Survei Ungkap Diplomasi Vaksin China Gagal Raih Simpati ASEAN

CNN Indonesia | Rabu, 10/02/2021 13:15 WIB
Hasil jajak pendapat Pusat Studi ASEAN dan Institut ISEAS-Yusof Ishak memperlihatkan diplomasi vaksin China tidak mampu meraih simpati Asia Tenggara. Ilustrasi vaksin corona buatan China. (AP/Ng Han Guan)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hasil jajak pendapat yang dilakukan Pusat Studi ASEAN dengan Institut ISEAS-Yusof Ishak di Singapura memperlihatkan diplomasi vaksin yang dilakukan China tidak mampu meraih simpati penduduk di kawasan Asia Tenggara.

Dilansir Nikkei Asia, Rabu (10/2), jajak pendapat itu digelar pada 18 November 2020 hingga 10 Januari 2021, dengan melibatkan 1.032 responden termasuk akademisi, pejabat pemerintah dan pelaku usaha di sepuluh negara anggota di Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Dari hasil survei itu, 44.2 persen peserta menyatakan China mengirimkan jumlah bantuan yang besar bagi negara-negara Asia Tenggara di masa pandemi, mengalahkan Jepang dengan 18.2 persen responden, Uni Eropa dengan 10.3 responden dan terakhir Amerika Serikat dengan 9.6 persen responden.


Saat ini China bersikap jemput bola (proaktif) untuk mengikat kesepakatan penjualan vaksin Covid-19 dengan sejumlah negara.

Contohnya Indonesia yang sudah mendapatkan 3 juta dosis vaksin siap pakai serta 25 vaksin curah dari perusahaan farmasi China Sinovac Biotech. Vaksin itu sudah disetujui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk digunakan dalam keadaan darurat.

Sedangkan Filipina dan Malaysia masing-masing membeli 25 juta dosis dan 14 juta dosis vaksin dari Sinovac.

Selain itu, pemerintah Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, menjanjikan akan memberikan 300 ribu dosis vaksin corona gratis untuk Myanmar.

Akan tetapi ketika disinggung soal sikap mereka terkait perseteruan antara Amerika Serikat dan China, sebanyak 61.5 persen responden memilih mendukung AS.

Persentase dukungan terhadap AS naik 7.9 persen sejak survei yang sama digelar tahun lalu.

"Dukungan dari kawasan itu (Asia Tenggara) untuk Washington menguat hasil dari prospek pemerintahan Presiden Joe Biden," demikian isi laporan survei itu.

Dari hasil jajak pendapat itu juga terungkap bahwa meski negara-negara di Asia Tenggara melihat China semakin berkembang, tetapi mereka justru khawatir dengan pengaruh negara itu.

Dalam rincian hasil survei itu dijabarkan sebanyak 76.3 persen responden mengatakan kekuatan ekonomi China sangat mempengaruhi wilayah itu.

Sedangkan 80 persen responden di Laos, Thailand, Singapura, Myanmar dan Kamboja juga menyatakan pengaruh perekonomian China lebih besar ketimbang Amerika Serikat, Jepang atau Uni Eropa.

Meski begitu, 72.3 persen responden justru cemas dengan peningkatan pengaruh perekonomian China.

Dalam bidang politik, 49.1 persen responden menyatakan pengaruh diplomasi China di kawasan Asia Tenggara sangat kuat. Sementara 30.4 persen responden mengatakan pengaruh politik luar negeri AS juga terasa di Asia Tenggara.

Akan tetapi, dari para responden yang mengakui pengaruh politik China sangat kuat di Asia Tenggara, 88.6 persen justru cemas dengan hal itu.

Sekitar 46,3 persen responden meyakini China hendak mencengkeram Asia Tenggara dalam bidang politik dan ekonomi. Persentase itu naik dari tahun lalu yang mencatatkan 38,2 persen.

Selain itu, 31,5 persen responden mengatakan mereka melihat China perlahan-lahan mulai mengambil alih pengaruh AS di Asia Tenggara. Persentase itu menurun jika dibandingkan data pada 2020 yang mencapai dari 34,7 persen.

Dalam hal kancah politik global, 63 persen responden mengatakan mereka hanya mempunyai sedikit keyakinan dan bahkan tidak percaya sama sekali kalau China akan membuat kebijakan yang baik bagi masyarakat dunia.

Persentase itu naik dari angka tahun lalu yang mencapai 51.5 persen.

Sementara responden yang meyakini China akan memberikan sumbangsih positif bagi dunia mencapai 16.5 persen, menurun dari persentase dua tahun lalu yang mencapai 19.6 persen.

Dalam survei itu, 67.1 persen responden menyatakan Jepang adalah negara yang paling dipercaya di kawasan Asia Tenggara. Mereka berharap Negeri Sakura memberikan kebijakan yang baik bagi dunia.

Sementara itu, terlihat peningkatan rasa percaya dari responden terhadap Amerika Serikat dan Uni Eropa, masing-masing sebesar 48.3 persen dan 51 persen.

"Merosotnya tingkat kepercayaan kawasan itu terhadap China terus terjadi. China adalah satu-satunya negara besar yang mengalami peningkatan persentase negatif dari 60.4 persen pada 2020 menjadi 63 persen pada 2021," demikian isi keterangan terkait hasil survei itu.

"Sebagian besar was-was bahwa China bisa menggunakan kekuatan ekonomi dan militer untuk mengancam kepentingan dan kedaulatan negara mereka," lanjut pernyataan hasil jajak pendapat itu.

(ayp/ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK