China Sebut Virus Corona dari Spanyol, Minta WHO Selidiki

CNN Indonesia | Senin, 06/07/2020 11:25 WIB
Medical staff members wearing protective clothing to help stop the spread of a deadly virus which began in the city, walk at the Wuhan Red Cross Hospital in Wuhan on January 25, 2020. - The Chinese army deployed medical specialists on January 25 to the epicentre of a spiralling viral outbreak that has killed 41 people and spread around the world, as millions spent their normally festive Lunar New Year holiday under lockdown. (Photo by Hector RETAMAL / AFP) Ilustrasi virus corona di China. (Hector RETAMAL / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

China menyebut virus corona (Covid-19) pertama kali terdeteksi di Spanyol

Salah satu penasihat kesehatan pemerintahan Presiden Xi Jinping, Wang Guangfa, menuturkan selain China, Badan Kesehatan Dunia (WHO) seharusnya turut memasukkan Spanyol ke dalam tempat yang patut diselidiki mengenai awal mula kemunculan Covid-19.

Klaim tersebut diutarakan Wang berdasarkan temuan sejumlah peneliti di Barcelona yang menyatakan bahwa mereka mendeteksi kemunculan Covid-19 dalam sampel air limbah di kota itu pada Maret 2019 lalu, atau sembilan bulan sebelum kasus corona menyebar di Wuhan, China.


Tim virologi Universitas Barcelona telah menguji air limbah sejak pertengahan April 2019 demi mengidentifikasi potensi kemunculan wabag baru. Tim peneliti akhirnya memutuskan menguji sampel air limbah dari beberapa bulan sebelumnya.

Setelah Barcelona mengonfirmasi kasus pertama corona sekitar Februari 2020, tim virologi tersebut kembali menguji sampel air limbah yang diambil antara Januari 2018-Desember 2019. 

INFOGRAFIS AGAR TAK TERTULAR VIRUS CORONAFoto: CNN Indonesia/Fajrian

Genom virus Covid-19 lalu ditemukan pada salah satu sampel air limbah yang diambil pada 12 Maret 2019. Tim juga menemukan lebih banyak genom virus tersebut pada 15 Januari 2020 atau enam minggu sebelum kasus pertama corona terdeteksi di Spanyol.

Namun, banyak ahli yang meragukan temuan tim virologi Universitas Barcelona itu. Para ahli independen menganggap temuan itu cacat dan bertentangan dengan bukti kuat selama ini yang menyatakan bahwa virus Covid-19 pertama kali muncul di China sekitar Desember 2019.

"Penjelasan yang paling masuk akal adalah sampel (air limbah itu) telah terkontaminasi atau tercampur," kata Profesor Francois Balloux, Direktur UCL Genetics Institute di London, Inggris, seperti dilansir The Telegraph.

Asal mula kemunculan virus Covid-19 memang masih diperdebatkan. China selama ini dituding tidak transparan terkait awal mula virus itu terdeteksi dan menyebar di negaranya.

Sebab, selama ini pemerintah China tidak pernah melakukan penyelidikan menyeluruh terkait awal mula kemunculan virus serupa SARS tersebut. 

Pemerintahan Presiden Xi Jinping selama ini meyakini kasus virus corona pertama kali terdeteksi di pasar tradisional di Kota Wuhan yang menjual binatang liar untuk dikonsumsi. 

Tanpa melakukan penyelidikan lebih lanjut, China mengklaim bahwa virus itu diyakini bersumber dari daging binatang liar yang kerap dikonsumsi seperti kelelawar.

Baru-baru ini, WHO berencana mengirim tim ke China pekan depan untuk mengidentifikasi sumber kemunculan virus corona yang kini telah menginfeksi lebih dari 11 juta orang di seluruh dunia itu.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhamnom Ghebreyesus, tak menjelaskan siapa saja yang akan bergabung dalam tim itu dan misi spesifik mereka. Namun, WHO sebelumnya dikabarkan telah mengadakan pembicaraan dengan China sejak awal Mei lalu untuk merencanakan penyelidikan ini.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]