DPR AS Ungkap Hasil Penyelidikan Kecelakaan 737 MAX

CNN Indonesia | Kamis, 17/09/2020 17:15 WIB
Komisi Transportasi Dewan Perwakilan AS menemukan sejumlah kekeliruan dalam proses sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX 8. Ilustrasi pesawat Boeing generasi 737 MAX 8. Komisi Transportasi Dewan Perwakilan AS menemukan sejumlah kekeliruan dalam proses sertifikasi pesawat Boeing 737 MAX 8. (Stephen Brashear/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Komisi Transportasi pada Dewan Perwakilan Amerika Serikat menyatakan perusahaan pembuat pesawat, Boeing, dan Badan Penerbangan Sipil AS (FAA), tidak melakukan tindakan semestinya terhadap masalah yang dialami pesawat seri 737 MAX, yang akhirnya memicu dua kecelakaan maut.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (17/9), kesimpulan itu tertuang dalam hasil laporan penyelidikan komisi tersebut atas proses sertifikasi Boeing 737 MAX, terkait kecelakaan maut yang dialami maskapai Lion Air JT610 pada Oktober 2018 dan Ethiopian Airlines 302 pada Maret 2019. Sebanyak 346 orang meninggal dalam kejadian itu.

Dalam laporan setebal 246 halaman itu, Komisi Transportasi Dewan Perwakilan AS menyatakan insiden itu terjadi sebagai puncak kegagalan pengawasan dari pemerintah (FAA), cacat dalam rancang bangun, dan sikap Boeing yang tidak mengambil langkah semestinya meski sudah mengetahui masalah yang terjadi.


Komisi tersebut menyatakan persetujuan FAA untuk memberikan status layak terbang untuk 737 MAX tidak sesuai. Namun demikian, baik Boeing dan FAA menyatakan proses sertifikasi sudah sesuai aturan.

"Fakta bahwa dua pesawat itu mengalami kecelakaan dalam rentang waktu kurang dari lima bulan adalah bukti nyata bahwa aturan yang ada saat ini secara mendasar mempunyai celah kekeliruan dan harus diperbaiki," demikian isi laporan tersebut.

Ketua Komisi Transportasi Dewan Perwakilan AS, Peter DeFazio, menyoroti harus ada perubahan dari sisi landasan hukum untuk membenahi masalah itu, serta melakukan reformasi di tubuh FAA.

"Jelas sistemnya tidak memadai. Kami akan mengadopsi reformasi yang signifikan," tulis DeFazio.

Laporan itu dilakukan oleh komisi tersebut setelah melakukan penyelidikan selama 18 bulan terkait dua kecelakaan maut itu. Pesawat itu dilarang terbang setelah kecelakaan yang terjadi terhadap Ethiopian Airlines.

Sejak itu Boeing membenahi masalah teknis di pesawat itu, dan berharap 737 MAX bisa diperbolehkan terbang kembali pada 2021.

Para penyelidik dan anggota Komisi Transportasi menyoroti tentang bagaimana cara Boeing bisa mendapatkan sertifikasi pesawat 737 MAX dengan jam berlatih pilot yang minim. Mereka mendapatkan pernyataan bahwa Boeing meyakinkan FAA bahwa pesawat itu hanya pemutakhiran dari generasi 737 sebelumnya.

Akan tetapi, Boeing menyematkan perangkat lunak Sistem Augmentasi Karakteristik Manuver (MCAS) di 737 MAX. Sistem itu bekerja secara otomatis untuk menurunkan bagian hidung pesawat ketika terbang guna menghindari kehilangan daya angkat udara.

Ternyata, para pilot yang menerbangkan 737 MAX tidak diberitahu tentang sistem itu. Boeing beralasan perangkat itu dipasang karena pesawat seri tersebut memiliki mesin yang lebih besar dan berkekuatan lebih tinggi dan ditempatkan lebih maju dari posisi dari pesawat seri sebelumnya, sehingga cenderung membuat hidung pesawat selalu terangkat ketika mengudara dan dikhawatirkan kehilangan daya angkat.

