Kejang Usai Makan di Sekolah, Bocah Diduga Telan Racun Tikus

CNN Indonesia | Jumat, 08/11/2019 18:02 WIB
Kejang Usai Makan di Sekolah, Bocah Diduga Telan Racun Tikus Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Syaiful Arif)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bocah laki-laki berusia lima tahun harus dirawat intensif setelah makan siang di sebuah taman kanak-kanak di Zhuhai, Guangdong, China. Ia diduga tidak sengaja mengonsumsi racun tikus yang tidak diketahui asalnya.

South China Morning Post melaporkan pada Kamis (7/11), insiden berawal saat anak itu mengeluhkan sakit pada bagian perut dan mulai muntah serta mengalami kejang setelah makan siang pada 22 Oktober lalu.


Para guru menghubungi ibu korban, Tang, serta petugas medis bahwa anaknya sakit dan telah dibawa ke rumah sakit setempat.


Anak yang tidak disebutkan namanya itu dialihkan ke unit perawatan intensif dan sempat mengalami serangan jantung. Akan tetapi, anak itu kemudian dipindahkan ke sebuah rumah sakit spesialis di Guangzhou dan pemeriksaan mulai dilakukan.

[Gambas:Video CNN]

Tes urine yang dilakukan tim dokter menemukan di dalam tubuh anak tersebut terdapat kandungan fluoroacetamide yang umumnya digunakan pada racun tikus. Setelah itu, mereka juga melaporkan bahwa anak tersebut mengalami penumpukan cairan di dalam otak serta radang pada otot jantung hingga harus bergantung pada alat pendukung kehidupan.

Tim dokter dari rumah sakit itu memberikan kabar buruk tentang anak itu kepada ibu korban terkait dugaan penyebab kejadian dan memperkirakan bahwa anak itu kemungkinan besar tidak akan selamat.


"Para dokter menduga dia sakit karena racun tikus. Mereka mengatakan hampir tidak ada kemungkinan anak itu akan selamat [dari luka-luka yang ia alami]," kata ibu korban kepada PearVideo.

Tang menambahkan bahwa ia sempat mendengar ada anak lain yang mengalami gejala yang hampir sama meski tidak separah dengan yang dialami anaknya.
"Anak lain juga mengalami sakit perut dan diare. Tetapi gejala itu tidak parah," ujarnya.


Kepolisian setempat menuturkan bahwa sekolah itu telah ditutup sehubungan dengan adanya investigasi lebih lanjut meski belum mendapatkan laporan ada siswa lain yang mengalami gejala yang sama. (fls/dea)