Ketua DPR AS Minta Trump Jadi Juru Damai Demo George Floyd

CNN Indonesia | Rabu, 03/06/2020 13:32 WIB
House Speaker Nancy Pelosi, D-Calif., speaks on Capitol Hill in Washington, Wednesday, Dec. 18, 2019, after the U.S. House voted to impeach President Donald Trump on two charges, abuse of power and obstructing Congress. (AP Photo/Susan Walsh) Ketua DPR AS Nancy Pelosi. (Foto: AP Photo/Susan Walsh)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mendesak Presiden Donald Trump mendamaikan demonstrasi antirasisme menyusul kematian etnis kulit hitam, George Floyd. Dalam sepekan terakhir aksi protes damai berujung kerusuhan dan penjarahan di beberapa negara bagian.

Pelosi mencontohkan langkah mantan Presiden George W. Bush dan Obama ketika menghadapi gelombang demonstrasi.

Ketika menjabat Bush sempat menghadapi kerusuhan sipil di Los Angeles yang dikenal dengan kerusuhan Rodney King. Sementara Barack Obama ketika menjabat menghadapi krisis usai kematian etnis kulit hitam, Eric Garner yang tewas setelah leher dan dadanya ditekan oleh polisi.


"Kami berharap Presiden Amerika Serikat bisa mengikuti jejak presiden sebelum dia dengan mendamaikan keadaan dan bukan menyulut keadaan semakin memanas," ujar Pelosi seperti mengutip Associated Press.

Pelosi juga mengkritik pose Trump saat mengacungkan Alkitab sambil berdiri di depan Gereja Apiskopal St. John. Ia mengatakan Alkitab yang dibawa Trump hanya simbol untuk menolak tindakan kekerasan terhadap pedemo yang menggelar aksi damai.

Sikap Trump yang dinilai memperkeruh kondisi juga sempat menuai protes dari Kepala Kepolisian Houston, Texas, Art Acevedo.

[Gambas:Video CNN]

Acevedo meminta Trump untuk tutup mulut jika tidak memiliki pernyataan yang bisa menenangkan keadaan dan meredam aksi demonstran.

"Kepada Presiden AS atas nama seluruh polisi di negara ini, saya katakan jika Anda tidak memiliki sesuatu yang konstruktif, lebih baik tutup mulut Anda," kata Acevedo saat diwawancarai oleh CNN soal tanggapan polisi terkait respons Trump dalam menangani protes pada Senin (1/6).

Amerika Serikat dalam sepekan terakhir tengah menghadapi gelombang aksi antirasisme besar-besaran yang dipicu oleh kematian Floyd pada 25 Mei lalu. Ia meninggal kehabisan napas setelah lehernya ditekan oleh seorang anggota polisi kulit putih yang tengah berusaha menangkapnya.

Aksi protes pertama kali pecah di Minneapolis sehari setelah kematian Floyd hingga akhirnya menyebar ke seluruh penjuru AS. Demonstrasi dan gerakan solidaritas untuk Floyd dan anti-rasisme secara keseluruhan bahkan turut berlangsung di sejumlah negara Eropa, Amerika Latin, hingga Asia.

Semula protes di AS berlangsung damai namun kerusuhan tidak terelakkan di beberapa wilayah, terutama setelah oknum pedemo merusak properti kota seperti kantor CNN di Atlanta, gereja di Washington DC, dan membakar kantor polisi di Minneapolis. (AP/evn)