Dalam dua kecelakaan itu, penyelidik menemukan bukti bahwa sistem MCAS selalu memerintahkan hidung pesawat turun, dan membuat pilot kesulitan mempertahankan ketinggian hingga akhirnya jatuh.

Penyelidik juga menemukan sejumlah bukti bahwa Boeing menyembunyikan informasi tentang MCAS kepada FAA dan maskapai yang mengoperasikan pesawat itu.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa Boeing yang berkantor pusat di Chicago tidak memberi tahu bahwa perangkat MCAS menggunakan sensor tunggal untuk mengukur sudut kemiringan hidung pesawat ketika terbang. Mereka juga tidak terus terang menyatakan bahwa perangkat yang seharusnya memberitahu pilot malfungsi saat sensor itu tidak bekerja di sebagian besar 737 MAX.

(FILES) In this file photo taken on March 11, 2019 The Boeing Company logo is seen on a building in Annapolis Junction, Maryland. - Boeing announced July 3, 2019it would give $100 million to communities and families affected by two crashes on its 737 MAX planes that claimed 346 lives. Describing the sum as an Ilustrasi logo Boeing. (AFP Photo/Jim Watson)

Selain itu, ternyata dari hasil penyelidikan ditemukan bahwa Boeing sudah mengetahui kalau pilot uji mereka butuh waktu lebih dari 10 detik untuk mengetahui ternyata sensor itu tidak bekerja. Hal itu dinilai fatal ketika terjadi saat pesawat mengudara.

Menurut aturan FAA, seharusnya pilot bereaksi terhadap kondisi itu dalam waktu empat detik.

Di dalam laporan itu juga disebutkan bahwa empat karyawan Boeing yang menjadi perwakilan di FAA sudah mengetahui tentang lambannya reaksi pilot terhadap malfungsi sensor MCAS. Namun, penyelidik menemukan mereka tidak melaporkan hal itu kepada FAA.

Padahal, menurut penyelidik, masalah serupa sudah pernah muncul pada 2016. Namun, saat itu laporan tersebut tidak sampai ke FAA.

Boeing, tulis laporan itu, dilaporkan sengaja tidak memberitahu tentang rincian MCAS kepada FAA, supaya mereka tidak perlu melakukan pelatihan terhadap pilot. Sebab, hal itu dinilai akan merusak promosi penjualan pesawat tersebut karena mereka meyakini pilot yang pernah menerbangkan pesawat seri 737 sebelumnya tidak perlu menjalani pelatihan untuk pesawat baru itu.

"Penyelidik menemukan bahwa di bawah kontrak 2011 dengan maskapai Southwest Airlines, Boeing harus menurunkan USD1 juta dari harga setiap 737 MAX jika pelatihan simulator disertakan dalam penjualan," demikian isi laporan itu.

Cover Rekam Jejak Boeing 737 Max(CNN Indonesia/Fajrian)

"Hal itu memicu serangkaian pengambilan keputusan yang buruk di dalam tubuh Boeing, dan FAA juga tidak menyadari hal itu," tulis DeFazio.

DeFazio menambahkan, Boeing diketahui sepakat tidak membahas persoalan MCAS di luar perusahaan dalam sebuah rapat pada 2013. Padahal, panduan penggunaan MCAS pernah masuk ke dalam materi latihan pilot, tetapi kemudian dihapus oleh perwakilan Boeing.

Dalam sebuah pernyataan, Boeing menyatakan mereka akan belajar dari kesalahan dan akan memperkuat budaya keselamatan di perusahaan. Mereka menyatakan sudah melakukan perbaikan berdasarkan masukan Komisi Transportasi dan para pakar.

"Perubahan memang sulit dan butuh komitmen, tetapi sebagai perusahaan kami berdedikasi untuk melakukannya," demikian isi pernyataan Boeing.

FAA juga menyatakan akan melakukan perbaikan secara internal dan berdasarkan masukan independen.

"Usulan ini fokus terhadap kemajuan keamanan penerbangan secara menyeluruh dengan memperbaiki organisasi, proses dan budaya kami," demikian isi pernyataan FAA.

(Associated Press/ayp)

[Gambas:Video CNN]