Kritik Vaksin Covid Sinovac di Tiga Negara

CNN Indonesia
Jumat, 18 Des 2020 16:10 WIB
Vaksin corona Sinovac buatan perusahaan farmasi China menuai kritik di sejumlah negara yang memesan. Kritik tersebut datang dari Brasil, Filipina, dan Kamboja.
Ilustrasi vaksin Sinovac. (AP/Ng Han Guan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Vaksin corona Sinovac buatan perusahaan farmasi asal China menuai kritik di sejumlah negara yang memesannya. Kritik tersebut datang dari Brasil, Filipina, dan Kamboja.

Hingga saat ini, belum diketahui data keamanan dan efikasi (kemanjuran) dari uji klinis tahap ketiga vaksin Sinovac.

Hal ini berbeda dari Pfizer yang telah mengeluarkan data efikasi yaitu 90 persen efektif, dan Moderna dengan klaim tingkat efektifitas hingga 94,5 persen.

Padahal, tingkat efikasi menjadi unsur penentu bagi pihak berwenang untuk mengeluarkan izin penggunaan darurat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejauh ini, negara-negara yang menyatakan kesediaan untuk menggunakan vaksin itu yakni Indonesia, Brasil, Turki, Kamboja, dan Filipina.


Sinovac sendiri telah melakukan uji klinis di Indonesia dan Brasil.

Di Indonesia, Sinovac menggelar uji klinis fase ketiga sejak Agustus 2020. Sudah ada 1.620 relawan yang mendapatkan suntikan pertama dan 1.610 yang disuntik kedua. Uji klinis tersebut berlangsung di Bandung, Jawa Barat.

Sementara di Brasil, Sinovac bekerja sama dengan Institut Butantan di Sao Paulo. Institut Butantan adalah pusat penelitian biomedis dan pembuat vaksin di Brasil.

Uji klinis tahap 3 diikuti oleh sekitar 13 ribu relawan. Setelah hasil uji klinis diumumkan, Brasil akan mulai melakukan vaksinasi pada akhir Maret mendatang.

Namun upaya penggunaan vaksin Sinovac bukan tanpa tantangan. Muncul pro dan kontra atas pembelian vaksin tersebut.

Brasil

Otoritas kesehatan Brasil, Anvisa, pada Senin (14/12) menuduh Sinovac menggunakan kriteria yang "tidak transparan" untuk mendapatkan persetujuan atas penggunaan vaksin CoronaVac.

"Kriteria yang diterapkan China untuk memberikan otorisasi penggunaan darurat (vaksin) di China tidak transparan," kata Anvisa dalam sebuah pernyataan.


Anvisa, yang awal Desember lalu sempat mengirim tim untuk mengunjungi pabrik Sinovac di Beijing, juga memperingatkan soal pengaruh geopolitik terkait vaksin itu.

Selain mendapatkan tuduhan oleh Anvisa, Sinovac juga tak luput dari pusara konflik di Brasil. Vaksin itu telah menjadi sumber perseteruan antara Presiden Jair Bolsonaro, Gubernur Sao Paulo Joao Doria, dan pemerintah China.

Bolsonaro bahkan meremehkan vaksin itu dengan menjulukinya "vaksin China Joao Doria".

Filipina

Sementara di Filipina, pemerintah setempat menuai kritik dari parlemen lantaran tengah merampungkan kesepakatan pembelian 25 juta dosis vaksin Sinovac.

Kepala Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Filipina, Carlito Galvez Jr. mengatakan pengadaan vaksin itu rencananya akan berlangsung pada Maret 2021 mendatang.

Dilansir Philippines Lifestyle, Kamis (17/12), kritik itu disampaikan oleh Senator Risa Hontiveros. Dia mengatakan seharusnya pemerintah Filipina membeli vaksin yang terbukti ampuh secara ilmiah ketimbang alasan politis.

"Ada beragam permasalahan yang ada di sekitar vaksin yang ditawarkan China, termasuk keterbukaan data dan hasil uji klinis, efek samping seperti yang kita lihat di Peru dan bahkan sejarah tindak pidana suap yang dilakukan perusahaan itu," kata Hontiveros melalui pernyataan pers.

Surat kabar The Washington Post melaporkan bahwa direktur Sinovac mengakui dirinya melakukan tindak pidana suap.

Bahkan, Hontiveros juga menyinggung sikap Presiden Rodrigo Duterte terhadap China yang dinilainya kerap bias.

"Jangan korbankan kesehatan rakyat Filipina dengan sikap Presiden yang bias terhadap China, yang terus menerus menolak keputusan Mahkamah Internasional di Den Haag (soal klaim kepemilikan Laut China Selatan) dan melanggar perairan kita," ucap Hontiveros.

Kamboja

Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengatakan negaranya belum akan menggunakan vaksin Sinovac untuk vaksinasi warganya.

Menurut Hun Sen, negaranya tidak akan menerimavaksin corona yang tidak disertifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Padahal sudah kesepakatan antara Kamboja dan China untuk pengadaan vaksin Sinovac.

"Kamboja bukan tempat sampah dan bukan tempat untuk uji coba vaksin," ujarnya dikutip dariNikkei Asia merujuk pada kesepakatan antara Kamboja dan China terkait kerja sama vaksin Sinovac.

WHO sejauh ini memang belum menyetujui kandidat vaksin Covid-19 mana pun, termasuk Sinovac.

Dilansir Nikkei Asia, China disebut telah berjanji untuk mendukung upaya vaksin Covid-19 di Kamboja selaku sekutu terdekat di kawasan.

Pada Agustus, Perdana Menteri China Li Keqiang mengatakan kepada negara-negara Mekong bahwa mereka akan diberikan prioritas setelah vaksin yang dikembangkan China siap digunakan.

Hal ini turut digaungkan oleh Menteri Luar Negeri Wang Yi saat berkunjung ke Kamboja pada Oktober.

The Khmer Times pada Senin melaporkan bahwa duta besar China di Kamboja telah melakukan kontak dengan pemerintah tentang potensi distribusi vaksin tersebut.

Sen mengatakan pihaknya telah memesan stok vaksin melalui program fasilitas COVAX yang didukung Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Program ini bertujuan mensubsidi vaksin bagi 92 negara di dunia yang berpenghasilan rendah.

Program yang dijalankan oleh Aliansi Vaksin Gavi tersebut akan memberikan dukungan bagi negara-negara miskin untuk memperoleh vaksin bagi 20 persen populasi mereka.

Secara keseluruhan, Sen mengatakan pemerintahnya berharap bisa memperoleh 26 juta dosis untuk memvaksinasi 13 juta dari 16 juta warganya secara gratis.

Perwakilan Kamboja di WHO, Li Ailan mengatakan kepada media lokal bahwa dia berharap vaksin akan tersedia di Kamboja pada awal 2021 atau pertengahan tahun.

(ans/dea)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER