Menilik Kasus Pembunuhan Kekasih yang Picu Demo di Hong Kong

CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 15:38 WIB
Menilik Kasus Pembunuhan Kekasih yang Picu Demo di Hong Kong Ilustrasi demo Hong Kong. (AP Photo/Kin Cheung)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kasus pembunuhan yang dilakukan warga Hong Kong terhadap kekasihnya di Taiwan pada Februari 2018 lalu tak disangka bisa memicu demonstrasi besar 16 bulan kemudian. 

Demonstrasi yang berlangsung sejak awal Juni 2019 itu bahkan dinilai telah menjerumuskan Hong Kong ke dalam krisis politik terparah sejak wilayah otonomi itu lepas dari jajahan Inggris dan dikuasai China.


Unjuk rasa yang telah diikuti oleh jutaan warga Hong Kong itu diawali oleh protes warga terhadap Rancangan Undang-Undang Ekstradisi. Masyarakat pro-demokrasi menilai RUU itu akan semakin mengekang dan menempatkan Hong Kong di bawah otoriter China.


Meski Pemimpin Hong Kong Carrie Lam telah resmi mengumumkan akan membatalkan RUU itu, para pedemo merasa tidak puas dan malah menuntut politikus pro-Beijing itu mundur.

RUU Ekstradisi tersebut digagas Lam menyusul kasus pembunuhan warganya, Poon Hiu-wing, oleh sang kekasih, Chan Tong-kai, ketika berlibur bersama ke Taiwan. 

Poon tidak pernah kembali ke Hong Kong sejak itu. Perempuan 20 tahun yang tengah mengandung tersebut lalu ditemukan tewas oleh otoritas Taiwan di dalam sebuah koper pink di dekat terminal bus Zhuwei.

[Gambas:Video CNN]

Sementara itu, Chan yang masih berusia 19 tahun berhasil kembali ke Hong Kong.

Poon merupakan salah satu siswa sekolah kejuruan memasak dan kecantikan. Sementara itu, Chan merupakan mahasiswa jurusan bisnis. Keduanya disebut bertemu sejak 2017 lalu ketika sama-sama bekerja paruh waktu di sebuah toko.

Dilansir The New York Times, keduanya sempat merayakan Hari Valentine bersama di Taipei. Dua hari setelahnya, Poon dan Chan disebut sempat bertikai perihal sebuah koper pink yang dibeli Poon di pasar malam.

Menurut kesaksian Chan kepada penyelidik, mereka berdebat perihal bagaimana cara membawa koper itu pulang.
CNNIndonesia/Basith Subastian

Dalam pertengkaran itu, Poon disebut mengakui bahwa janin yang tengah dikandung merupakan anak dari mantan pacarnya. Chan mengaku bahwa Poon bahkan memperlihatkan video ketika dia berhubungan badan dengan sang mantan pacar.

Merasa geram, Chan membenturkan kepala Poon ke tembok kamar dan mencekik di lantai selama 10 menit sampai tewas. Chan lalu memasukkan jasad kekasihnya itu ke sebuah koper yang baru mereka beli dan pergi tidur.

Pembunuhan Poon terkuak setelah sang ayah mengadu ke polisi bahwa sang putri tak kunjung pulang. Sang ayah mengaku Chan memberitahunya bahwa ia dan Poon bertikai dan telah putus. 

Kemudian pihak berwenang Taiwan melacak keberadaan sejoli itu selama berlibur dan mendapatkan rekaman CCTV hotel. Dalam rekaman itu, Chan terlihat membopong koper pink keluar hotel.


Lalu, otoritas Hong Kong menginterogasi Chan sekali lagi dan pria tersebut mengaku telah membunuh sang pacar dan memberitahukan lokasi jasadnya.

Meski Chan telah mengaku, polisi Hong Kong tak bisa mendakwa pria itu karena tindakan kriminal terjadi di Taiwan. Namun, pihak berwenang Hong Kong menahan Chan karena melakukan pencucian uang dengan menggunakan kartu kredit Poon usai membunuh perempuan tersebut.

Semula, pembunuhan Poon dinilai sebagai kasus kriminal lokal. 

Media lokal juga merilis foto-foto pribadi mereka berdua di Facebook, hingga rekaman CCTV hotel tempat sejoli itu menginap di Taiwan.

Namun, setahun setelah penangkapan Chan, Carrie Lam menggagas RUU yang mampu memberikan kewenangan Hong Kong untuk mengirim setiap penjahat kriminal ke negara lain, termasuk Taiwan. Hal itu dilakukan setelah Taiwan meminta Hong Kong mengirim Chan untuk didakwa di sana.


Namun, kedua wilayah itu tak memiliki perjanjian ekstradisi resmi. Sejak awal gagasan pembuatan RUU itu berembus, sebagian publik Hong Kong menolak legislasi itu karena khawatir perjanjian ekstradisi itu akan berlaku dengan China.

Carrie Lam dan jajaran pemerintahannya optimistis bahwa RUU itu akan lolos dengan mudah dan meremehkan penentangan publik. Sejak itu, unjuk rasa penolakan RUU terus berlangsung dan meluas secara sporadis hingga turut mempengaruhi perekonomian Hong Kong. (rds/dea)