ANALISIS

Konflik AS-Iran, Ancaman Petaka dari Timur Tengah

CNN Indonesia | Kamis, 09/01/2020 12:10 WIB
Jika konflik AS-Iran memburuk maka dunia bisa terseret ke dalam kekacauan. Ilustrasi pasukan Garda Revolusi Iran. (AFP/Chavosh Homavandi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perkiraan peperangan besar yang dikhawatirkan akan menyeret dunia ke ambang kehancuran menjadi menu pembuka 2020. Berawal dari perintah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyerang dan menewaskan perwira tinggi Angkatan Bersenjata Iran, Jenderal Qasem Soleimani, di Bandara Baghdad, Irak pada 3 Januari lalu.

Kawasan Timur Tengah selalu dibayangi oleh pertumpahan darah. Konflik Israel-Palestina, perang sipil di Yaman dan Suriah, sarang terorisme di Irak dan Suriah adalah beberapa contohnya. Namun, di sisi lain perseteruan Amerika Serikat dan Iran juga menjadi bom waktu bagi kawasan tersebut dan juga seluruh dunia.

Keputusan Trump supaya AS menarik diri dari perjanjian nuklir (JCPOA) 2015 yang diteken pendahulunya, Barack Obama, dua tahun lalu memicu amarah Iran. Alasannya adalah Trump menuduh Iran tetap melanjutkan program peluru kendali dan terlibat dalam sejumlah konflik di Timur Tengah.


Hal itu menjadi landasan AS menjatuhkan sanksi baru bagi Iran. Ketegangan berimbas ke wilayah Teluk Persia, yang menjadi urat nadi pengiriman minyak dunia.


Serangan yang menewaskan Soleimani bisa menjadi pembuka persoalan baru di Timur Tengah. Sebab dia dianggap sebagai salah satu perwira militer yang cukup berpengaruh di Timur Tengah. Dia sudah malang melintang membentuk dan membina hubungan dengan sejumlah milisi Syiah di daerah tersebut.

Kematian Soleimani dianggap sebagai pukulan telak bagi Iran.

"Dia yang membentuk banyak milisi Syiah di Timur Tengah. Jika dia tidak turun tangan dengan membentuk milisi, maka kemungkinan Bashar al-Assad sudah tidak berkuasa lagi akibat pemberontakan," ujar Direktur Program Studi Keamanan Dunia dan Guru Besar Politik Internasional Universitas Tufts, Prof. Richard Shultz, seperti dikutip dari Associated Press.

Shultz menganggap sampai saat ini Iran belum mempunyai pengganti sosok Soleimani. Sebab prestasinya dianggap belum ada yang menandingi.

Menurut komandan milisi di Suriah yang pernah berperang bersama, Soleimani bak singa di palagan. Dia terlibat dalam baku tembak dan tidak mau mengenakan rompi antipeluru.

[Gambas:Video CNN]

"Dia memberi pelajaran kepada kami bahwa kematian adalah awal kehidupan, bukan akhir," kata seorang milisi yang tidak disebutkan namanya.

Sikap Trump yang langsung menghabisi Soleimani sangat bertolak belakang dengan Obama dan George Bush Jr. Mereka juga sempat terpikir melakukan hal itu tetapi risikonya terlampau tinggi.

AS-Iran nampaknya agak mustahil bersahabat untuk saat ini. Keputusan Trump juga membawa dampak lain yang harus dipertimbangkan.

Iran juga tidak bakal tinggal diam, tetapi mereka juga harus menghitung kemampuan tempur dibandingkan AS.

Menurut peneliti Chatham House, Renad Mansour, jika tekanan yang diterima AS akibat membunuh Soleimani semakin kuat maka mereka tidak punya pilihan lain untuk hengkang dari Irak.

Konflik AS-Iran, Ancaman Petaka dari Timur Tengah(CNN Indonesia/Fajrian)

"Sangat sulit bagi pemerintah Irak untuk membiarkan keberadaan pasukan AS, sementara rezim mereka saat ini sangat dekat dengan Iran," kata Mansour.

Jika hal ini terjadi, maka Irak akan berada di bawah pengaruh Iran menyusul Suriah dan Libanon. Hal ini akan membuat keberadaan pasukan AS semakin terancam karena Iran bisa menggerakkan milisi yang loyal dengan mereka.

Meski begitu, Trump sampai saat ini disibukkan dengan urusan pemakzulan dan menyongsong pemilihan presiden.

Pembalasan Iran juga tidak melulu berupa serangan fisik. Perang di dunia maya juga bisa menjadi ancaman bagi AS, meski hal itu belum terbukti.

Yang dikhawatirkan adalah jika pecah perang terbuka, maka jalur minyak di Teluk Persia akan terganggu. Imbasnya bakal mengerek harga bahan bakar minyak yang bisa memicu krisis ekonomi di negara-negara yang sangat bergantung dengan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Kesulitan ekonomi bisa memicu keresahan sosial dan kejahatan. Jika hal itu terjadi maka bisa dipastikan banyak negara yang bakal bergolak akibat konflik yang bersumber dari AS dan Iran. (ayp)