Prediksi Alasan Trump Akhiri Konfrontasi Militer dengan Iran

CNN Indonesia | Jumat, 10/01/2020 18:44 WIB
Prediksi Alasan Trump Akhiri Konfrontasi Militer dengan Iran Ada tiga perkiraan soal sikap Presiden AS, Donald Trump, yang menyudahi konfrontasi militer dengan Iran. (NICHOLAS KAMM / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan mundur dari konfrontasi militer dengan Iran dalam pidatonya di Gedung Putih pada Rabu (8/1) lalu. Pernyataan itu disampaikan setelah Iran menyerang dua pangkalan militer AS di Irak dengan roket, pasca-serangan pesawat nirawak yang menewaskan salah satu jenderalnya, Qasem Soleimani.

Trump menuturkan AS memang memiliki kekuatan militer terbaik, tetapi bukan berarti akan digunakan untuk menyerang balik Iran.

Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Pelita Harapan (UPH), Profesor Aleksius Jemadu, memperkirakan ada tiga alasan mengapa Trump tiba-tiba bersikap seperti itu.


Pertama, Aleksius mengatakan AS kemungkinan melihat bahwa militer Iran bukan lawan setimpal dan ancaman.

"Setelah melihat akurasi militer Iran yang tidak begitu tepat ketika menyerang pangkalan AS di Irak, membuat Trump mungkin berpikir tidak ada gunanya menggunakan kekuatan militer untuk menghadapi Iran. Karena kita tidak melihat banyak korban yang jatuh atau pun kerugian yang luar biasa disebabkan oleh serangan itu," kata Aleksius kepada CNNIndonesia.com pada Jumat (10/1).

Lima hari setelah serangan drone AS menewaskan Soleimani, Iran meluncurkan belasan rudal ke pangkalan AS di Irak pada Rabu lalu. Dua roket Iran juga menghantam kedubes AS di Baghdad sehari setelahnya.

Meski begitu, tidak ada korban atau kerusakan berarti yang dilaporkan terjadi akibat serangan-serangan itu.

[Gambas:Video CNN]

Aleksius memaparkan AS menimbang bahwa kekuatan militer dalam menghadapi Iran hanya akan membuat kawasan Timur Tengah semakin rapuh. Di sisi lain, AS selama ini berupaya mati-matian untuk menjaga kawasan kaya minyak dan sekutunya itu agar bisa stabil.

"Penggunaan kekuatan militer AS terhadap Iran berisiko membuat Timur Tengah tidak stabil, sementara di kawasan itu banyak sekutu-Arab Saudi dan Israel-dan asetnya," kata Aleksius.

Alasan lainnya adalah Trump kemungkinan melihat bahwa sanksi ekonomi lebih efektif menekan Iran. Sanksi ekonomi dinilai AS mampu melemahkan rezim Iran dari dalam.

Selain itu, dia mengatakan bahwa Iran juga tidak kemungkinan tidak akan melanjutkan dan memperbesar serangan balasannya lagi terhadap AS. Sebab, menurut Aleksius, Iran juga telah mengetahui kemampuan militernya.

"Setelah melihat akurasi militer yang kurang efektif, Iran diperkirakan tidak akan coba ambil risiko lagi. Pertimbangan ekonomi juga bisa menjadi alasan Iran tak akan menyerang AS lagi karena mengerahkan kekuatan militer di saat perekonomian masih lemah tidak mudah," kata Aleksius.

Meski begitu, Aleksius menuturkan pernyataan Trump itu tak berarti bahwa pertikaian antara AS dan Iran selesai. Menurutnya, hubungan kedua negara akan kembali ke status quo, di mana Iran akan terus melakukan proxy war demi menunjukkan pengaruhnya di kawasan.

Sementara itu, papar Aleksius, AS akan terus menekan Iran terkait pengaruh dan program senjata nuklirnya yang dianggap mengancam Amerika. (rds/ayp)