Dukung Israel Aneksasi Tepi Barat, Warga Palestina Ditangkap

CNN Indonesia | Selasa, 14/07/2020 14:08 WIB
Arab Israelis and their supporters carry a Palestinian (R) and an Israeli flag during a demonstration to protest against the 'Jewish Nation-State Law' in the Israeli coastal city of Tel Aviv on August 11, 2018. The banner in Arabic and Hebrew reads Ilustrasi bendera Israel dan Palestina. (AHMAD GHARABLI / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pihak berwenang Palestina menangkap beberapa warga yang menyatakan dukungan terhadap pencaplokan wilayah Tepi Barat oleh Israel.

Dukungan tersebut dinyatakan para warga Palestina itu dalam sebuah tayangan stasiun televisi Israel yang ditayangkan pada awal Juni lalu.

Dalam tayangan itu, beberapa warga Palestina di Tepi Barat menyatakan harapan mereka menjadi warga Israel jika rencana pencaplokan oleh pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terjadi.


"Saya ingin kartu identitas Israel," kata seorang warga Palestina yang diwawancarai tersebut. "Saya tidak melihat Israel sebagai musuh, pemerintah mereka adalah musuh," ucap seorang lainnya seperti dikutip AFP.

Sementara itu, orang ketiga yang diwawancarai mengaku tak takut untuk menyatakan dia lebih memilih Israel ketimbang Palestina di depan umum.

Ketiga warga Palestina itu diwawancarai secara diam-diam dengan kamera tersembunyi. Dalam tayangan itu, identitas dan wajah disamarkan oleh stasiun televisi tersebut.

Seorang warga Palestina mengaku kerabatnya yang ada di tayangan tersebut telah ditahan selama beberapa minggu terakhir oleh polisi Palestina. Ia menuturkan kerabatnya akan segera menghadapi proses persidangan.

Individu tersebut juga menyatakan dukungannya terhadap aneksasi meski ada ketakutan akan ditangkap oleh pihak berwenang Palestina. Dia tetap berharap "bahwa Israel akan memberikan kewarganegaraan" bagi mereka setelah pencaplokan resmi berlangsung.

Tzvi Yehezkeli, seorang wartawan Israel ternama yang membuat laporan itu, mengaku ada enam orang Palestina yang ia wawancara mendukung aneksasi Tepi Barat.

Yahezkeli merasa terkejut lantaran meski telah mengaburkan wajah narasumbernya, pihak Palestina masih bisa menangkap mereka.

Ia merasa bertanggung jawab atas penangkapan narasumbernya itu.

Sementara itu, sejumlah sumber pemerintah Palestina menolak kabar soal penangkapan tersebut.

"Kami belum menangkap siapa pun sehubungan dengan kasus ini," ucap juru bicara Kementerian Dalam Negeri Palestina, Ghassan Nimr.

Juru bicara Kepolisian Palestina Louay Arzeikat juga membantah ada orang yang ditahan akibat tayangan itu.

Rencana aneksasi Tepi Barat dijanjikan Netanyahu dalam kampanye pemilu pada Maret lalu. Ia menjanjikan akan secara resmi mencaplok wilayah Tepi Barat jika ia dan partainya kembali terpilih lagi mendominasi pemerintahan.

Netanyahu sebelumnya berencana memulai proses aneksasi pada 1 Juli lalu. Namun, dia menunda pencaplokan tersebut dengan alasan pemerintahnya tengah berfokus menghadapi ancaman gelombang kedua virus corona (Covid-19).

Selain akibat pandemi, rencana aneksasi tampaknya tertunda karena mendapat kecaman sangat keras dari dunia internasional.

Rencana aneksasi ini bagian dari rangkaian proposal perdamaian Israel-Palestina kontroversial yang digagas Trump. Proposal itu dinilai bias dan lebih menguntungkan Israel, sekutu lama AS di Timur Tengah.

(rds/dea)

[Gambas:Video CNN]