Jakarta, CNN Indonesia -- Sebelum kematian Mahsa Amini di Iran, bangsa Kurdi sudah kerap memicu perhatian global, termasuk saat mereka membantu Amerika Serikat memukul mundur ISIS di Irak dan Suriah.
"Kita sudah menang melawan ISIS. Sekarang saatnya pasukan kita pulang," ujar Presiden Donald Trump pada 2019 lalu.
Saat itu, Trump dengan bangga mengumumkan kemenangan ini setelah milisi pimpinan Kurdi yang mereka dukung, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), merebut daerah Baghuz dari tangan ISIS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baghuz merupakan daerah kekuasaan terakhir ISIS di Suriah. Dengan kemenangan SDF, ISIS tak punya daerah cengkeraman lagi di Suriah, walau masih melakukan serangan kecil-kecilan di sana-sini.
Kemenangan besar koalisi AS dalam menumpas ISIS di Suriah memang tak bisa dilepaskan dari peran SDF.
SDF sendiri merupakan sayap militer dari Pemerintahan Otonomi Utara dan Timur Suriah (AANES) alias Rojava.
Mereka mendirikan daerah otonomi sendiri di kawasan utara dan timur Suriah pada 2012, setahun setelah perang pemberontakan pecah di berbagai penjuru negara.
[Gambas:Video CNN]
Mayoritas penduduk di Rojava merupakan bangsa Kurdi. Selain itu, berkumpul pula sejumlah komunitas etnis lainnya, seperti Arab, Asiri, hingga Yazidi.
Di awal pergolakan, Kurdi sebenarnya tak pernah terlibat langsung dalam perang. Namun, semuanya berubah pada 2014.
Kala itu, ISIS berhasil merebut daerah-daerah di timur Suriah dan utara Irak, mendirikan khilafah dengan daerah seluas Inggris.
Terancam, SDF mulai pasang badan. Di saat bersamaan, Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, membentuk koalisi untuk melawan ISIS.
AS menggandeng sejumlah milisi lokal Suriah untuk melawan ISIS, termasuk SDF. Menteri Pertahanan AS saat itu, Ashton Carter, memuji kinerja SDF.
"[Kurdi] terbukti menjadi rekan sempurna bagi kami di medan perang melawan ISIS. Kami sangat bersyukur dan kami ingin terus bekerja sama, walau posisi mereka di kawasan sangat kompleks," ucap Carter, seperti dikutip Hurriyet.
Kehadiran Kurdi di lapangan memang membuat posisi AS menjadi rumit. Masalahnya, selama ini Turki menganggap Kurdi sebagai "teroris" yang berupaya melakukan pemberontakan di negaranya.
Sebagaimana dilansir The New York Times, saat itu Kurdi juga baru saja mendeklarasikan pemerintahan federal sendiri di Rojava, memicu amarah Turki.
Melihat situasi rumit ini, AS tak pernah mengakui pemerintahan Kurdi di kawasan utara dan timur Suriah. Namun, mereka tetap bekerja sama dengan SDF untuk menggempur ISIS di Suriah.
Hingga akhirnya, SDF berhasil mengusir ISIS dari daerah kekuasaan terakhir mereka di Suriah pada 2019.
Dengan kepala tegak, Trump memerintahkan penarikan besar-besaran pasukan AS dari Suriah, meninggalkan bangsa Kurdi di Rojava.
Setelah AS angkat kaki, Turki langsung bergerak menyerang. Kurdi pun merasa AS menelantarkan mereka di tengah gempuran Turki.
Untuk kesekian kalinya sejak berabad-abad lalu, Kurdi kembali gagal mendirikan negara sendiri.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Nasib Tragis Kurdi di Irak
Tentara Kurdi yang berhasil menguasai Kota Kirkuk Irak dari ISIS. (AFP PHOTO / AHMAD AL-RUBAYE)
Nasib serupa menimpa bangsa Kurdi di Irak.
Situasi ekonomi yang sulit, dan tekanan militer dari ISIS serta tekanan dari komunitas internasional membuat Kurdi menunda membahas kemerdekaan mereka. Mungkin di masa depan, yang entah kapan.
Kurdi di Irak juga pernah memiliki sejarah melawan ISIS. Perlawanan ini bisa ditelisik pada 2014 lalu.
Tak lama setelah ISIS berhasil merebut Mosul, Pemerintah Daerag Kurdi (KRG) Paeshmerga merebut Provinsi Kirkuk yang kaya minyak di Irak utara dan wilayah sengketa. Kurdi lalu mendeklarasikan kemerdekaan di Kirkuk, demikian dikutip Brooking Edu.
Saat itu, pemerintah Irak tak sanggup melawan ISIS dan mau tak mau menerima kedaulatan Kurdi atas Kirkuk.
Kurdi sementara itu terus mempertahankan wilayah dan melawan balik ISIS. Kerugian mereka tak tanggung-tanggung: 1.200 orang tewas dan 5.900 terluka.
Selain itu, banyak kota dan desa di sepanjang garis depan pejuang Kurdi dan ISIS telah menjadi tidak layak huni karena perang dan mundurnya pasukan ISIS, demikian dikutip European Institut of the Mediterranean (IEMed).
Pada November 2014 lalu, pasukan AS menargetkan pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Baghdadi. Kurdi dalam hal ini, membantu menjaga stabilitas di Irak.
Peran Kurdi lain yakni memotong garis ISIS dari Mosul ke Raqqa di Suriah, yang bukan hanya garis militer tetapi juga garis ekonomi dan politik yang penting, demikian dikutip Washington Institute.
Milisi ISIS kerap mondar-mandir di wilayah itu. Jika kedua pihak ini melanggar garis perbatasan yang disepakati akan terjadi pertempuran.
Apabila terjadi, pertempuran berkecamuk di Diyala dan Salah al Din.
Pemerintah Kurdi juga merawat banyak orang sebagai upaya mempertahankan statusnya sebagai pemerintah berdaulat, demikian dikutip WNYC Studios.
Namun, pertarungan melawan ISIS juga sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari bangsa Kurdi Irak, khususnya di bidang ekonomi.
Kurdistan Irak telah menderita secara dramatis imbas ketidakstabilan di seluruh Irak. Kegagalan Baghdad membayar KRG bagian telah menyebabkan krisis uang tunai di wilayah yang dikuasai Kurdi.
Baghdad berjanji membayar KRG sebesar 17 persen per bulan dari anggaran nasional.
Namun, gaji pegawai negeri sipil dan Peshmerga juga tidak dibayar, kadang-kadang sampai enam bulan.
Ekonomi yang tak stabil, gempuran masif ISIS, membuat Kurdi mau tak mau mengubur mimpinya sejenak membangun negara sendiri.
Pada 2017, Pasukan Irak yang didukung milisi Syiah pro-Iran mengambil kembali Mosul dari ISIS.