ANALISIS

Menelisik NATO yang Baru Serius soal Perubahan Iklim

CNN Indonesia | Kamis, 17/06/2021 17:08 WIB
Pertama kali dalam sejarah eksistensinya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mulai serius memasukkan persoalan global tentang perubahan iklim. Ilustrasi armada laut pasukan NATO. (AP/Uncredited)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pertama kali dalam sejarah eksistensinya, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), mulai serius memasukkan persoalan global tentang perubahan iklim ke dalam pertemuan tingkat tinggi atau KTT.

Hasilnya, dalam pertemuan di Brussels, Belgia, 14 Juni 2021, persekutuan militer negara-negara barat tersebut memasukkan upaya melawan perubahan iklim dan dampak-dampaknya seperti banjir dan kekeringan dalam komunike KTT itu.

Seperti dilansir Reuters pada awal pekan ini, dalam komunike tersebut NATO memasukkan pertimbangan perubahan iklim ke dalam spektrum kerja penuhnya, mulai dari perencanaan pertahanan, pengembangan kemampuan, hingga kesiapsiagaan dan latihan sipil.


Amerika Serikat, Prancis dkk dalam pertemuan di markas pusat NATO itu menyepakati rencana aksi iklim untuk mewujudkan emisi karbon militer hingga 2050.

Mengapa NATO yang sejak berdiri pascaperang dunia II atau 1949 silam baru memasukkan secara serius persoalan perubahan iklim ke dalam hasil pembicaraan mereka?

Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah menilai hal tersebut tak lepas dari kiprah Amerika Serikat (AS) yang kini dipimpin Presiden Joe Biden.

"Jadi ide-ide baru dibuat tapi pada saat yang sama kekompakan antaranggota NATO itu selalu dipelihara, dan yang paling bisa melakukan itu ya Amerika Serikat," kata Rezasyah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Selasa (15/6).

Menurut Rezasyah, posisi Biden itu pun mendobrak kepemimpinan AS di muka dunia yang selama periode sebelumnya di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memunggungi persoalan perubahan iklim dan pemanasan global.

Satu yang paling terlihat adalah ketika resmi menjabat Presiden AS, Biden membawa negara itu kembali masuk ke dalam traktat perubahan iklim Paris.

"Jadi tepat ketika peran Biden besar itu pasti. Karena sebagai pemimpin baru dia harus mencari isu-isu baru," ujar Rezasyah.

Resolute support spokesman Brigadier General H.Cleveland (R) talks with an Afghan National Army (ANA) soldier at the Shaheen 209th military corps training center in Mazar-i-Sharif on April 26, 2016. There are around 13,000 NATO troops stationed in Afghanistan, officially in a training and advisory role since the end of their combat mission in 2014.  / AFP PHOTO / WAKIL KOHSARPotret Pasukan NATO di Afghanistan. (AFP Photo/Wakil Kohsar)

Pendapat Rezasyah itu pun sejalan dengan pemikiran sejumlah diplomat senior NATO di Brussels.

Salah seorang diplomat senior Eropa kepada Reuters mengatakan fokus bersama mereka melawan perubahan iklim terhalang selama Trump berkuasa di AS.

Dia yang tak mau namanya disebutkan itu menyatakan Trump pun pernah mempersulit dengan mengungkapkan kurang kepercayaan pada NATO, dan mengancam menarik AS dari aliansi militer tersebut 2018 silam.

Dan, sekarang dengan dipimpin Biden--yang semula juga menjadi Wakil Presiden AS selama periode kepemimpinan Barrack Obama--NATO pun mulai dapat bertindak atas persoalan perubahan iklim sebagai ancaman.

"Ini adalah tantangan yang menentukan di zaman kita, dan kita harus menjadi organisasi yang memimpinnya," katanya awal pekan ini.

Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenber--yang juga mantan utusan khusus PBB untuk perubahan iklim--pun secara tak langsung terlibat untuk kali pertama NATO serius soal dampak dari pemanasan global tersebut.

Dalam pidatonya pada September 2020 silam, Stoltenberg mendorong NATO untuk serius akan perubahan iklim, karena Biden telah menggantikan Trump.

Pengaruh Militer Barat pada Pemanasan Global

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK