Mundur dari Suriah, AS Ungsikan Pasukan ke Irak

CNN Indonesia | Senin, 21/10/2019 23:29 WIB
Mundur dari Suriah, AS Ungsikan Pasukan ke Irak Ilustrasi pasukan Amerika Serikat di Suriah. (Delil SOULEIMAN / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Janji Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memulangkan pasukan dari Suriah nampaknya tidak terbukti. Menurut Menteri Pertahanan, Mark Esper, serdadu AS yang ditarik dari negara itu bakal ditempatkan di Irak dengan dua misi.

"Pertama untuk membantu pertahanan Irak, dan kedua untuk melakukan misi melawan ISIS. Keadaan bisa berubah kapanpun, tetapi hal itu yang ada terjadi saat ini," kata Esper dilansir Associated Press, Senin (21/10).

Pelaksana Tugas Kepala Staf Gedung Putih, Mick Mulvaney, menyatakan satu-satunya cara untuk menyelamatkan pasukan AS dari Suriah adalah dengan menempatkan mereka di Irak.


Pasukan AS yang ditarik dari Suriah sekitar 1000 personel. Sekitar 200 sampai 300 orang ditempatkan di pangkalan mereka di Tanf, perbatasan antara Yordania dan Suriah.


Saat ini ada sekitar 5000 serdadu AS di Irak, yang ditempatkan dengan perjanjian kedua negara. AS sudah menarik sebagian pasukannya di negara itu pada 2011 setelah operasi militer di sana dinyatakan berakhir.

Akan tetapi, AS kembali mengirim pasukan tiga tahun kemudian dengan alasan memerangi ISIS. Sejak saat itu AS hanya menempatkan pasukan di Irak dalam jumlah kecil karena dalih menjadi isu politik sensitif.

Sebab di mata warga Irak, AS menjajah negara itu sejak melakukan penyerbuan pada 2003.

Di sisi lain, Esper meyakini pasukan Kurdi di Suriah yang membentuk organisasi Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan menjadi sekutu mereka dalam memerangi ISIS masih memegang kendali sejumlah penjara di wilayah itu. Sebab, ada ribuan milisi ISIS yang ditahan di penjara Kurdi yang dikhawatirkan bakal kabur di tengah invasi Turki.

Banyak pihak mengkritik langkah Presiden Donald Trump menarik pasukan di Suriah sebagai bentuk pengkhianatan terhadap Kurdi. Namun, Esper punya pendapat lain.

"Kurdi adalah mitra yang baik. Namun, di saat yang bersamaan pasukan kita tidak ditugaskan untuk melawan Turki," ujar Esper.

[Gambas:Video CNN]

Milisi Kurdi dilaporkan meminta bantuan kepada Presiden Suriah, Bashar al-Assad, untuk menghadapi serbuan pasukan Turki. Assad dilaporkan mengerahkan pasukan ke kawasan utara yang menjadi medan perang antara pasukan Turki dan milisi Kurdi.

Saat ini pasukan Suriah dilaporkan sudah bercokol di Kota Kobani dan Manbij. Tadinya wilayah itu dikuasai kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), yang kemudian direbut milisi Kurdi dan pasukan Koalisi AS.

Kemungkinan pasukan Iran dan Rusia yang berada di Suriah juga dikerahkan dan terlibat perang dengan Turki.

Turki bersama milisi Tentara Pembebasan Suriah (FSA) menggempur wilayah yang dikuasai milisi Kurdi. Kelompok Kurdi merasa AS mengkhianati mereka setelah saling membantu dan melindungi saat berperang melawan ISIS, dan FSA.


Turki menganggap kelompok Kurdi adalah separatis dan teroris, karena ingin membuat negara sendiri di wilayah timur dan selatan dekat perbatasan Suriah dan Irak. Maka dari itu mereka memutuskan menyerang kelompok Kurdi. (ayp/ayp)