Ahli Ungkap Soal Israel di Balik Tewasnya Ilmuwan Nuklir Iran

CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 14:08 WIB
Ahli mengungkan kemungkinan keterlibatan Israel di balik tewasnya ilmuwan nuklir Iran. Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan nuklir Iran yang tewas dalam penembakan yang diklaim merupakan pembunuhan yang dirancang Israel (AP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Para pakar intelijen dan keamanan membongkar kemungkinan keterlibatan Israel di balik pembunuhan yang menewaskan ilmuwan nuklir penting di Iran.

Sejumlah pakar mengaku skeptis bahwa ilmuwan nuklir Iran, Mohsen Fakhrizadeh yang tewas pada Jumat (27/11) terbunuh lewat operasi serangan jarak jauh oleh Israel.

Sebelumnya, Iran menyebut salah satu ilmuwan nuklir mereka tewas terbunuh akibat ditembak menggunakan senapan mesinyang dikendalikan dari jarak jauh dari sebuah mobil.


Mohsen dikabarkan ditembak setidaknya tiga kali dan pengawalnya juga ikut tertembak. Setelah itu, mobil yang ditumpanginya pun meledak.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Laksamana Ali Shamkhani menuding Israel sebagai pihak yang berada di balik pembunuhan tersebut.

Dilansir CNN, Selasa (1/12), meski mengaku memiliki bukti bahwa Israel berada di balik pembunuhan Mohsen, tapi hingga saat ini Iran belum menunjukkan bukti apa pun. 

Israel pun belum mengklaim sebagai pihak yang bertanggung jawab dan Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak berkomentar.

Mohsen merupakan kepala pusat penelitian teknologi baru di Garda Revolusi elite dan tokoh terkemuka dalam program nuklir Iran.

Alasan skeptisisme atas klaim Iran

Lebih lanjut, para pakar membeberkan sejumlah alasan yang melatari ketidakpercayaan atas klaim Iran itu.

1. Penembakan jarak jauh adalah operasi yang berisiko tinggi.

Sebab, operasi ini sulit untuk dilakukan dan hanya menyisakan sedikit ruang untuk terjadi kesalahan.

"Secara umum, itu (senjata jarak jauh) adalah perangkat yang bisa efektif dalam keadaan tertentu. Anda menyelesaikan masalah dengan (tidak) terlalu dekat dengan target. Ini cukup akurat. Anda mesti banyak berlatih dan Anda bisa menciptakan situasi yang stabil ketika ada banyak bagian yang bergerak," terang seorang pakar keamanan Israel yang tidak ingin disebutkan namanya karena sensitivitas masalah tersebut.

"Saya tidak berpikir bahwa (senjata kendali jarak jauh) digunakan dalam kasus ini," tambahnya.

Lebih lanjut, para ahli menerangkan selama operasi itu sendiri, tidak ada peralatan yang boleh gagal karena tidak akan ada orang di lokasi untuk memperbaikinya, begitu pula kegagalan komunikasi, pistol yang macet, maupun perangkat penghancur mobil yang tidak meledak.


Setiap kegagalan tunggal dapat membahayakan seluruh upaya pembunuhan dan meninggalkan teknologi di sisi jalan untuk dicegat oleh pasukan keamanan Iran.

Selain itu, Jack Watling, ahli pertahanan di Royal United Service Institute mengatakan serangan ini tidak efektif untuk serangan terhadap satu target.

"Itu tidak akan berhasil dalam kasus ini (pembunuhan Mohsen)," ujarnya.

Namun, ia tak menepis kalau pembunuhan dengan senjata otomatis memang mungkin dilakukan secara teori. Tapi, hal ini punya risiko kegagalan yang besar karena potensi salah sasaran lebih besar.

2. Banyak hal yang harus diselundupkan dan disiapkan diam-diam.

Para ahli mengatakan jika pembunuhan dilakukan oleh negara lain, maka pelaku harus menyelundupkan sejumlah teknologi.

Pelaku mesti menyiapkan relai komunikasi, alat untuk menerima data satelit, dan senjata yang dapat dioperasikan dari jarak jauh.

Untuk menghindari pendeteksian petugas, peralatan tersebut kemungkinan harus diselundupkan sedikit demi sedikit. Lantas, semua peralatan yang dikirim dari luar itu mesti dirakit di Iran. Selama proses tersebut, peralatan pun harus disimpan secara diam-diam di suatu tempat.

3. Keraguan soal ledakan mobil.

Agensi berita semi-resmi Iran, Fars, mengklaim kendaraan yang digunakan dalam pembunuhan tersebut meledak. Jika benar demikian, semacam bahan peledak mobil yang diaktifkan dari jarak jauh juga harus disimpan dengan aman.

Penembakan jarak jauh bisa dilakukan siapa saja

Teknologi untuk menembak target dari kendaraan yang dikendalikan dari jarak jauh bukanlah hal baru. Rafael, perusahaan pertahanan Israel yang mengkhususkan diri dalam persenjataan, menjual Samson 30 Remote Weapon System ke lebih dari 25 negara lain. Itu bukanlah satu-satunya sistem yang ada di pasaran.

Jerman, Spanyol, Amerika Serikat, Australia, dan negara lainnya juga memproduksi sistem serupa.

"Itu adalah sesuatu yang sudah kami miliki di militer. Kami memiliki senapan mesin yang dikendalikan dari jauh," kata pensiunan Brigjen. Jenderal Nitzan Nuriel, mantan direktur Biro Kontra-Terorisme Israel.

Tapi dia mencatat itu bukan berarti Israel bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

"Kami memiliki kemampuan observasi di sekitar Gaza yang juga memiliki kemampuan untuk menembak, dan dikendalikan dari jarak jauh. Ini bukan sesuatu yang Anda harus meminta seseorang untuk melakukannya," tambahnya.

Berdasarkan sumber anonim Press TV, pers yang dikelola pemerintah Iran, otoritas setempat memiliki bukti senjata yang digunakan untuk membunuh Mohsen.

Senjata itu disebut memiliki logo dan spesifikasi industri militer Israel. Tapi pejabat Iran belum menunjukkan bukti itu atau menunjukkan gambar untuk mengonfirmasi keterlibatan Israel.

Menurut media Fars, Mohsen dan istrinya sedang bepergian menggunakan mobil antipeluru di kota Absard, timur Teheran. Mereka dikelilingi oleh petugas keamanan dengan tiga kendaraan.

Fars melaporkan bahwa Mohsen mendengar suara peluru mengenai mobilnya dan ia pun keluar dari mobil untuk menyelidikinya sendiri. Ketika turun, dia ditembak sebanyak tiga kali dari mobil Nissan yang berjarak 150 meter, Nissan itu pun meledak.

Sementara kantor berita semi-resmi mahasiswa Iran melaporkan bahwa mobil Mohsen terkena tembakan diikuti oleh ledakan dan kembali diberondong dengan tembakan.

Lalu outlet televisi pemerintah, IRIB, melaporkan bahwa terjadi ledakan terlebih dahulu kemudian diikuti oleh tembakan dari penyerang.

(ans/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK