Kilas Internasional

Tokoh Abu Sayyaf Tewas hingga Pro-demokrasi Hong Kong Menang

CNN Indonesia | Selasa, 26/11/2019 06:30 WIB
Tokoh Abu Sayyaf Tewas hingga Pro-demokrasi Hong Kong Menang Ilustrasi pasukan Filipina. (AFP PHOTO / STR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tokoh Abu Sayyaf tewas dalam baku tembak di Filipina hingga kandidat pro-demokrasi unggul dalam Pemilu Hong Kong meramaikan berita internasional, Senin (25/11).

1. Tokoh Abu Sayyaf Tewas dalam Baku Tembak di Filipina

Baku tembak antara pasukan Filipina dan milisi Abu Sayyaf di Hutan Patikul, Provinsi Sulu menewaskan salah satu tokoh kelompok itu, Talha Jumsah alias Abu Talha. Dia disebut sebagai figur penghubung antara Abu Sayyaf dan kelompok Negara Islam (ISIS) untuk menggelar sejumlah aksi teror.



Seperti dilansir Associated Press, Senin (25/11), Jumsah diduga tewas dalam pertempuran di Desa Tanum pada Jumat pekan lalu. Jasadnya ditemukan sekitar satu kilometer dari lokasi baku tembak.

2. Trump Pecat Panglima AL karena Selisih soal Kejahatan Perang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump memecat Panglima Angkatan Laut Richard Spencer setelah berselisih pendapat soal pemecatan seorang anggota Navy SEAL atas kasus dugaan kejahatan perang.

[Gambas:Video CNN]

Anggota Navy SEAL itu bernama Edward Gallagher. Ia dituduh melakukan pembunuhan tingkat tinggi saat bertugas di Irak pada 2017 lalu. 

Gallagher dituding membunuh tahanan ISIS dan sejumlah warga sipil lainnya di Irak. 

3. Kandidat Pro Demokrasi Unggul dalam Pemilu Hong Kong

Sejumlah calon anggota dewan perwakilan pro demokrasi Hong Kong dilaporkan menang mutlak dalam pemilihan umum daerah yang digelar Minggu (24/11) kemarin. Mereka dilaporkan menguasai lebih dari 200 kursi dewan.

Seperti dilansir AFP, Senin (25/11), hampir setengah dari penduduk Hong Kong yang berjumlah 7,4 juta orang memutuskan menyalurkan hak pilih mereka di sejumlah tempat pemungutan suara terdekat. Sejumlah kandidat yang unggul meyakini mereka didukung oleh para penduduk yang pro demonstran yang sudah berlangsung selama enam bulan belakangan.

Mereka unggul lebih dari setengah dari 452 daerah pemilihan melawan para kandidat yang pro pemerintah China.

(dea)