Trump soal Pemakzulan: Saya Terlalu Sibuk untuk Tonton Hoaks

CNN Indonesia | Kamis, 14/11/2019 12:40 WIB
Trump soal Pemakzulan: Saya Terlalu Sibuk untuk Tonton Hoaks Presiden AS Donald Trump. (Jim WATSON / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengaku terlalu sibuk untuk menyaksikan gelaran sidang proses pemakzulan yang disiarkan secara publik di televisi pada Rabu (13/11). 

Trump menganggap sidang tersebut sebagai bentuk pembunuhan karakter dan hoaks.

"Saya terlalu sibuk hanya untuk menonton (sidang) itu. Itu adalah pembunuhan karakter dan hoaks. Saya terlalu sibuk untuk hal itu. Jadi saya hanya menunggu laporan terkait sidang itu," kata Trump kepada wartawan di Washington.



Meski mengklaim tidak peduli dengan proses pemakzulan yang dianggapnya sebagai upaya kudeta, Trump melalui Twitter tetap me-retweet sejumlah kicauan pihak yang menentang sidang tersebut.

Sidang yang digagas faksi Partai Demokrat Dewan perwakilan Amerika Serikat itu mendatangkan dua diplomat senior, Duta Besar AS untuk Ukraina William Taylor dan Asisten Deputi Menteri Luar Negeri AS George Kent untuk memberikan kesaksian.

[Gambas:Video CNN]

Secara garis besar, Taylor dan Kent menganggap Trump membuat "jalur tidak biasa" dengan menugaskan pengacara pribadi, Rudy Giuliani, untuk memaksa Ukraina membuka penyelidikan dugaan korupsi terhadap anak Joe Biden, rivalnya di pemilihan umum 2020 mendatang.

Trump melalui Giuliani bahkan menjadikan bantuan militer senilai 391 juta dolar untuk menekan Ukraina agar mau melakukan permintaan yang bisa menguntungkan sang presiden AS secara pribadi.


Selain itu, menurut Taylor dan Kent, Giuliani juga diminta Trump menyelidiki teori yang bisa membuat Ukraina seakan-akan melakukan campur tangan dalam pemilu 2016 lalu dan bukan Rusia.

Penyelidikan pemakzulan Trump dibuka setelah sang presiden terindikasi menyalahgunakan wewenang untuk menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky supaya melakukan penyelidikan terhadap anak Joe Biden, Hunter. Joe Biden bakal menjadi rival Trump di pilpres mendatang.

Trump dituduh menekan Zelensky dengan cara menahan bantuan militer AS. Melalui beberapa kali komunikasi telepon, Trump meminta Zelensky untuk menyelidiki dugaan korupsi yang dilakukan Hunter Biden, yang merupakan anggota komisaris perusahaan energi Ukraina, Burisma.


Kasus dugaan korupsi itu diduga dibuat-buat lantaran Trump tidak memiliki bukti awal. (rds/dea)