1BestariNet, Program Belajar Daring Malaysia Berujung Kisruh

CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 16:54 WIB
Malaysia menggagas program belajar daring dan pengadaan perangkat TIK, 1BestariNet, tetapi dihentikan karena tidak sesuai harapan. Ilustrasi. (Barn Images)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI, Nadiem Makarim, membuat program membagikan laptop dan perangkat teknolog informasi-komunikasi (TIK) lain ke sekolah-sekolah.

Rencana itu tertuang dalam program Digitalisasi Sekolah Kemendikbud Ristek dengan anggaran Rp17 triliun. Pengadaan itu terdiri dari laptop, titik akses (access point), konektor, layar proyektor, pengeras suara aktif, perute Internet (router) dan platform belajar virtual.

Sejumlah pengamat mengkritik efektivitas program itu. Sebab, program Nadiem tetap tidak menggapai sekolah-sekolah daerah yang tak memiliki koneksi Internet.


Pengamat pendidikan Indra Charismiadji mewanti-wanti pemerintah jangan sampai program laptop Nadiem ini tidak tepat sasaran. Ia membandingkan Digitalisasi Sekolah gagasan Nadiem dengan program 1BestariNet di Malaysia.

Dilansir New Straits Times, 1BestariNet merupakan mega proyek pemerintah Malaysia dan perusahaan YTL Communications yang bertujuan menyediakan konektivitas Internet dan lingkungan belajar virtual untuk 10 ribu sekolah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan membagikan chromebook dan learning management system (LSM) ke sekolah-sekolah.

Program itu memiliki anggaran RM4 miliar (sekitar Rp14 triliun) dan merupakan bagian utama dari Garis Besar Pendidikan Malaysia dalam kurun 2013 hingga 2025.

1BestariNet pertama kali dikenalkan Kemendikbud Malaysia pada 2011. Sejak awal proyek yang terbagi dalam tiga tahap itu menuai kontroversi.

Dua tahun setelah program berjalan, kendala dan kekurangan dalam proyek itu semakin terlihat. Laporan Auditor Jenderal Malaysia pada 2013 menyatakan proyek itu belum mencapai target, yakni menyediakan layanan sambungan telekomunikasi 4G berkecepatan tinggi ke sekolah-sekolah Negeri Jiran.

Sebagian besar sekolah merasa fasilitas pita lebar (broadband) yakni koneksi Internet transmisi data kecepatan tinggi dari program itu tidak memuaskan. Kesimpulan itu diperoleh dari hasil uji coba kepada 48 sekolah yang persentasenya mencapai 89.1 persen.

Sedangkan dalam hasil evaluasi dari 491 sekolah persentase keberhasilan program tahap pertama mencapai 70.3 persen.

Selain itu, 58 persen dari 501 sekolah yang disurvei mengatakan akses 1BestariNet tidak mencakup seluruh kawasan sekolah.

Permasalahan lain terdapat banyak penundaan pemasangan alat TIK dan layanan Internet. Salah satu alasannya adalah sebagian sekolah belum terpasang jaringan internet karena pemerintah daerah tak memberi izin pembangunan menara pemancar sinyal.

Kemendikbud Malaysia juga dinilai tak cukup melakukan penelitian dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan melaksanakan program itu. Termasuk dalam hal kebutuhan dan kapabilitas sekolah di masing-masing daerah menerapkan sistem belajar daring (e-learning).

1BestariNet, Sengkarut Program Belajar Daring Malaysia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK