Jakarta, CNN Indonesia -- Kapal induk terbaru India, INS Vikrant, disebut-sebut membuat China mulai ketar-ketir. Namun, sejumlah pengamat Negeri Tirai Bambu juga menyoroti kekurangan proyek ini karena tertunda 12 tahun.
Media India, Rediff, melaporkan bahwa proyek INS Vikrant memang tertunda 12 tahun sejak pertama kali dibangun pada 2008 silam.
Selama jeda waktu tersebut, biaya pembangunan kapal itu pun membengkak hingga 230 miliar rupee India atau sekitar Rp43 triliun, melonjak 13 kali lipat dari anggaran awal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pembengkakan anggaran ini disebabkan berbagai hal, mulai dari keinginan menambah muatan hingga krisis ekonomi.
Proyek kapal INS Vikrant ini sebenarnya sudah direncanakan sejak Januari 1997. Mulanya,Vikrant dikembangkan untuk menjadi Kapal Pertahanan Udara dan hanya memiliki muatan 20 ribu ton. Namun, kemudian direvisi menjadi 37.500 ton.
Pada 2008, kapal ini mulai dibangun dan diterbangkan dari dok pada 29 Desember 2011. Dua tahun setelahnya, pemerintah India meluncurkan proyek kapal ini.
Namun, skala dan proyek yang kompleks menyebabkan penundaan dan biaya membengkak. Salah satu masalahnya adalah baja tingkat AB/A yang dipasok dari Rusia mengalami masalah pengiriman.
Untuk mengatasinya, Laboratorium Penelitian Metalurgi Pertahanan dan Otoritas Baja India Limited (SAIL) membuat fasilitas untuk memproduksi baja di India.
Menurut sejumlah laporan, Pabrik Baja Bhilai dan Pabrik Rourkela memproduksi baja khusus untuk lambung, dek penerbangan, dan kompartemen lantai.
Dengan demikian, kapal ini menjadi kapal pertama Angkatan Laut India yang dibangun sepenuhnya menggunakan produksi dalam negeri.
[Gambas:Video CNN]
Pada 2011, pengirim gearbox utama operator juga disebut mengalami keterlambatan. Perusahaan pemasok, Elecon Engineering, mengaitkan dengan sejumlah kerumitan teknis karena panjang poros penggerak.
Masalah lain yang menyebabkan penundaan adalah kecelakaan pada generator diesel dan persoalan penyesuaiannya.
Di tahun yang sama, Kementerian Pertahanan India menyatakan pekerjaan konstruksi untuk lambung kapal selesai dan akan meluncur pada Desember 2011.
Namun pada Juli 2012, media India, The Times of India, melaporkan INS Vikrant tertunda selama tiga tahun dan siap komisioning pada 2017.
Pada Juli 2013, Kemenhan India mengumumkan INS Vikrant akan diluncurkan pada Agustus di Galangan Kapal Cochin.
Saat itu, Kemenhan India menyatakan uj i coba pelayaran bakal dimulai pada 2016. Namun, uji coba pertama INS Vikrant baru berlangsung pada Desember 2020.
Setelah itu, pihak pengembang kapal menyerahkan INS Vikrant ke Angkatan Laut pada akhir Juli lalu. Pasukan diperkirakan bakal mengoperasikan kapal itu pada 15 Agustus mendatang.
Bagaimana spesifikasi kapal INS Vikrant yang disebut bikin China ketir? Baca di halaman selanjutnya >>>
Spesifikasi INS Vikrant yang Disebut Bikin China Ketir
Kapal induk India, INS Vikrant, disebut membuat China mulai ketir. Namun, pengamat China juga menyoroti kekurangan proyek ini karena tertunda 12 tahun. (AFP/Manjunath Kiran)
INS Vikrant terbaru ini bisa mengangkut 30 jet tempur yang mencakup MiG-29 K, Kamov-31, helikopter MH-60R, dan beberapa jet lain. Jika dihitung, kapal ini mampu mengangkut nyaris 45 ribu ton.
INS Vikrant memiliki kecepatan maksimum 28 knot dengan jangkauan 7.500 mil. Jika sudah beroperasi, kapal ini akan mempunyai 160 perwira dan 1.400 kru, demikian laporan New Indian Express.
Sejumlah media India mengagung-agungkan kapal ini. Salah satu media, WION, bahkan menyebut Cina bakal terpojok dengan kehadiran INS Vikrant.
"Ini merupakan pencapaian bagi Angkatan Laut India yang ingin membuat China bungkam di perairan Pasifik," demikian kutipan pemberitaan WION.
Media pemerintah China, Global Times, juga terus mengikuti perkembangan pembuatan kapal induk India ini sejak dulu. Sejumlah pengamat menganggap China sebenarnya ketir.
Namun, saat perusahaan pengembang melakukan serah terima, GT melaporkan komentar para pengamat pertahanan yang seolah meremehkan INS Vikrant.
Salah satu pengamat mengatakan kapal induk China, Liaoning, merupakan armada besar, sementara Vikrant tergolong medium.
Seorang ahli yang merupakan veteran militer dari Universitas Pertahanan Nasional PLA, Zhang Zhaozhong, juga memaparkan kepada Global Times sejumlah kekurangan proyek INS Vikrant.
Menurutnya, India melakukan riset untuk pembuatan kapal induk itu bertahun-tahun, penuh dengan lika-liku di tengah ketidakstabilan kebijakan.
Segala aral itu, katanya, membuat desain berubah-ubah, pendanaan tidak stabil, dan kekurangan kesinambungan dalam proses pembuatan.