Halau Ancaman Rusia di Suriah, Turki Ingin Beli Rudal Patriot

CNN Indonesia | Jumat, 21/02/2020 17:15 WIB
Halau Ancaman Rusia di Suriah, Turki Ingin Beli Rudal Patriot Sistem pertahanan rudal Patriot buatan Amerika Serikat. (JACK GUEZ / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Turki menyatakan tidak ingin berhadapan dengan Rusia dalam konflik Suriah, tetapi tetap buka kemungkinan membeli sistem rudal Patriot dari Amerika Serikat.

Dalam perang saudara di Suriah, Turki dan Rusia berada di pihak yang berseberangan. Rusia dan Iran membela rezim pemerintah Presiden Bashar Al Assad, sedangkan Turki bersama AS serta sekutu dari Eropa dan Arab membantu beberapa faksi pemberontak berbeda.

"Kami tidak memiliki niat untuk berhadapan dengan Rusia," kata Menteri Pertahanan Hulusi Akar kepada penyiar CNN Turki seperti dikutip dari AFP, Jumat (21/2).


Akar mengatakan Turki ingin membeli sistem rudal Patriot AS untuk melindungi pasukan mereka di Suriah. "Ada ancaman serangan udara terhadap negara kami," kata dia. "Mungkin bisa didukung Patriot."


Tetapi rencana pembelian Patriot akan sulit terealisasi karena Ankara lebih dulu memboyong sistem pertahanan udara S-400 Rusia.

Meski dibayangi sanksi AS, Ankara telah menerima pengiriman tahap pertama sistem pertahanan udara rudal S-400 pada Juli lalu. Dan September kemarin pengiriman tahap kedua telah rampung.

[Gambas:Video CNN]

Akar menegaskan sistem tersebut tetap akan diaktifkan. "Akan diaktifkan. Tidak ada keraguan atas hal ini."

Dia juga mengkritik langkah AS mengeluarkan Turki dari program jet tempur F-35 sebagai hukuman atas pembelian S-400. "Kami adalah mitra dalam program ini, bukan pelanggan," ujarnya.

AS menyebut sistem pertahanan udara buatan Rusia itu tidak kompatibel dengan NATO dan dapat menimbulkan ancaman bagi jet-jet F-35 Lockheed Martin Corp.


Ketegangan di Suriah terus meningkat setelah rezim Suriah yang didukung Rusia meningkatkan serangan ke barat laut Idlib, wilayah yang dikuasai pemberontak.

Awal Februari ini, 14 orang Turki tewas dalam dua serangan pasukan militer rezim di Idlib. Dua lagi terbunuh pada hari Kamis. Kata dia, pihaknya masih akan melakukan pembicaraan dengan para pejabat Rusia, sebab dua pertemuan sebelumnya belum menemukan kata sepakat.

Salah satu masalah yang dibahas adalah wilayah udara di atas Idlib dan harapan Turki agar Rusia tidak terlibat dalam serangan.


Ankara tak ingin perang berkepanjangan karena tak sanggup lagi menampung aliran pengungsi dari Suriah. Saat ini Turki menampung 3,6 juta warga Suriah yang mengungsi akibat perang.

Selain menewaskan tentara Turki, serangan rezim Suriah juga menyebabkan ratusan orang tewas dan memaksa 900 ribu orang mengungsi. Turki mengancam Damaskus akan segera menggelar operasi militer jika pasukan rezim menolak mundur. (dea)