Protes UEA-Israel Damai, Penulis Arab Tolak Ikut Penghargaan

CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2020 19:05 WIB
Sejumlah penulis buku di Arab menolak terlibat dalam ajang penghargaan IPAF sebagai protes normalisasi hubungan UEA-Israel. Ilustrasi penulis. Sejumlah penulis buku di Arab menolak terlibat dalam ajang penghargaan IPAF sebagai protes normalisasi hubungan UEA-Israel. (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah penulis di kawasan Timur Tengah menolak terlibat dalam ajang Penghargaan Internasional Buku Fiksi Arab (IPAF) dan Anugerah Buku Sheikh Zayed yang dibiayai oleh Uni Emirat Arab (UEA).

Mereka beralasan hal itu sebagai bentuk protes karena UEA memutuskan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.

Seperti dilansir Middle East Monitor, Selasa (24/11), protes itu disampaikan oleh 17 juara IPAF, anggota dewan juri dan sejumlah penulis yang masuk dalam nominasi. Mereka mendesak untuk menghentikan bantuan pendanaan dari UEA dengan alasan mempertahankan independensi ajang itu.


Salah satu penulis yang juga akademisi asal Palestina, Khaled Hroub, menyatakan dia tidak mau lagi dikaitkan dengan ajang penghargaan karya literasi yang didanai oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata UEA. Hroub yang merupakan salah satu pendiri IPAF menyatakan perjanjian normalisasi hubungan antara UEA dan Israel sangat mengejutkan dan menyedihkan bagi rakyat Palestina.

"Saya banyak memiliki sahabat di UEA selama bertahun-tahun dalam banyak kegiatan seperti pameran buku dan festival di negara itu. Hal ini tentu berkontribusi terhadap kebudayaan Arab," kata Hroub.

"Namun, saat ini semuanya menjadi tidak jelas dan digantikan oleh Israel. Apa yang Anda pelajari dari segi budaya, pendidikan dan seni dari negara yang menindas bangsa lain?," lanjut Hroub.

Ajang penghargaan IPAF diluncurkan di Abu Dhabi pada 2007 silam, yang merupakan hasil kolaborasi dengan Yayasan Booker dari Inggris yang juga mempunyai ajang anugerah bagi penulis buku-buku fiksi.

UEA dan Bahrain memutuskan melakukan normalisasi hubungan dengan Israel, dengan perantaraan Amerika Serikat, pada Agustus lalu.

Mereka menjadi negara di kawasan Arab ketiga dan keempat yang mengakui kedaulatan Israel, setelah Mesir pada 1979 dan Yordania pada 1994.

Kesepakatan itu memicu kecaman keras dari Palestina dan Iran. Mereka menyatakan perjanjian itu mengabaikan hak asasi manusia dan tidak sejalan dengan keinginan Palestina yang ingin merdeka.

(Middle East Monitor/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK