Aktivis Perempuan Arab Saudi Disiksa 2,5 Tahun di Penjara

CNN Indonesia | Selasa, 01/12/2020 15:43 WIB
Seorang aktivis perempuan di Arab Saudi dilaporkan disiksa secara fisik dan seksual selama 2,5 tahun di penjara. Ilustrasi. Aktivis perempuan di Arab Saudi mengaku disiksa fisik dan seksual saat di penjara. (iStockphoto/Milan Markovic)
Jakarta, CNN Indonesia --

Aktivis perempuan Arab Saudi, Loujain al-Hathloul (31), dilaporkan disiksa secara fisik dan seksual selama 2,5 tahun di penjara.

Selain itu, kasusnya kini dipindahkan ke persidangan di Pengadilan Kriminal Khusus untuk kasus terorisme dan keamanan nasional, seperti disampaikan pihak keluarga, Rabu (25/11).

Pihak keluarga juga mengatakan kondisi Al-Hathloul tampak lemah saat persidangan kemarin lantaran tengah melakukan mogok makan selama dua pekan terakhir dari penjara.

Dilansir Associated Press, Kamis (26/11), Al-Hathloul dan aktivis perempuan Saudi lainnya ditahan pada 2018. Mereka mengaku dianiaya secara fisik dan seksual saat ditahan oleh integrator bertopeng.


Para aktivis tersebut mengaku mereka dicambuk di punggung dan paha, disetrum, dan disiram air. Beberapa perempuan mengatakan mereka disentuh dan diraba secara paksa, dipaksa untuk berbuka puasa selama bulan suci Ramadan, dan diancam dengan pemerkosaan dan kematian. Bahkan, salah satu aktivis mencoba bunuh diri di penjara.

Ketika sebagian besar aktivis telah dibebaskan untuk menunggu persidangan, Al-Hathloul dan tiga aktivis perempuan lainnya tetap dipenjara. Kelompok hak asasi manusia yang melacak persidangan mengatakan hanya kasus al-Hathloul yang dirujuk ke Pengadilan Kriminal Khusus.

Menurut keluarga Al-Hathloul, otoritas Saudi mengatakan kepada Al-Hathloul bahwa dia dapat dibebaskan jika dia menandatangani pernyataan yang menyangkal klaim pelecehan. Ketika Al-Hathloul menolak, dia dimasukkan ke sel isolasi.

Dilansir AFP,belum ada komentar langsung dari pemerintah Saudi terkait perpindahan persidangan Al-Hathloul.

Pemerintahan Raja Salman berkeras memproses kasus Al-Hathloul meski tekanan dunia internasional memaksa Saudi membebaskan perempuan itu.

Dalam sebuah laporan awal tahun ini, kelompok pemerhati HAM, Amnesty International, mengatakan pengadilan khusus Saudi itu kerap digunakan untuk membungkam suara-suara pengkritik kerajaan dengan kedok memerangi terorisme.

"Pemerintah Saudi bisa saja memutuskan mengakhiri mimpi buruk dua tahun pembela HAM Loujain al-Hathloul yang pemberani ini. Tapi, sebaliknya, Saudi malah memindahkan kasusnya ke sebuah institusi yang biasa membungkam perbedaan pendapat dan terkenal karena menjatuhkan hukuman yang lama," kata aktivis Amnesty International, Lyn Maalouf.

Al-Hathloul sudah sejak lama menjadi pembela hak-hak perempuan di Arab Saudi dan ini bukan pertama kalinya dia ditahan.

Pada 2014, dia ditahan selama lebih dari 70 hari setelah dia menyiarkan secara langsung dirinya sedang mengemudi dari Uni Emirat Arab (UEA) ke Arab Saudi. Saat itu, perempuan masih dianggap ilegal untuk mengemudikan kendaraan di kerajaan.

Dia ditangkap oleh otoritas Saudi saat berusaha melintasi perbatasan dan kemudian dibebaskan tanpa pengadilan.

Keluarga Al-Hathloul mengatakan, pada 2018 tak lama setelah menghadiri pertemuan PBB di Jenewa tentang situasi hak-hak perempuan di Arab Saudi, dia diculik oleh pasukan keamanan Emirat di Abu Dhabi, tempat ia tinggal dan menempuh gelar master. Dia dipaksa naik pesawat ke Saudi dan dilarang bepergian ke luar negeri sebelum akhirnya ditangkap beberapa bulan kemudian.

(ans/eks)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK