Skandal Korupsi, Paus Fransiskus Ganti Kepala PPATK Vatikan

CNN Indonesia | Kamis, 28/11/2019 16:42 WIB
Skandal Korupsi, Paus Fransiskus Ganti Kepala PPATK Vatikan Pemimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus. (AFP PHOTO / Andreas SOLARO)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus, menunjuk mantan bos Bank Sentral Italia, Carmello Barbagallo, untuk mengusut penyelidikan dugaan korupsi yang sedang diusut Otoritas Informasi Keuangan (AIF) Vatikan. Akibat skandal itu, Vatikan dihukum oleh jaringan anti-pencucian uang dunia.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (28/11), Barbagallo akan mengepalai AIF menggantikan Rene Bruelhart yang dicopot sejak 1 Oktober lalu. Hal itu dilakukan terkait penyelidikan dugaan korupsi yang melibatkan perusahaan kerja sama properti di London, Inggris, oleh penyidik Vatikan.


"Saya berjanji akan memastikan sistem informasi keuangan dunia bahwa kami akan bekerja sama sesuai standar internasional," kata Barbagallo.


Barbagallo sejak 2014 mengepalai unit penyidikan kejahatan keuangan di Bank Sentral Italia. Sedangkan tugas AIF mirip dengan Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) di Indonesia.

Dalam penggeledahan oleh penegak hukum Vatikan, ditemukan ditemukan sejumlah dokumen. Dampaknya adalah Grup Egmont memutuskan menghentikan sementara layanan komunikasi khusus untuk Vatikan karena dianggap tidak bisa menepati janji untuk menyimpan kerahasiaan dan keamanan data.

Penyidik menyatakan mereka mencium aroma rasuah terkait pembelian saham di perusahaan properti mewah oleh sekretariat jenderal Vatikan pada 2012. Namun, di kemudian hari Vatikan menyadari mereka harus menanggung utang dalam jumlah besar, sebesar EUR10 juta (sekitar Rp155 miliar).

Kasus ini kembali membuka cela pengelolaan keuangan Vatikan. Sebab, mereka juga sedang berusaha menghapus reputasi sebagai wilayah surga pajak bagi para konglomerat dan entitas bisnis dunia untuk menyembunyikan kekayaan.

[Gambas:Video CNN]

AIF baru mengetahui hal itu pada Maret 2019, setelah transaksi selesai. Namun, Menteri Luar Negeri Vatikan, Monsignor Edgar Pena Parra, melaporkan dugaan transaksi mencurigakan itu kepada AIF.

Hal itu membuat AIF dan lembaga intelijen keuangan di Amerika Serikat, Inggris, Italia, Luxembourg dan Swiss bergerak mengusut arus keuangan transaksi pembelian saham itu. Akan tetapi, diduga kasus ini juga terjadi akibat kesalahpahaman antara kejaksaan Vatikan dan AIF.

Hal ini membuat proses penyelidikan yang dilakukan AIF dan lima lembaga intelijen keuangan menjadi terhenti. Di sisi lain, kewenangan AIF juga dipertanyakan karena mereka tidak mempunyai pengawas oleh pemerintah Vatikan, dan penggunaan anggarannya juga tidak dikontrol.

Ada dugaan penyelidikan AIF sengaja dibuat kacau akibat kepentingan sejumlah kelompok.

Akibatnya, dua dari empat anggota dewan pengawas AIF memutuskan mundur akibat kejadian itu. Salah satunya adalah Juan Zarate, yang merupakan mantan penasihat kepresidenan Amerika Serikat bidang kontra terorisme dan mantan tenaga ahli Kementerian Keuangan AS bidang kejahatan keuangan dan pendanaan kelompok teror.


"Penggeladahan AIF membuat penyelidikan kami terganggu. Kami tidak bisa lagi melanjutkan proses reformasi yang sudah berjalan selama lima tahun," kata Zarate.

Kendati demikian, Paus Fransiskus menyatakan mendukung penggeledahan itu dan menyatakan proses reformasi keuangan masih berjalan sesuai aturan. (ayp/ayp)