Bentrok dengan Polisi, Pedemo Hong Kong Bakar Gerbang Kampus

CNN Indonesia | Senin, 18/11/2019 10:25 WIB
Bentrok dengan Polisi, Pedemo Hong Kong Bakar Gerbang Kampus Ilustrasi demonstran Hong Kong. (AFP/Noel Celis)
Jakarta, CNN Indonesia -- Demonstrasi yang telah berlangsung selama lima bulan lebih di Hong Kong kembali ricuh setelah sekelompok pedemo membakar gerbang sebuah kampus pada Senin (18/11).

Sejumlah suara ledakan sempat terdengar pada Senin dini hari sebelum para pedemo membakar gerbang masuk Universitas Politeknik Hong Kong (PolyU).

Wartawan AFP yang tengah berada di lokasi kejadian melihat pembakaran gerbang kampus itu dilakukan para pedemo untuk mencegah aparat kepolisian masuk.


Sementara itu, polisi Hong Hong menuturkan telah menembakkan tiga peluru tajam selama bentrokan itu berlangsung. Namun, polisi mengklaim tidak ada yang terluka akibat tembakan peluru tajam mereka.
Pembakaran fasilitas kampus itu dilakukan setelah aparat kepolisian mengancam akan menggunakan peluru tajam terhadap para pengunjuk rasa yang melawan.

Ancaman polisi itu datang setelah salah satu personelnya tertembak panah di kakinya dalam bentrokan dengan demonstran di distrik Kowloon pada Minggu malam.

Para pengunjuk rasa berjongkok di bawah payung untuk menghindari meriam air polisi yang sesekali ditembakan ke arah mereka. Beberapa pedemo bahkan turut melemparkan bom molotov ke sebuah kendaraan lapis baja hingga terbakar di jembatan dekat kampus.

Kepolisian Hong Kong menganggap bentrokan selama Minggu petang hingga Senin dini hari itu sebagai "kerusuhan". Juru bicara Kepolisian Hong Kong, Louis Lau, memperingatkan dengan keras bahwa perusuh bisa dipenjara hingga 10 tahun.

[Gambas:Video CNN]

"Saya dengan ini memperingatkan para perusuh untuk tidak menggunakan bom bensin, panah, mobil, atau senjata mematikan apa pun untuk menyerang petugas kepolisian," kata Lau melalui siaran langsung di Facebook.

"Jika para pedemo terus melakukan tidakan berbahaya seperti itu, kami tidak memiliki pilihan selain menggunakan kekuatan minimun yang diperlukan, termasuk peluru tajam untuk pembalasan," paparnya menambahkan.

Setelah melumpuhkan transportasi publik hingga bandara, kini demonstrasi di Hong Kong mulai beralih ke sekolah-sekolah terutama perguruan tinggi.

"Saya merasa takut. Tidak ada jalan keluar. Yang bisa saya lakukan adalah berjuang sampai akhir," ucap seorang demonstran di PolyU.

Seorang anggota dewan sekaligus mahasiswa PolyU, Owen Li, menuturkan kepanikan tidak bisa dibendung lagi saat bentrokan berlangsung. Ratusan pengunjuk rasa diyakini ikut bersembunyi di kampus tersebut.


"Banyak teman saya merasa tidak berdaya. Kami memohon kepada semua masyarakat untuk keluar dan membantu kami," kata Li.

Akibat situasi yang kian mencekam, mahasiswa China di kampus-kampus Hong Kong telah melarikan diri keluar wilayah semi-otonomi itu dengan alasan keamanan. (rds/ayp)