Jakarta, CNN Indonesia -- Penempatan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina yang memicu rumor invasi akhir-akhir ini dilakukan karena Moskow terusik dengan ekspansi NATO di dekat wilayahnya.
Salah satu yang paling mengganggu Rusia adalah rencana NATO mengajak Ukraina untuk bergabung.
Ukraina memang bukan anggota NATO, namun aliansi pertahanan itu selama ini menganggap Ukraina "spesial" seperti calon anggotanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah Uni Soviet Runtuh, NATO memperluas pengaruhnya ke wilayah Eropa timur.Mereka berhasil merekrut negara-negara yang pernah berada di lingkungan komunis Soviet seperti Lithuania, Latvia, dan Esthonia, Polandia, hingga Rumania.
Keberhasilan itu semakin membuat NATO percaya diri memperluas pergerakan mendekati Rusia.
Hingga pada 2008, NATO berencana merekrut Ukraina, meskipun beberapa pihak menilai itu prospek yang terlalu jauh.
Presiden Rusia Vladimir Putin pun saat itu menentang keras rencana NATO tersebut yang dinilai mengancam eksistensi negaranya.
Putin terus menegaskan Ukraina dan Belarus bagian dari Rusia secara budaya dan sejarah. Dia bahkan memegang kendali besar atas Belarus dan terus melakukan pembicaraan soal reunifikasi yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun.
Ukraina sendiri terlihat semakin mendekatkan diri pada NATO dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kala tensi dengan Rusia memanas saat ini.
Alasan Ukraina Ingin Masuk NATO
Salah satu alasan terkuat Ukraina ngotot masuk NATO adalah Rusia. Bak belum bisa "move on", Rusia masih berupaya menciptakan kejayaan di masa Uni Soviet, termasuk menyatukan kembali negara-negara pecahannya seperti Ukraina.
Selama ini, Rusia kerap menentang kerja sama keamanan strategis Ukraina dengan NATO dan AS. Selain itu, dukungan Rusia terhadap kelompok separatis pro-Moskow di wilayah bergolak Ukraina pun membuat Kiev merasa perlu segera bergabung dengan NATO.
Urgensi Ukraina untuk masuk NATO pun meluas ketika Rusia berani mencaplok Crimea pada 2014.
Hanya dalam beberapa hari, pasukan Rusia berhasil menduduki seluruh wilayah semenanjung Crimea dengan dibantu pasukan pemberontak pro-Moskow di wilayah itu.
Presiden Vladimir Putin awalnya menyangkal kelompok tersebut adalah tentara Rusia, tetapi akhirnya mengakui para 'pemberontak' merupakan bagian dari tentara Moskow, setelah berhasil menduduki Crimea.
Setelah tentara Rusia berhasil menduduki Crimea, referendum dilakukan. Pelaksanaan referendum berjalan kacau dan tanpa pengamat internasional yang kredibel. Jurnalis independen juga tak diizinkan masuk dan meliput pemungutan suara.
Pada 18 Maret 2014, pejabat Crimea dan Rusia menandatangani Perjanjian Aksesi Republik Crimea dengan Rusia. Presiden Rusia, Vladimir Putin, meratifikasi perjanjian itu tiga hari kemudian.
Menjadi anggota NATO akan secara signifikan meningkatkan dukungan militer Ukraina dari pihak luar. Bergabung dengan NATO berarti Ukraina memiliki jaminan militer dari banyak negara terutama AS.
Hal ini pun memungkinkan NATO melancarkan kegiatan militer di Ukraina, atau atas nama Ukraina.
Jaminan kekuatan militer ini akan bertindak sebagai detterent terhadap agresi Rusia dan mencegah aneksasi seperti Crimea terjadi lagi.
Menjadi anggota NATO akan secara signifikan meningkatkan dukungan militer Ukraina dari pihak luar. Bergabung dengan NATO berarti Ukraina memiliki jaminan militer dari banyak negara terutama AS.
Hal ini pun memungkinkan NATO melancarkan kegiatan militer di Ukraina, atau atas nama Ukraina.
Jaminan kekuatan militer ini akan bertindak sebagai detterent terhadap agresi Rusia.
Dilansir The Conversation, Ukraina telah bermitra dengan NATO sejak 1992.
NATO bahkan membentuk komisi khusus urusannya dengan Ukraina pada 1997 yang menyediakan forum diskusi masalah keamanan dan sebagai cara memajukan relasi kedua belah pihak tanpa perjanjian keanggotaan formal.
Keanggotaan NATO juga akan menarik Ukraina masuk geng negara Eropa, memuluskan jalan Kiev pada akhirnya untuk masuk Uni Eropa.
Keanggotaan NATO juga membantu Ukraina menjalin hubungan lebih dekat dengan AS.
Berlanjut ke halaman berikutnya >>>
Status Ukraina di NATO
Ukraina memiliki sederet alasan kuat untuk kekeh masuk menjadi anggota NATO. (Foto: AP/Efrem Lukatsky)
Status Ukraina di NATO
Meski NATO selama ini mempertimbangkan pengajuan Ukraina sebagai anggota. Peluang Kiev untuk resmi bergabung dengan aliansi itu masih panjang.
Semua anggota NATO harus dengan suara bulat menyetujui pengajuan Ukraina sebagai anggota. Persetujuan itu didasari dari berbagai pertimbangan berdasarkan faktor-faktor seperti penerapan demokrasi di Ukraina dan "sengketa teritorial eksternal yang belum terselesaikan."
Poin kedua bisa jadi batu ganjalan aplikasi Ukraina di NATO lantaran negara pecahan Uni Soviet itu masih memiliki sengketa wilayah dengan Rusia.
Berdasarkan prosedur, negara yang bercita-cita mengikuti Rencana Aksi Keanggotaan, sebuah tahapan yang perlu dilalui sebelum resmi menjadi anggota termasuk memaparkan kebijakan politik dan keamanan negara yang bersangkutan apakah cocok dengan kultur NATO atau tidak.
Biasanya, diperlukan waktu 20 tahun bagi sebuah negara menyelesaikan rencana aksi tersebut dan mendapatkan lampu hijau menjadi anggota NATO. Lihat saja Makedonia Utara.
Mantan presiden Ukraina Leonid Kuchma pernah secara terbuka mengumumkan ketertarikan Ukraina dalam keanggotaan NATO pada Mei 2002.
Ukraina kemudian mengajukan Rencana Aksi Keanggotaan pada 2008. Proses ini terhenti pada 2010 di bawah mantan Presiden Viktor Yanukovich, seorang politikus pro-Rusia yang tidak ingin menjalin hubungan dengan NATO.
Ukraina baru-baru ini menghidupkan kembali rencananya untuk bergabung dengan NATO, terutama dalam menghadapi konflik Rusia-Ukraina dan pencaplokan Crimea.
Pada 2017, Ukraina mengadopsi amendemen konstitusi yang berkomitmen untuk menjadi anggota NATO.
Ukraina kemudian mengadopsi Strategi Keamanan Nasional yang bertujuan untuk mengembangkan kemitraan NATO-nya pada tahun 2021.
"Proses aplikasi NATO telah berlarut-larut untuk waktu yang sangat lama," kata Menteri Luar Negeri Ukraina Dmytro Kuleba pada September 2021.