Ancaman Taliban dan Perang Saudara Afghanistan Sepeninggal AS

CNN Indonesia | Jumat, 16/04/2021 11:00 WIB
Amerika Serikat bakal menarik pasukannya dari Afghanistan. Hal ini dinilai kurang tepat karena berpotensi memicu perang saudara dan kembali berkuasanya Taliban. Tentara AS yang tengah bertugas di Afghanistan. (AP/David Guttenfelder)
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah hampir 20 tahun bercokol di Afghanistan, Amerika Serikat berencana menarik seluruh tentaranya. Presiden AS Joe Biden menargetkan penarikan pasukan itu paling lambat pada 11 September 2021 atau tepat 20 tahun serangan teror pada menara kembar WTC di New York.

Serangan teror itu jadi pemicu perburuan besar-besaran pada anggota Al Qaidah di bawah komando Osama bin Laden yang dituding jadi dalang penyerangan.

Biden menyatakan Afghanistan bukan lagi jadi prioritas negaranya saat ini.


Dilansir dari CNN, sejumlah warga Afghanistan menanggapi berbeda soal rencana penarikan pasukan AS ini. Ada yang senang dan ada pula yang khawatir Taliban akan kembali berkuasa usai sepeninggal AS. Berkuasanya Taliban berarti kebebasan sipil akan kembali terkekang.

Mohammad Edriss, seorang warga Kabul, mengatakan penarikan pasukan itu bukan sebuah keuntungan bagi mereka.

"Akan ada kekerasan, ketidakamanan akan meningkat secara dramatis," kata aktivis LSM asing di ibu kota Afghanistan itu.

Ia juga memperkirakan warga Afghanistan akan mulai keluar untuk mencari suaka di negara lain.

Banyak orang Afghanistan khawatir Taliban akan berkuasa tanpa kehadiran militer AS. Saat ini, kelompok tersebut memerangi pemerintah Afghanistan yang didukung AS dan sudah menguasai sebagian besar wilayah pedesaan di luar kota.

CNN melaporkan pertempuran melonjak tahun ini, bahkan ketika Taliban dan negosiator pemerintah tengah intensif membahas perdamaian.

Laporan PBB menyebut jumlah sipil yang tewas dan terluka meningkat 29 persen dalam tiga bulan pertama tahun ini dibandingkan tahun lalu. PBB menyebut kelompok anti-pemerintah bertanggung jawab atas sebagian besar korban.

Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menghormati keputusan AS untuk menarik pasukannya.

A U.S. soldier arrives at the scene where a suicide car bomber attacked a NATO convoy in Kabul, Afghanistan on May 16, 2013. A Muslim militant group, Hizb-e-Islami, claimed responsibility for the powerful explosion that killed and wounded many and rattled buildings across Kabul. (AP Photo/Anja Niedringhaus, File)Salah satu tentara AS yang bertugas di Afghanistan. Foto: AP/Anja Niedringhaus

Namun Ketua Parlemen Mir Rahman Rahmani khawatir pada potensi perang saudara di Afghanistan.

Menurutnya, warga memang ingin pasukan AS pergi, namun bukan sekarang karena belum waktunya.

"Ada kemungkinan kembalinya perang saudara dan ini akan mengubah Afghanistan menjadi pusat terorisme internasional," kata Rahmani seperti dikutip dari Tolo News.

Kekhawatiran juga dinyatakan oleh Fatima Gailani, salah satu negosiator damai pemerintah dengan Taliban. Fatima adalah satu dari empat wanita yang jadi anggota tim negosiator.

Fatima dengan tegas menyebut bahwa penarikan diri dari Afghanistan sebelum ada perdamaian adalah perbuatan yang tak bertanggung jawab.

Ia juga khawatir bakal ada perang saudara setelah militer AS hengkang nanti.

Kebebasan kaum perempuan jadi salah satu isu di Afghanistan. Di masa rezim Taliban, ruang gerak kaum hawa dibatasi.

Di bawah pemerintahan Taliban pada akhir 1990-an, para perempuan dikucilkan dari pendidikan dan kebanyakan tidak dapat bekerja atau bahkan meninggalkan rumah tanpa wali laki-laki.

In this photo taken on September 29, 2020, disc jockey Habiba Quraishi, 19, speaks during a broadcast at the Merman radio station in Kandahar. - Once the epicentre of the Talibans iron-fisted Islamist government, Kandahar city in Afghanistan's restive south is slowly transforming into a vibrant urban centre dotted with bustling cafes, co-ed universities -- and even a women's gym. (Photo by WAKIL KOHSAR / AFP) / TO GO WITH Afghanistan-conflict-Kandahar-culture,FOCUS by Elise BLANCHARDSeorang DJ perempuan di Afghanistan, Habiba Quraishi, tengah diwawancara di sebuah stasiun radio. Kebebasan perempuan jadi sesuatu yang mahal di era rezim Taliban. (Photo by WAKIL KOHSAR / AFP) 


Kelonggaran pada perempuan ada sejak Taliban digulingkan pada 2001.

Dosen salah satu kampus swasta di Balkh, Fawzia Ahmadi, mengatakan pekerjaannya saat ini sudah lama ia impikan dan tidak pernah terwujud saat rezim Taliban.

"Kami memiliki kenangan buruk tentang rezim Taliban, perempuan tidak diizinkan pergi ke sekolah atau universitas dan kami bahkan tidak bisa pergi ke pasar sendirian," katanya.

Di bawah pemerintah Afghanistan yang didukung negara Barat saat ini, hak-hak perempuan telah dilindungi.

Karena itu Fawzia mengatakan penarikan tentara AS membuat bayang-bayang Taliban kembali menghantui.

Hal sedikit berbeda dikatakan oleh Sayed Shaheer, seorang mahasiswa Universitas Kabul. Menurutnya, pemerintah Afghanistan saat ini sudah lebih kuat.

Karena itu ia yakin pemerintah bisa melawan Taliban dan mempertahankan kebebasan yang selama ini diraih.

"Kami dapat membangun kembali negara kami dan kami akan memiliki perdamaian. Pasukan keamanan dan pertahanan kami lebih kuat dari sebelumnya," katanya.

(CNN/sur)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK