ANALISIS

Latihan Militer RI-China dan Bandul Stabilitas Perairan Asean

CNN Indonesia | Selasa, 11/05/2021 20:48 WIB
Latihan perang TNI AL dan AL China dinilai sebagai bentuk diplomasi dan menjadi daya tawar Indonesia dalam mempertahankan kedaulatan. Ilustrasi latihan perang TNI AL dan Angkatan Laut China. (Arsip Koarmada I)
Jakarta, CNN Indonesia --

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) menggelar pelatihan dengan kapal perang Angkatan Laut China pada 8 Mei di Laut Jawa.

Kegiatan itu menimbulkan banyak pertanyaan mengingat China pernah menerobos perairan Natuna tahun lalu, dan berkonflik dengan sebagian negara Asia Tenggara, karena klaim wilayah di Laut China Selatan.

Panglima Komando Armada I, Laksamana Muda TNI AL Abdul Rasyid menyatakan latihan atau passing exercise dengan kapal Tiongkok merupakan kegiatan latihan yang lumrah dilaksanakan oleh angkatan laut negara-negara di dunia.


Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, mengatakan pelatihan tersebut lazim. Sebab, pasukan angkatan laut harus saling mengenal.

Dengan adanya kerja sama itu kedua negara juga dapat saling belajar, saling mengenal dan saling mengantisipasi.

"Dengan kerja sama, kita (Indonesia) bisa saling belajar, kita mengetahui doktrin dia (China), strategi dia, dan belajar juga koordinasi dengan angkatan lain," ujar Rezasyah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (11/5).

Menurutnya langkah China dengan mendekati Indonesia melalui diplomasi TNI AL dinilai tulus. Pasalnya, China terbiasa menerapkan hubungan multi-aktor dengan pemerintah, dunia usaha dan kalangan profesi.

Kerja sama berupa pelatihan itu, kata Rezasyah, sudah direncanakan jauh-jauh hari. Hal tersebut diharapkan dapat berlanjut ke tingkat yang lebih serius.

"Untuk itu kan harus dibahas secara mendalam oleh kedua negara dan membuat nilai tambah bagi Angkatan Laut masing-masing, juga tidak menjadi kecaman bagi negara-negara lain," ujarnya.

Ia yakin, setelah adanya latihan gabungan dengan China minggu ini, tak menutup kemungkinan ada pelatihan dari negara lain. Misal Korea Selatan atau Jepang.

Menurut Pengamat Hubungan Internasional, Universitas Pelita Harapan, Aleksius Jemadu, pelatihan gabungan itu merupakan hal yang baik karena melalui pengawasan TNI.

"Jadi screening mereka juga harus ketat supaya kerja sama itu harus lolos dari screening standar yang susah diterapkan," ujarnya.

Selain untuk kepentingan terbatas di bidang militer, latihan gabungan itu berguna untuk memperkuat kerja sama yang dibutuhkan.

Indonesia dan China diketahui saling ketergantungan. Indonesia butuh China, pun sebaliknya. Bentuk ketergantungan itu berupa stabilitas kawasan.

"Kita menjaga stabilitas di Asia Tenggara tanpa mengisolasi China," kata Aleksius.

Latihan gabungan itu bukan berarti Indonesia berpihak kepada China, di tengah ketegangan yang meningkat antara negara itu dengan sejumlah negara.

"Kita (Indonesia) juga buka (pelatihan) dengan militer Amerika Serikat. Jadi masih dalam koridor politik bebas aktif."

Jika hanya pelatihan gabungan dari kedua negara adidaya itu, negara pimpinan Jokowi, menggunakan perannya sebagai negara bebas aktif. Dengan memberi catatan, dilarang membangun pangkalan militer di wilayah Indonesia.

Latihan itu juga menguntungkan kedua negara. Bagi Indonesia dapat belajar banyak hal termasuk teknologi dan strategi kemiliteran China, bagi Negeri tirai bambu itu dapat mencari jalan tengah kalau suatu waktu melintasi perairan Natuna.

Januari tahun lalu, Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI memergoki puluhan kapal ikan beserta kapal penjaga pantai dan kapal fregat China menerobos wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna.

Selain menerobos, kapal-kapal China itu juga mengambil ikan di wilayah ZEE Indonesia.

Bakamla RI sempat melakukan pengusiran terhadap kapal-kapal China itu. Kendati sempat menjauh, kapal-kapal tersebut kembali memasuki perairan Indonesia.

RI melayangkan nota protes. Namun, China menyatakan negaranya memiliki hak historis dan berdaulat atas perairan di sekitar Kepulauan Nansha di Laut China Selatan, yang dianggap pemerintah Indonesia masih wilayah ZEE miliknya.

Latihan Militer RI-China dan Bandul Stabilitas Perairan Asean

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK