Malaysia Pertimbangkan Campur Dua Vaksin untuk Tambah Efikasi

CNN Indonesia | Kamis, 17/06/2021 20:59 WIB
Pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan mencampur dua vaksin Covid-19 berbeda untuk meningkatkan efikasi. Ilustrasi. (iStockphoto/Vladans)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pemerintah Malaysia tengah mempertimbangkan mencampur dua vaksin Covid-19 berbeda untuk meningkatkan efikasi.

Menteri Sains Malaysia, Khairy Jamaluddin, mengatakan bahwa metode yang disebut "vaksinasi heterologi" ini sudah mulai diteliti di berbagai negara.

Menurutnya, data-data sejauh ini menunjukkan metode menggabungkan dua jenis vaksin tersebut dapat meningkatkan antibodi dan efikasi untuk melawan varian Covid-19 yang beragam.


"Kami punya data nyata dari Jerman mengenai vaksinasi heterologi menggunakan AstraZeneca untuk dosis pertama dan vaksin Pfizer untuk dosis kedua, menunjukkan peningkatan antibodi dan lebih efektif melawan varian-varian," ujar Khairy, seperti dikutip Malay Mail.

Meski demikian, Khairy menegaskan bahwa pemerintah masih terus menghimpun data mengenai pencampuran dua vaksin ini. Khairy mengatakan bahwa pemerintah tak mau mengambil keputusan dengan terburu-buru.

"Data mengenai vaksinasi heterologi ini masih terus masuk, dan ketika kelompok kerja teknis sudah paham betul mengenai itu, mereka akan menginformasikan komite yang saya ketuai dengan Menteri Kesehatan," ujar Khairy.

Sebagaimana dilansir The Straits Times, ia kemudian berkata, "Setelah semua pertimbangan, kami baru akan menerapkan vaksinasi heterologi."

[Gambas:Video CNN]

Saat ini, Malaysia sedang menggenjot program vaksinasi. Pemerintah Negeri Jiran berharap Malaysia dapat mencapai herd immunity Covid-19 pada akhir tahun ini.

Sementara itu, Malaysia masih berjuang menekan laju peningkatan kasus Covid-19. Kini, mereka masih menerapkan lockdown.

Setelah lockdown berlaku, kasus harian Covid-19 di Malaysia memang berkurang. Namun, pemerintah Malaysia tak akan mencabut lockdown sampai kasus harian di bawah 4.000.

Meski kasus berkurang, tim medis Malaysia memang menganggap jumlah Covid-19 masih tinggi. Rumah sakit pun masih kewalahan melayani pasien Covid-19.

(has)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK