Pertemuan di Afghanistan Setujui Pembebasan Tahanan Taliban

CNN Indonesia | Minggu, 09/08/2020 22:59 WIB
Pertemuan besar warga di Afghanistan menyetujui pembebasan ratusan tahanan Taliban. Resolusi ini disahkan pada hari terakhir pertemuan tradisional tetua suku. Ilustrasi: Pertemuan besar warga di Afghanistan menyetujui pembebasan ratusan tahanan Taliban. Resolusi ini disahkan pada hari terakhir pertemuan tradisional tetua suku. (Foto: AFP/STR)
Jakarta, CNN Indonesia --

Ribuan warga Afghanistan pada Minggu (9/8) menyetujui pembebasan sekitar 400 tahanan Taliban, termasuk tahanan yang terlibat dalam serangan yang menewaskan sejumlah warga Afghanistan dan orang asing lainnya.

Resolusi pembebasan para tahanan disahkan pada hari terakhir Loya Jirga yang dilangsungkan selama tiga hari. Loya Jirga adalah pertemuan tradisional tetua suku Afghanistan dan pemangku kepentingan lain yang diadakan untuk memutuskan masalah kontroversial.

"Untuk menghilangkan rintangan untuk memulai pembicaraan damai, menghentikan pertumpahan darah, dan untuk kebaikan publik, Jirga menyetujui pembebasan 400 tahanan seperti yang diminta oleh Taliban," ujar seorang anggota pada pertemuan tersebut.


Dilansir dari AFP, resolusi tersebut menyatakan setiap warga negara asing di antara tahanan harus diserahkan ke negara masing-masing.

"Keputusan Loya Jirga telah menghilangkan alasan dan hambatan terakhir dalam perjalanan menuju pembicaraan damai. Kami berada di ambang pembicaraan damai," kata Abdullah Abdullah, yang ditunjuk oleh pemerintah untuk memimpin perundingan dengan Taliban.

Nasib para tahanan menjadi hambatan krusial dalam proses dialog damai antara kedua belah pihak yang bertikai. Keduanya berkomitmen untuk menyelesaikan pertukaran tahanan sebelum pembicaraan bisa dimulai.

Pemerintah Afghanistan telah membebaskan hampir 5.000 narapidana Taliban, tapi pihak berwenang setempat menolak pembebasan tahanan terakhir yang diminta oleh Taliban.

Menurut daftar resmi yang didapatkan AFP, banyak narapidana dituduh melakukan pelanggaran serius, dengan lebih dari 150 di antaranya dijatuhi hukuman mati.

Daftar itu juga mencakup 44 pemberontak yang memiliki perhatian khusus terhadap Amerika Serikat dan negara-negara lain atas peran mereka dalam serangan-serangan "tingkat tinggi".

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo mendorong pembebasan para tahanan meski ia mengakui bahwa keputusan ini merupakan hal yang "tidak populer".

(ans/NMA)

[Gambas:Video CNN]