Kapal Tanker Dibajak di Teluk Oman, Iran Diduga Terlibat

ayp, CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 21:58 WIB
Sebuah kapal tanker berbendera Panama bernama Asphalt Princess sempat dibajak saat melintas di sekitar Teluk Oman, Laut Arab. Ilustrasi. Kapal tanker berbendera Panama, Asphalt Princess, sempat dibajak saat melintas di sekitar Teluk Oman, Laut Arab. (REUTERS/RULA ROUHANA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kapal tanker berbendera Panama bernama Asphalt Princess sempat dibajak saat melintas di sekitar Teluk Oman, Laut Arab pada Rabu (4/8).

Dikutip dari Reuters, Pusat Keamanan Maritim Oman membenarkan informasi tersebut. Badan Pelayaran Perdagangan Inggris (UKMTO) menyebut kapal itu diduga dibajak tetapi para pelaku kemudian pergi. Kapal tanker pengangkut aspal atau bitumen itu dilepaskan dan dilaporkan aman.

Oman sempat mengerahkan armada angkatan laut dan pesawat angkatan udara menyusuri perairan tempat pembajakan terjadi.


"Angkatan Udara Oman melakukan beberapa kali penerbangan dekat daerah itu, dan Angkatan Laut Oman mengerahkan kapal untuk membantu mengamankan perairan internasional di wilayah itu," demikian isi pernyataan Pusat Keamanan Maritim Oman.

Menurut sumber Reuters, insiden itu melibatkan sekelompok pasukan yang diduga dibantu Iran. Namun, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, membantah laporan itu.

Menurut dia insiden pelayaran dan aksi perompak di perairan Teluk menjadi semacam bentuk perang psikologi dan menjadi arena untuk mencari pembenaran.

Situasi di perairan itu kembali memanas setelah pada pekan lalu sebuah kapal tanker kelas menengah, Mercer Street, yang dioperasikan perusahaan logistik perkapalan Israel diserang menggunakan pesawat nirawak (drone). Kapal itu berbendera Liberia dan milik sebuah perusahaan Jepang.

Sebanyak dua orang awak kapal terdiri dari warga Inggris dan Rumania meninggal dalam kejadian itu.

Iran membantah tuduhan menjadi dalang serangan terhadap kapal itu dan menyatakan siap menghadapi serangan apapun. Sedangkan Israel menyatakan tidak akan segan mengambil tindakan balasan kepada Iran.

Situasi di perairan Teluk terus memburuk sejak 2018, tepatnya ketika Amerika Serikat di masa pemerintahan Presiden Donald Trump menarik diri dari perjanjian pembatasan pengayaan uranium 2015 dan kembali menjatuhkan sanksi kepada Iran.

Sejak itu Iran mencari berbagai cara untuk menghindari tekanan dan krisis ekonomi akibat embargo AS dan juga saat menghadapi pandemi Covid-19.

(ayp/ayp)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK