, serta memenjarakan sejumlah aktivis HAM.

Ben Ali menang mutlak dalam pilpres dengan multikandidat pada 1999. Tiga tahun kemudian dia mengubah undang-undang supaya bisa melanjutkan kekuasaannya.

Pada November 2009, Ben Ali terpilih lagi. Namun, dia dituduh curang.

Alhasil, sejumlah aksi massa sporadis menuntut pilpres ulang. Rasa frustasi penduduk Tunisia mencapai puncak ketika seorang penjual buah, Muhammad Bouazizi, memutuskan mengakhiri hidup dengan bakar diri.

Penyebabnya adalah barang dagangannya disita polisi dalam razia karena tidak ada izin. Padahal dia mencoba mencari nafkah karena situasi ekonomi saat itu sedang sangat sulit.


Karena kehilangan modal dan mata pencahariannya, Bouazizi memutuskan bunuh diri. Hal itulah yang membuat gerakan massa di Tunisia meletup, sampai akhirnya Ben Ali harus kabur ke luar negeri.

Prancis menolak memberi suaka, dan akhirnya Ben Ali harus bersembunyi di Saudi.

Selepas itu, pengadilan Tunisia mendakwa Ben Ali dengan sejumlah perkara korupsi dan dugaan penyalahgunaan kekuasaan saat membubarkan aksi unjuk rasa. Namun, sidangnya digelar secara in absensia.

Di masa tuanya, Ben Ali sakit-sakitan saat dalam pelarian. Akhirnya dia tumbang akibat penyakit kanker prostat yang diidapnya, dan kemungkinan tak akan pernah kembali ke tanah kelahirannya. (ayp/ayp)