Putin Tak Kunjung Disuntik Vaksin Corona yang Disetujui

CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 19:30 WIB
Presiden Rusia, Vladimir Putin, tak kunjung menjalani vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Sputnik V, walau sudah disetujui. Presiden Rusia, Vladimir Putin. (AFP/ALEXEI DRUZHININ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia, Vladimir Putin, sampai saat ini tak kunjung menjalani vaksinasi virus corona (Covid-19) dengan vaksin Sputnik V.

Padahal, Putin secara langsung menyetujui penggunaan vaksin buatan dalam negeri.

Seperti dilansir CNN, Rabu (25/11), Putin yang kini berusia 68 tahun termasuk dalam kelompok umur yang rentan jika terinfeksi Covid-19. Putin mengatakan anak perempuannya sudah lebih dulu sudah menjalani vaksinasi dengan vaksin Sputnik V.


Juru Bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, memberikan alasan mengapa Putin tak kunjung menjalani vaksinasi adalah karena Sputnik V belum disertifikasi dan belum melewati uji tahap akhir. Namun, dia tidak menjelaskan secara rinci perbedaan antara vaksin yang mendapat sertifikasi dengan yang disetujui.

"Presiden tidak bisa menggunakan vaksin yang belum disertifikasi. Vaksinasi massal juga belum dimulai. Dan tentu saja kepala negara tidak bisa ambil bagian dalam proses vaksinasi sebagai relawan. Itu tidak mungkin," kata Peskov.

Padahal, vaksin Sputnik V sudah diberikan kepada sejumlah petugas medis di Rusia yang menangani kasus Covid-19, guru, serta sejumlah pejabat tinggi. Proses vaksinasi itu juga dilakukan di luar tahap uji klinis.

Peskov mengatakan tahap uji vaksin Sputnik V akan segera selesai, dan Putin bakal menyampaikan kepada rakyat apakah akan menggunakan vaksin itu jika dibutuhkan.

Putin mengumumkan persetujuan penggunaan vaksin Sputnik V untuk masyarakat umum pada Agustus lalu, meski saat itu baru diuji pada sejumlah subjek. Pengumuman itu juga dilakukan menjelang uji klinis tahap tiga, yang harus dilakukan untuk memastikan keamanan dan kemanjuran vaksin itu.

Sikap Putin itu memicu keraguan dari para ilmuwan dunia.

"Saya tahu bahwa itu (Sputnik V) bekerja dengan efektif, dan membentuk kekebalan tubuh yang stabil," kata Putin saat itu.

Salah satu anak perempuan Putin yang disuntik vaksin itu dilaporkan sempat mengalami demam, tetapi kondisinya berangsur membaik.

Sementara itu, uji vaksin terhadap kelompok usia 60 ke atas di Rusia dilakukan pada 28 Oktober lalu.

Kabar tentang Putin yang tidak kunjung disuntik vaksin Sputnik V muncul bersamaan dengan informasi perihal harga hingga efektivitas vaksin itu.

Institut Gamaleya yang mengembangkan vaksin Sputnik V, dan Lembaga Pembiayaan Rusia (RDIF) yang menggelontorkan anggaran riset menyatakan vaksin itu terbukti mencapai efektivitas hingga 91.4 persen. Data itu diperoleh dari hasil analisis selama 28 hari setelah penerima mendapat suntikan pertama, dan pengamatan selama tujuh hari setelah penerima mendapat suntikan yang kedua.

Para peneliti menyatakan mereka mengidentifikasi 39 kasus kekebalan Covid-19 di antara para relawan. Sebanyak 31 berada dalam kelompok penerima placebo, dan delapan lainnya berada di kelompok yang menerima vaksin.

Sampai saat ini dilaporkan ada 18.794 relawan yang menjalani vaksinasi Sputnik V.

(CNN/ayp)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK