Kisah Kontroversi Hagia Sophia di Era Ataturk dan Erdogan
CNN Indonesia
Senin, 18 Okt 2021 10:36 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Hagia Sophia, jadi museum di era Ataturk, diubah jadi masjid lagi di era Erdogan. (AP/Emrah Gurel)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pada Juli 2020, Presiden TurkiRecep Tayyip Erdogan secara resmi mengubah Hagia Sophia menjadi masjid dan membuatnya terbuka bagi umat Muslim untuk beribadah. Sebelumnya, gedung ini merupakan museum kala kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki.
Pengadilan Tinggi Administrasi Turki mendukung petisi yang diajukan kelompok agama di negara itu dan membatalkan dekrit 1934 yang mengubah status Hagia Sophia sebagai museum.
Keputusan untuk mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid memicu kecemasan dalam kalangan umat Kristen Ortodoks. Walaupun begitu, keputusan ini menuai respon positif bagi masyarakat Turki, dikutip dari ABC News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paus Fransiskus mengatakan dia "sangat sedih" dengan keputusan Turki. Sementara itu, Dewan Gereja Dunia menggambarkan "kesedihan dan kekecewaannya", mengingat Hagia Sophia telah menjadi "tempat keterbukaan, perjumpaan, dan inspirasi bagi orang-orang dari semua negara".
Perubahan status Hagia Sophia juga menuai respons dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
"Direktur Jenderal UNESCO sangat menyesalkan keputusan otoritas Turki, yang dibuat tanpa diskusi sebelumnya, untuk mengubah status Hagia Sophia," ujar UNESCO dalam siaran persnya, 10 Juli 2020.
Walaupun dikritik masyarakat internasional, seperti UNESCO dan para pemimpin Kristen Ortodoks, Erdogan tetap mengkonversi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.
Tak hanya itu, banyak orang menilai deklarasi situs ini sebagai masjid merupakan bentuk penandaan eksklusif untuk Muslim.
Erdogan sendiri membantah klaim ini.
"Seperti semua masjid kami yang lain, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua, penduduk lokal atau asing, Muslim dan non-Muslim," kata Erdogan.
Mengutip New York Times, masyarakat islamis dan Pan-Turki telah lama mengkampanyekan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid. Mereka beranggapan perubahan status ini dapat menyelamatkan Turki dari penghinaan di masa lampau, karena pemimpin Turki dahulu dianggap telah 'menjual jiwanya' kepada modernitas Barat.
Ungkapan yang paling jelas dari pandangan ini disampaikan oleh Necip Fazil Kisakurek, penyair dan polemis Islam paling terkemuka di Turki kala itu. Pada 29 Desember 1965, Kisakurek mengatakan keputusan Ataturk untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum adalah untuk "menempatkan semangat penting Turki di dalam museum."
Ia juga menilai kabinet Ataturk telah menyakiti negara mereka sendiri.
Sejarah Hagia Sophia baca di halaman berikutnya...
Hagia Sofia dahulu merupakan tempat ibadah umat Kristen selama hampir 1.000 tahun. Kaisar Bizantium Justinian membangun gedung ini pada abad keenam. Di katedral ini, Kaisar Bizantium dimahkotai dan menerima restu dari Gereja Ortodoks Yunani.
Setelah jatuhnya Konstantinopel, yang kini dikenal dengan Istanbul, katedral raksasa ini diubah menjadi masjid. Istanbul kala itu diperintah oleh Kekaisaran Ottoman.
Namun, setelah Kekaisaran Ottoman tumbang kala Perang Dunia I, pemerintah sekuler baru Turki, yang dipimpin Ataturk, memutuskan mengubah bangunan itu menjadi museum dan membukanya untuk turis.
Hagia Sofia dibuka sebagai museum pada 1935.
Mengubah Hagia Sofia menjadi masjid menimbulkan perdebatan dalam masyarakat Turki sendiri. Kelompok nasionalis dan konservatif Turki telah lama ingin mengadakan salat di Hagia Sofia, yang mereka anggap sebagai bagian dari warisan Muslim Ottoman.
Walaupun begitu, beberapa masyarakat beranggapan bahwa Hagia Sofia harus tetap menjadi museum, yang mana merupakan simbol solidaritas Kristen dan Muslim.
