Sejak lama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya untuk memperkuat hubungan Israel dengan Arab Saudi. Impian Netanyahu untuk menormalisasi hubungan dengan Saudi bahkan digambarkan sebagai sebuah 'hadiah besar'
Namun kesepakatan ini tak kunjung jadi kenyataan. Sebab salah satu syarat utama Riyadh untuk 'berdamai' dengan Tel Aviv belum tercapai, yaitu solusi dua negara antara Palestina dengan Israel.
Padahal, Israel membutuhkan Arab Saudi untuk melawan ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan.
"Keadaan ini mempersulit Israel, karena model sengketa Sunni dan Syiah berkurang. Sunni dan Syiah mau maju untuk kemajuan bersama, walaupun di level unilateral maupun domestik," kata Pengamat HI dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan, "Hal ini bagi Israel merupakan suatu kemunduran."
Selain itu, pengamat Saudi Aziz Algashian, juga menyebut gagasan Arab Saudi yang disebut-sebut 'tertarik' pada Israel sebagai bagian dari kubu melawan Iran, juga sangat 'dangkal'.
"Gagasan 'musuh dari musuh adalah teman kami', bukanlah cara kerja Saudi, terutama secara strategis," ungkap Algashian, dikutip Times of Israel.
Menurutnya, normaliasi hubungan itu adalah tanda bahwa Saudi lebih memprioritaskan pemulihan hubungan dengan Iran, daripada dengan Israel.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Justru sebaliknya, Saudi memilih rujuk dengan Iran karena ingin mencari ketenangan dan kenyamanan, sambil melanjutkan pembangunan di negaranya.
'Ketenangan' yang diinginkan Saudi juga tidak lepas dari berkurangnya hegemoni Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menjelaskan, ketika AS memutuskan untuk mulai menarik diri dan mengurangi hegemoni di kawasan Timur Tengah, akan berpotensi kepada ketidakstabilan.
Dalam kasus ini, Saudi khawatir akan muncul rezim-rezim yang akan mengambil keuntungan dan menyebabkan ketidakpastian, seperti Iran.
"Maka pilihan pragmatis dari Saudi ketika tidak bisa mengandalkan proteksi dari luar termasuk AS, maka cara terbaik adalah melakukan normalisasi (dengan Iran). Tujuannya agar ketidakstabilan regional bisa dikurangi," kata Yon kepada CNNIndonesia.com.
Yon menyebut, Israel kemungkinan akan tetap berjuang untuk menjadikan Iran sebagai ancaman serius di kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah lewat tuduhan serangan-serangan oleh kelompok yang disponsori Iran.
"Saya membaca tindakan provokatif Israel ingin mengundang militer yang ada di Palestina hingga Lebanon, agar melakukan balasan militer. Dengan begitu, ada justifikasi Israel untuk melakukan serangan yang lebih besar," ungkap Yon.
Israel diperkirakan akan menarik simpati dunia internasional setelah 'dikeroyok' oleh rudal-rudal yang dianggap didukung oleh Teheran.
"Bisa saja mereka (Israel) akan meminta dukungan Uni Eropa baik itu Inggris, Prancis maupun negara-negara UE lain. Jadi saya kira Israel akan mencoba mengalihkan masalahnya kepada ancaman Iran," kata Yon.
Sejak lama, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berupaya untuk memperkuat hubungan Israel dengan Arab Saudi. Impian Netanyahu untuk menormalisasi hubungan dengan Saudi bahkan digambarkan sebagai sebuah 'hadiah besar'
Namun kesepakatan ini tak kunjung jadi kenyataan. Sebab salah satu syarat utama Riyadh untuk 'berdamai' dengan Tel Aviv belum tercapai, yaitu solusi dua negara antara Palestina dengan Israel.
Padahal, Israel membutuhkan Arab Saudi untuk melawan ancaman yang ditimbulkan Iran di kawasan.
"Keadaan ini mempersulit Israel, karena model sengketa Sunni dan Syiah berkurang. Sunni dan Syiah mau maju untuk kemajuan bersama, walaupun di level unilateral maupun domestik," kata Pengamat HI dari Universitas Padjajaran, Teuku Rezasyah, kepada CNNIndonesia.com.
Ia menambahkan, "Hal ini bagi Israel merupakan suatu kemunduran."
Selain itu, pengamat Saudi Aziz Algashian, juga menyebut gagasan Arab Saudi yang disebut-sebut 'tertarik' pada Israel sebagai bagian dari kubu melawan Iran, juga sangat 'dangkal'.
"Gagasan 'musuh dari musuh adalah teman kami', bukanlah cara kerja Saudi, terutama secara strategis," ungkap Algashian, dikutip Times of Israel.
Menurutnya, normaliasi hubungan itu adalah tanda bahwa Saudi lebih memprioritaskan pemulihan hubungan dengan Iran, daripada dengan Israel.
Lanjut baca di halaman berikutnya...
Apa yang Dilakukan Israel Buntut Iran-Saudi Rujuk?
Bendera Israel. Foto: Marklines.
Justru sebaliknya, Saudi memilih rujuk dengan Iran karena ingin mencari ketenangan dan kenyamanan, sambil melanjutkan pembangunan di negaranya.
'Ketenangan' yang diinginkan Saudi juga tidak lepas dari berkurangnya hegemoni Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Pengamat Timur Tengah dari Universitas Indonesia Yon Machmudi menjelaskan, ketika AS memutuskan untuk mulai menarik diri dan mengurangi hegemoni di kawasan Timur Tengah, akan berpotensi kepada ketidakstabilan.
Dalam kasus ini, Saudi khawatir akan muncul rezim-rezim yang akan mengambil keuntungan dan menyebabkan ketidakpastian, seperti Iran.
"Maka pilihan pragmatis dari Saudi ketika tidak bisa mengandalkan proteksi dari luar termasuk AS, maka cara terbaik adalah melakukan normalisasi (dengan Iran). Tujuannya agar ketidakstabilan regional bisa dikurangi," kata Yon kepada CNNIndonesia.com.
Yon menyebut, Israel kemungkinan akan tetap berjuang untuk menjadikan Iran sebagai ancaman serius di kawasan Timur Tengah. Salah satunya adalah lewat tuduhan serangan-serangan oleh kelompok yang disponsori Iran.
"Saya membaca tindakan provokatif Israel ingin mengundang militer yang ada di Palestina hingga Lebanon, agar melakukan balasan militer. Dengan begitu, ada justifikasi Israel untuk melakukan serangan yang lebih besar," ungkap Yon.
Israel diperkirakan akan menarik simpati dunia internasional setelah 'dikeroyok' oleh rudal-rudal yang dianggap didukung oleh Teheran.
"Bisa saja mereka (Israel) akan meminta dukungan Uni Eropa baik itu Inggris, Prancis maupun negara-negara UE lain. Jadi saya kira Israel akan mencoba mengalihkan masalahnya kepada ancaman Iran," kata Yon.