Jakarta, CNN Indonesia -- Hubungan Amerika Serikat dan Arab Saudi kali ini semakin panas setelah Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC+) memutuskan mengurangi produksi minyak.
OPEC+ merupakan organisasi yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia. Mereka beberapa waktu lalu memutuskan pengurangan produksi minyak hingga dua juta barel per hari untuk menstabilkan pasar energi global.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagaimana dilansir Deutsche Welle, keputusan itu mengecewakan bagi Amerika Serikat.
Presiden Joe Biden mengancam bakal ada "konsekuensi" atas keputusan OPEC+ tersebut terhadap hubungan AS dan Saudi.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Perre juga mengatakan "jelas bahwa OPEC+ bersekutu dengan Rusia."
[Gambas:Video CNN]
Di tengah situasi Washington dan Riyadh yang 'semakin panas', keduanya sebetulnya merupakan sekutu. Saudi merupakan salah satu pembeli alutsista AS.
Berdasarkan pemberitaan Middle East Eye, Saudi mendapatkan sekitar 70 persen persenjataan mereka dari AS. Riyadh juga merupakan pembeli terbesar AS di sektor penjualan militer asing (FMS).
Lantas, bagaimana sejarah hubungan kedua negara tersebut?
1931
Pada 1931, AS mengakui Kerajaan Hijaz dan Nejd. Setahun setelahnya, kerajaan itu berubah menjadi Arab Saudi, dikutip dari Reuters.
1933
Arab Saudi memberikan izin eksplorasi minyak kepada cabang perusahaan minyak AS, yakni Standard Oil of California. Perusahaan itu lalu berganti nama menjadi Aramco.
1945
Mantan Presiden AS, Franklin D. Roosevelt, bertemu dengan Raja Saudi, Abdulaziz, di atas kapal USS Quincy di Terusan Suez. Pertemuan tersebut menjadi tanda kedekatan kedua negara selama beberapa dekade.
1951
AS dan Saudi menyepakati Perjanjian Bantuan Pertahanan Bersama, yang pada akhirnya membuka jalan penjualan senjata Washington ke Riyadh.
1973
Arab Saudi menerapkan embargo minyak negara-negara Arab ke Washington dan beberapa negara lain yang mendukung Israel dalam perang kala itu.
Pada 1974, saat embargo dicabut, harga minyak meningkat hampir empat kali lipat.
1979
Arab Saudi dapat membantu pendanaan pertempuran Afghanistan melawan jajahan Uni Soviet berkat bantuan AS dan Pakistan.
Banyak warga Saudi, termasuk Osama bin Laden, yang mendapatkan dana bantuan dan bergabung dengan pejuang Afghanistan.
1980
Arab Saudi menyelesaikan pembelian 100 persen saham Aramco.
1990
Irak menginvasi Kuwait. Tahun berikutnya, pasukan pimpinan AS menggunakan pangkalan Saudi sebagai landasan peluncuran militer yang dikerahkan untuk membantu Kuwait.
Sebagian besar pasukan AS kemudian meninggalkan Riyadh, tapi masih banyak pula yang tetap tinggal.
1996
Sebuah bom truk menewaskan 19 tentara Washington di kompleks militer AS di Khobar, Arab Saudi.
Ketua Al-Qaeda, Osama bin Laden, mendeklarasikan jihad melawan AS yang dianggap telah menduduki Saudi.
2001
Pada 2001, Al-Qaeda membajak empat pesawat sipil. Dari 19 pembajak, 15 diantaranya merupakan warga Saudi.
Mereka kemudian secara sengaja menabrakkan dua pesawat ke menara World Trade Center di New York. Pesawat ketiga menabrak gedung Pentagon, dan yang keempat jatuh di Pennsylvania.
Imbas insiden itu, sekitar 3.000 orang tewas
Namun, Saudi selalu membantah terkait atau mengetahui serangan tersebut. Klaim ini kemudian diperkuat dengan pernyataan salah satu komisi pemerintahan AS pada 2004 lalu, yang mengklaim tak menemukan bukti Saudi terlibat langsung dalam pendanaan kelompok Al-Qaeda.
2003
AS menuduh Irak memiliki senjata pemusnah massal. Mereka lalu mengerahkan pasukan ke negara itu.
Arab Saudi melawan invasi AS di Irak. Negeri Paman Sam kemudian menarik semua pasukannya dari Saudi.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Pasang-Surut Hubungan AS-Saudi, Mesra Tapi Kerap Ribut
Foto ilustrasi. Bendera AS. (Anthony DELANOIX via Unsplash)
2011
Dunia Arab digemparkan dengan pemberontakan Arab Spring. Pemberontakan ini menantang rezim otoriter yang menguasai negara-negara kawasan, dikutip dari Britannica.
Namun, Arab Saudi khawatir Presiden AS, Barack Obama, dan Presiden Mesir, Hosni Mubarak, seolah abai atas peristiwa itu.
2013
Arab Saudi mengeluhkan kebijakan AS terkait pendekatan kepada Iran dan Suriah.
Saat itu, AS terlibat dalam perang sipil di Suriah. Mereka disebut ingin menggulingkan Presiden Bashar al Assad.
2015
Negara-negara kuat dunia, termasuk AS, menjalin kesepakatan dengan Iran agar Teheran tak memproduksi senjata nuklir. Sebagai imbalan, negara Barat mencabut sanksi atas Iran.
Namun, Saudi khawatir kesepakatan ini malah membuat Iran semakin kuat.
Di saat bersamaan, Yaman tengah menghadapi pemberontakan dari Houthi, kelompok yang dekat dengan Iran. Saudi lantas membantu pemerintah Yaman melawan Houthi.
2018
Pada 2018, mantan Presiden Donald Trump menarik Washington dari Perjanjian Nuklir Iran yang terjalin pada 2015.
Saudi menyambut langkah Trump tersebut.
Namun, di penghujung tahun ini, hubungan kedua negara tampak tegang. Pada November, AS mengecam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi di konsulat Saudi di Istanbul.
Di tahun yang sama, AS menjadi produsen minyak terbesar di dunia.
2019
AS merilis laporan yang menunjukkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MbS), terlibat dalam kasus pembunuhan Khashoggi.
Namun, Saudi membantah MbS terlibat di kasus ini.
Tak hanya soal Khashoggi, Washington turut menyampaikan keprihatinannya kepada para korban yang tewas imbas serangan udara di Yaman.
Washington juga berusaha keras memblokir penjualan senjata Riyadh.
2020
Pada tahun ini, muncul tanda Arab Saudi bakal bergabung ke Kesepakatan Abraham. Dalam kesepakatan ini, Israel berupaya menormalisasi hubungan mereka dengan negara Teluk dengan bantuan AS.
Hubungan Israel dengan sejumlah negara Teluk tak baik imbas konflik negara itu dengan Palestina.
2022
Hubungan AS dan Arab Saudi kembali diuji setelah OPEC+ memutuskan memangkas produksi minyak.
Keputusan ini diambil kala perang Rusia-Ukraina berlangsung, dan negara Barat tengah menerapkan sanksi ke Moskow.
Pihak AS menilai keputusan OPEC+ dapat meningkatkan harga minyak dan membuat Rusia dapat "membiayai" perang mereka, dikutip dari CNN.