Jakarta, CNN Indonesia --
Pada Juli 2020, Presiden TurkiRecep Tayyip Erdogan secara resmi mengubah Hagia Sophia menjadi masjid dan membuatnya terbuka bagi umat Muslim untuk beribadah. Sebelumnya, gedung ini merupakan museum kala kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, pendiri Republik Turki.
Pengadilan Tinggi Administrasi Turki mendukung petisi yang diajukan kelompok agama di negara itu dan membatalkan dekrit 1934 yang mengubah status Hagia Sophia sebagai museum.
Keputusan untuk mengubah Hagia Sophia kembali menjadi masjid memicu kecemasan dalam kalangan umat Kristen Ortodoks. Walaupun begitu, keputusan ini menuai respon positif bagi masyarakat Turki, dikutip dari ABC News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Paus Fransiskus mengatakan dia "sangat sedih" dengan keputusan Turki. Sementara itu, Dewan Gereja Dunia menggambarkan "kesedihan dan kekecewaannya", mengingat Hagia Sophia telah menjadi "tempat keterbukaan, perjumpaan, dan inspirasi bagi orang-orang dari semua negara".
Perubahan status Hagia Sophia juga menuai respons dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO).
"Direktur Jenderal UNESCO sangat menyesalkan keputusan otoritas Turki, yang dibuat tanpa diskusi sebelumnya, untuk mengubah status Hagia Sophia," ujar UNESCO dalam siaran persnya, 10 Juli 2020.
Walaupun dikritik masyarakat internasional, seperti UNESCO dan para pemimpin Kristen Ortodoks, Erdogan tetap mengkonversi Hagia Sophia dari museum menjadi masjid.
Tak hanya itu, banyak orang menilai deklarasi situs ini sebagai masjid merupakan bentuk penandaan eksklusif untuk Muslim.
Erdogan sendiri membantah klaim ini.
"Seperti semua masjid kami yang lain, pintu Hagia Sophia akan terbuka untuk semua, penduduk lokal atau asing, Muslim dan non-Muslim," kata Erdogan.
Mengutip New York Times, masyarakat islamis dan Pan-Turki telah lama mengkampanyekan perubahan status Hagia Sophia menjadi masjid. Mereka beranggapan perubahan status ini dapat menyelamatkan Turki dari penghinaan di masa lampau, karena pemimpin Turki dahulu dianggap telah 'menjual jiwanya' kepada modernitas Barat.
Ungkapan yang paling jelas dari pandangan ini disampaikan oleh Necip Fazil Kisakurek, penyair dan polemis Islam paling terkemuka di Turki kala itu. Pada 29 Desember 1965, Kisakurek mengatakan keputusan Ataturk untuk mengubah Hagia Sophia menjadi museum adalah untuk "menempatkan semangat penting Turki di dalam museum."
Ia juga menilai kabinet Ataturk telah menyakiti negara mereka sendiri.
Sejarah Hagia Sophia baca di halaman berikutnya...
Sejarah Hagia Sophia
Sejumlah kebijakan Presiden Recep Tayyip Erdogan mengubah kebijakan Ataturk. (AFP/ADEM ALTAN)
Hagia Sofia dahulu merupakan tempat ibadah umat Kristen selama hampir 1.000 tahun. Kaisar Bizantium Justinian membangun gedung ini pada abad keenam. Di katedral ini, Kaisar Bizantium dimahkotai dan menerima restu dari Gereja Ortodoks Yunani.
Setelah jatuhnya Konstantinopel, yang kini dikenal dengan Istanbul, katedral raksasa ini diubah menjadi masjid. Istanbul kala itu diperintah oleh Kekaisaran Ottoman.
Namun, setelah Kekaisaran Ottoman tumbang kala Perang Dunia I, pemerintah sekuler baru Turki, yang dipimpin Ataturk, memutuskan mengubah bangunan itu menjadi museum dan membukanya untuk turis.
Hagia Sofia dibuka sebagai museum pada 1935.
Mengubah Hagia Sofia menjadi masjid menimbulkan perdebatan dalam masyarakat Turki sendiri. Kelompok nasionalis dan konservatif Turki telah lama ingin mengadakan salat di Hagia Sofia, yang mereka anggap sebagai bagian dari warisan Muslim Ottoman.
Walaupun begitu, beberapa masyarakat beranggapan bahwa Hagia Sofia harus tetap menjadi museum, yang mana merupakan simbol solidaritas Kristen dan Muslim.