Gelombang Reaksi Pemimpin Eropa Usai Serangan AS ke Venezuela

CNN Indonesia
Sabtu, 03 Jan 2026 20:35 WIB
Gelombang reaksi datang dari sejumlah pemimpin negara Eropa menyusul serangan Amerika Serikat di Venezuela.
Gelombang reaksi datang dari sejumlah pemimpin negara Eropa menyusul serangan Amerika Serikat di Venezuela. (REUTERS/Leonardo Fernandez Viloria)
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang reaksi datang dari sejumlah pemimpin negara Eropa menyusul serangan Amerika Serikat di Venezuela.

Para pejabat Eropa menyampaikan keprihatinan, menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional, serta memantau keselamatan warga negara mereka di negara tersebut.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan dirinya telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio serta Duta Besar Uni Eropa di Caracas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam unggahannya di media sosial X, Kallas kembali menegaskan posisi Uni Eropa bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro tidak memiliki legitimasi.

"Uni Eropa telah berulang kali menyatakan bahwa Maduro tidak memiliki legitimasi dan mendukung terjadinya transisi damai," tulis Kallas.

Ia juga menyerukan agar prinsip-prinsip hukum internasional dan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap dihormati.

Menteri Luar Negeri Belgia, Maxime Prevot, menyatakan Kedutaan Besar Belgia di Bogota, Kolombia, telah dimobilisasi penuh untuk merespons perkembangan situasi.

"Situasi sedang dipantau secara ketat, dalam koordinasi dengan para mitra Eropa kami," ujarnya.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel mengatakan kondisi di Caracas masih belum jelas.

Belanda, menurutnya, terus memantau perkembangan dan berkomunikasi dengan kedutaannya di Venezuela.

Kementerian Luar Negeri Polandia menyebut tengah memverifikasi jumlah warga negaranya yang berada di Venezuela.

Juru bicara Kemenlu Polandia, Maciej Wewior, menyatakan sejauh ini tidak ada laporan bahwa warga Polandia membutuhkan bantuan.

"Sebagian besar warga Polandia di Venezuela tinggal dalam jangka panjang," katanya.

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga menyatakan pemerintahannya memantau situasi di Venezuela secara saksama.

Ia memastikan kedutaan dan konsulat Spanyol di negara tersebut tetap beroperasi, seraya menyerukan upaya deeskalasi.

Di sisi lain, Presiden Belarus Alexander Lukashenko secara tegas mengecam tindakan Amerika Serikat di Venezuela.

Mengutip kantor berita negara Belarus, Belta, Lukashenko menyebut aksi AS tersebut tidak dapat diterima.

Kementerian Luar Negeri Belarus bahkan menilai apa yang mereka sebut sebagai agresi bersenjata AS merupakan ancaman langsung terhadap perdamaian dan keamanan internasional.

Sebelumnya, militer AS telah melakukan serangan militer di Caracas dan beberapa bagian negara Venezuela lainnya, yang memunculkan ledakan hebat di pangkalan militer utama Fortuna di kota tersebut pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat.

Saksi mata di Caracas sebelumnya juga melaporkan terlihat kepulan asap hitam pekat membumbung dari fasilitas militer Fortuna, disertai suara jet tempur yang terbang rendah.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.

Menurut pernyataan Trump, saat ini, Maduro beserta istrinya dilaporkan sedang diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela, melansir New York Times, Sabtu (3/1).

Pengumuman penangkapan ini menandai puncak dramatis dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kursi pemerintahan di Venezuela.

Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan "serangan skala besar terhadap Venezuela". Ia menekankan bahwa operasi militer ini dilakukan "bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS."

"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya.

(isn/isn)


[Gambas:Video CNN]
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
TERPOPULER