#GanyangMalaysia, Riwayat Rivalitas Indonesia dan Malaysia

CNN Indonesia | Jumat, 22/11/2019 12:37 WIB
#GanyangMalaysia, Riwayat Rivalitas Indonesia dan Malaysia Ilustrasi suporter timnas Indonesia. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tagar #GanyangMalaysia tiba-tiba menjadi trending topic Twitter di Indonesia pada Jumat (22/11) pagi. Hal itu terjadi setelah bentrokan antara pendukung Timnas Sepak Bola Indonesia dan Malaysia saat leg kedua laga Kualifikasi Piala Dunia 2022 di Stadion Bukit Jalil, kemarin.

Aksi pengeroyokan terhadap suporter Skuat Garuda dilaporkan terjadi usai pertandingan selesai dengan skor 2-0 untuk Malaysia.

Video pengeroyokan suporter Indonesia juga viral di media sosial. Hal itu berbuntut amukan netizen di Twitter hingga meramaikan tagar #GanyangMalaysia yang telah digunakan lebih dari 2.600 kicauan.


Rivalitas Indonesia-Malaysia memang dikenal 'abadi'. Persaingan kedua negara sudah terasa sejak era Orde Lama, tepatnya ketika Presiden Soekarno menentang pembentukan Negara Federasi Malaysia pada 1963. Soekarno menganggap pembentukan Negara Federasi Malaysia sebagai wujud penjajahan baru (neo-kolonialisme) karena digagas oleh Inggris.


Soekarno melihat Inggris adalah negara Barat yang juga salah satu negara penjajah seperti Belanda.

Setelah Malaysia mengumumkan pembentukan Negara Federasi pada 16 September 1963, Soekarno geram dan memutuskan segala bentuk hubungan dengan Malaysia.

Demonstrasi besar yang menentang berdirinya Federasi Malaysia juga terjadi di Indonesia, di mana kedutaan besar Inggris di Jakarta dan puluhan rumah staf kedutaan dibakar habis. Perkebunan Inggris di Jawa dan Sumatra diambil alih. Pemerintah juga mengumumkan penyitaan properti Inggris di Tanah Air.

Meski relasi pemerintah RI-Malaysia kini terus menguat, persaingan antar kedua warga negara tidak pernah surut.

Mulai dari sengketa wilayah, saling klaim produk dan budaya, persaingan dalam olahraga, hingga pernyataan kontroversial kerap memantik perseteruan antara warga kedua negara.


Kekerasan Suporter RI di GBK

Bentrokan suporter timnas RI dan timnas Malaysia kemarin bukan yang pertama kali terjadi. Kerusuhan antara kedua suporter timnas juga terjadi saat leg pertama kualifikasi Piala Dunia 2022 lalu di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) pada September lalu.

Sejumlah suporter Malaysia terluka akibat pelemparan yang dilakukan oknum suporter Indonesia usai pertandingan sengit itu selesai dengan skor 2-3 untuk Malaysia.

Akibat insiden itu, media sosial Negeri Jiran menyuarakan kecaman terhadap kekerasan yang dilakukan oknum suporter Indonesia terhadap pendukung timnas Malaysia.

#GanyangMalaysia, Riwayat Rivalitas RI-Malaysia Saling lempar suar antara suporter Indonesia dan Malaysia. (AP Photo/Vincent Thian)
Pernyataan kontroversial Bos Taxi Malaysia

Rencana Gojek mengaspal di Negeri Jiran ternyata mendapat beragam respons dari publik Malaysia.

Meski pemerintah Malaysia menilai ekspansi Gojek secara positif, sebagian publik Negeri Jiran menganggap masih ada empat perusahaan sejenis yang tidak kalah bersaing dengan Gojek.

Beberapa di antaranya bahkan menolak kehadiran Gojek, termasuk seorang bos Big Blue Taxi Services di Malaysia, Shamsubahrin Ismail.


Shamsubahrin bahkan dengan keras mempertanyakan kenapa pemerintah Malaysia mengizinkan Gojek beroperasi. Dia menyatakan moda transportasi itu "hanya untuk orang miskin seperti di Jakarta, di Thailand, di India, dan di Kamboja."

Pernyataannya tersebar di media sosial hingga menuai kecaman dari komunitas pengemudi taksi serta ojek online di Indonesia. Menanggapi hal itu, sekitar 10 ribu pengemudi ojek online di Jakarta berencana menggelar demo di depan kantor kedutaan besar Malaysia.

Perseteruan ini kembali memecah pandangan antara warga kedua negara bertetangga.


Klaim Lagu Daerah dan Budaya

Kesamaan budaya antara Indonesia dan Malaysia justru menjadi bumerang relasi kedua negara.

Beberapa tahun lalu warga Indonesia ramai mengubah nama Malaysia menjadi 'Malingsia' setelah iklan pariwisata Negeri Jiran menggunakan lagu daerah Rasa Sayang-Sayange.

Warga Indonesia menuding Malaysia telah mengklaim lagu daerah asal Maluku itu sebagai milik mereka.

Sekitar pertengahan 2009 Tari Pendet khas Bali muncul dalam iklan 'Enigmatic Malaysia' di saluran televisi Discovery, hingga menyulut kecaman dari warga Indonesia. Kementerian Pariwisata Indonesia saat itu bahkan mengajukan protes resmi ke Malaysia terkait hal ini.

Setelah menjadi ramai di Indonesia, pemerintah Malaysia pun akhirnya menyampaikan permohonan maaf atas video klip yang menyertakan Tari Pendet tersebut.


Baju batik, alat musik angklung, wayang kulit, dan gamelan juga tak luput dari perseteruan kedua negara. Pada 2009 lalu, Organisasi Pendidikan, Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) memutuskan batik sebagai warisan budaya Indonesia setelah sempat diklaim merupakan budaya Malaysia.

Sementara itu, klaim Malaysia atas angklung terjadi sekitar 2010 lalu. Salah satu situs asal Negeri Jiran, www.malaysiana.pnm.my, menyebutkan bahwa angklung adalah salah satu warisan budaya Malaysia.

Klaim Malaysia atas angklung membuat sejumlah budayawan tanah air melakukan berbagai upaya untuk membuktikan bahwa angklung merupakan budaya asli Indonesia. Pemerintah Indonesia lantas mendaftarkan angklung menjadi alat musik warisan dunia ke UNESCO.

Klaim Malaysia soal wayang kulit dan gamelan mencuat di tahun yang sama. Situs pemerintah Malaysia, warisan.gov.my memasukkan wayang kulit dan gamelan ke dalam Statistik Daftar Warisan dan Warisan Kebangsaan Malaysia. Wayang kulit terdaftar dengan nomor P.U.(A) 85, sedangkan gamelan terdaftar dengan nomor P.U.(A) 78

Selain ketiga isu itu, sengketa Pulau Sipadan-Ligitan serta perbatasan, dan permasalahan TKI yang bekerja di Malaysia juga tak jarang menyulut persaingan antara kedua warga negara. (rds)