AS Bersiap Lakukan Uji Coba Rudal Balistik Jarak Menengah

CNN Indonesia | Jumat, 15/11/2019 16:05 WIB
AS Bersiap Lakukan Uji Coba Rudal Balistik Jarak Menengah Ilustrasi. (Maxime POPOV / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Amerika Serikat akan melakukan uji coba rudal balistik jarak menengah dalam waktu dekat. Uji coba ini akan menjadi yang pertama sejak AS keluar dari perjanjian nuklir era Perang Dingin dengan Rusia, Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty (INF).

Defense News melaporkan pada Kamis (14/11), pejabat Kementerian Pertahanan mengatakan uji coba akan dilakukan pada November ini.

"Rencananya uji coba rudal balistik akan dilakukan sebelum akhir tahun," kata wakil asisten sekretaris pertahanan untuk kebijakan pertahanan nuklir dan rudal, Robert Soofer.



Akan tetapi, juru bicara Pentagon, Letnan Kolonel Robert Carver belum dapat mengonfirmasi lebih detail rencana uji coba tersebut. Kata dia masih dirahasiakan.

"Saya tidak dapat mengonfirmasi maupun membantah uji coba yang akan dilakukan pada bulan November. Saya belum dapat memberikan informasi apa pun terkait tanggal, waktu, dan lokasi uji coba," ujar Carver.

Uji coba tersebut diperkirakan melibatkan sebuah rudal yang dapat terbang sejauh 3.000 hingga 4.000 kilometer. Hal ini menimbulkan kekhawatiran pendukung pengendalian senjata.

[Gambas:Video CNN]

Namun pejabat AS meyakini tidak akan membangun sistem berkemampuan nuklir yang akan merusak batas-batas dalam perjanjian INF.

Dikutip Sputnik News, Amerika Serikat mengundurkan diri secara resmi dari Perjanjian INF pada 2 Agustus.

Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa negaranya membatalkan perjanjian itu karena menduga Rusia melanggar sejumlah ketentuan.


Pelanggaran ini dipicu uji coba rudal balistik jelajah Rusia sejauh 500 kilometer di mana hal itu dilarang dalam Perjanjian INF. Kendati demikian, Rusia berulang kali membantah tuduhan tersebut.

Keluarnya AS dari perjanjian itu memicu kemarahan Rusia dan sejumlah negara lain.

INF ditandatangani oleh AS dan Uni Soviet (kini Rusia) pada tahun 1987.


Perjanjian tersebut melarang rudal balistik darat jarak pendek hingga menengah (498-997 kilometer) serta rudal balistik darat jarak menengah (997-5.503 kilometer). (fls/dea)