1 Juta Umat Hindu India Akan Ritual di Sungai Gangga Abaikan Covid-19

blq | CNN Indonesia
Selasa, 11 Jan 2022 19:52 WIB
Satu juta umat Hindu India diprediksi akan memadati Sungai Gangga untuk ritual berenang bersama di tengah lonjakan Covid-19 dan penyebaran varian Omicron. Ritual mandi suci bersama di Sungai Gangga, Kumbh Mela, pada pertengahan 2021 lalu menjadi penyebab gelombang Covid-19 India. (Foto: REUTERS/ANUSHREE FADNAVIS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Hampir satu juta umat Hindu India diperkirakan akan berkumpul di tepi Sungai Gangga pada Jumat dan Sabtu pekan ini untuk melakukan ritual mandi suci tahunan.

Ritual keagamaan yang dinamakan Gangasagar Mela itu berlangsung di tengah ancaman Covid-19 varian Omicron yang terus melonjak dan kenaikan infeksi virus corona.

Upacara suci ini kerap diadakan setiap tanggal 14 Januari. Para peziarah mengunjungi desa Gangasagar untuk mandi bersama di pertemuan Sungai Gangga dan Teluk Benggala. Mereka percaya melakukan hal tersebut dapat menghapus dosa-dosa mereka dan dosa-dosa nenek moyang mereka.


Sebanyak puluhan ribu peziarah dikabarkan telah tiba di sebuah pulau di negara bagian timur Bengal Barat untuk melaksanakan ritual mandi di Sungai Gangga. Daerah itu sendiri menjadi episentrum kasus Covid-19 terbanyak di India saat ini setelah negara bagian Maharashtra.

"Kerumunan dapat membengkak antara 800.000 hingga satu juta orang. Kami berusaha menerapkan semua protokol Covid-19," ujar Bankim Chandra Hazra, seorang menteri utama Benggala Barat yang bertanggung jawab menyelenggarakan festival yang dikenal sebagai Gangasagar Mela, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (11/1).

"Kami juga telah mengatur percikan air suci dari drone sehingga tidak ada kerumunan, tetapi para sadhus (orang suci Hindu) bertekad untuk berenang. Kami tidak dapat mencegahnya."

Sebuah festival keagamaan besar serupa Gangasagar Mela, Kumbh Mela, juga berlangsung di utara India pada tahun lalu. Upacara itu pun menjadi sumber penyebaran Covid-19 varian Delta dan gelombang virus corona baru di India.

Menanggapi permohonan dari dokter yang khawatir festival tersebut bisa menjadi momen penularan Covid-19 cepat, Pengadilan Tinggi Calcutta pun memutuskan pada Selasa bahwa semua peziarah harus melakukan tes Covid-19.

Tak begitu jelas berapa banyak peziarah yang akan dites atau apakah keputusan tersebut benar akan dilaksanakan.

Dokter sendiri telah mengajukan banding ke pengadilan untuk membatalkan keputusan yang mengizinkan diadakannya festival tersebut tahun ini. Bhramar Mukherjee, profesor epidemiologi di University of Michigan, mengatakan perkumpulan tersebut bisa berisiko menjadi 'bencana' bagi masyarakat.

Sementara itu, India melaporkan 168.063 kasus positif Covid-19 pada Selasa (11/1). Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar 20 kali lipat dalam kurun waktu satu bulan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi dikabarkan telah pulih dan tingkat rawat inap berkurang setengah dari yang terlihat selama gelombang infeksi terakhir pada April dan Mei 2021.

Mengenai penularan ini, banyak negara bagian yang telah mengumumkan pemberlakuan jam malam. Hal ini selaras dengan ibu kota Delhi yang juga memberlakukan lockdown pada akhir pekan serta menutup kantor-kantor swasta, restoran, dan bar sebagai upaya untuk mengendalikan varian Omicron yang disinyalir menyebar dengan sangat cepat.

Meskipun demikian, sebagian besar peziarah nyatanya tidak begitu menghiraukan bahaya penularan ini.

(blq/rds)


[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER