Inflasi Tinggi, PBB Sebut Warga Gaza Terpaksa Mengais Sampah

CNN Indonesia | Selasa, 13/10/2020 10:19 WIB
Badan Bantuan PBB untuk Palestina (UNRWA) mengatakan sejumlah penduduk Jalur Gaza harus mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah akibat kemiskinan. Ilustrasi anak Palestina. Badan Bantuan PBB untuk Palestina (UNRWA) mengatakan sejumlah penduduk Jalur Gaza harus mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah akibat kemiskinan. (AFP PHOTO / Jaafar ASHTIYEH)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badan Bantuan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Palestina (UNRWA) mengatakan sejumlah penduduk di Jalur Gaza sampai harus mengais sisa-sisa makanan di tempat sampah akibat kemiskinan dan kesulitan ekonomi sebagai dampak pandemi virus corona.

"Di Gaza, penduduk sampai harus mengais sampah. Banyak penduduk harus berjuang keras untuk bisa memberi makan satu sampai dua kali dalam sehari kepada keluarga mereka. Ada keputusasaan dan putus harapan," kata Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, seperti dilansir The Guardian, Senin (12/10).

Dia mengatakan seluruh pengungsi Palestina di Libanon, Suriah, Yordania dan tempat lainnya mengalami kesulitan yang sama. Namun di Gaza, mereka tidak hanya menghadapi inflasi, tetapi juga blokade dari Mesir dan Israel.


Lazzarini ditunjuk memimpin lembaga itu pada April lalu. Saat dia menjabat, organisasi itu dalam kesulitan keuangan karena Amerika Serikat sebagai salah satu pendonor utama memutuskan memangkas jumlah sumbangan sebesar US$300 juta.

Alasannya adalah untuk menekan Palestina supaya mau melanjutkan perundingan damai dengan Israel. Selain itu, Presiden AS, Donald Trump, marah karena merasa tidak dihargai oleh penduduk Palestina yang terus mengecam keputusannya terkait Israel.

Pandemi virus corona semakin mempersulit kondisi para pengungsi Palestina. Apalagi UNRWA dibebani tugas untuk mengurus 5.6 juta pengungsi Palestina di sejumlah kamp pengungsian yang tersebar di beberapa negara.

Rencana Israel untuk mencaplok sebagian kawasan Tepi Barat dan Lembah Yordania juga dikhawatirkan akan mengganggu kegiatan UNRWA yang berpusat di Amman, Yordania.

Di sisi lain, lembaga itu juga dibelit skandal. Pendahulu Lazzarini, Pierre Krähenbühl, mengundurkan diri setelah dibelit tuduhan menyalahgunakan kewenangan, menerapkan kebijakan diskriminatif dan nepotisme. Namun, Krähenbühl membantah seluruh tudingan tersebut.

Lazzarini mengatakan kondisi organisasi yang dia pimpin saat ini mirip kapal yang akan karam. "Sangat tidak stabil, lingkungan kerja juga labil," kata dia.

"Kami butuh UNRWA organisasi dan pendanaan yang stabil. Saat ini kami dalam kondisi keuangan kami sedang krisis. UNRWA saat ini terus kekurangan uang," ujar Lazzarini.

(The Guardian/ayp)

[Gambas:Video CNN]