4 Orang Tewas Imbas Bombardir AS ke Sirik Iran, Kena Pesta Pernikahan
Empat orang meninggal dunia dalam serangan udara Amerika Serikat di wilayah Kuhestak, Sirik, Iran, pada Rabu (2/9) yang menyasar kediaman warga dan sebuah pesta pernikahan.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan korban tewas termasuk seorang anak empat tahun dan lebih dari 50 orang terluka.
"Para martir termasuk seorang anak. Listrik dan telepon terputus," tulis Hossein Kermanpour, seorang pejabat di Kementerian Kesehatan Iran, dalam unggahan di X.
Rekaman yang dipublikasi Palang Merah Iran memperlihatkan sebuah bangunan dengan dinding dan jendela hancur, serta puing-puing berserakan di jalan.
Gubernur Sirik, Reza Shahidiyan, mengatakan kepada stasiun televisi pemerintah IRIB bahwa 63 orang terluka, di antaranya 50 perempuan dan anak-anak.
Semua korban luka dilarikan ke rumah sakit di Kota Minab dan berada dalam kondisi stabil.
Kantor berita semi-resmi Iran Fars sementara itu menyiarkan kesaksian seorang anak yang selamat dari serangan.
"Ketika kami tiba di sana, terjadi ledakan. Ledakannya sangat dahsyat. Batu bata, batu, dan semen mengenai wajah dan kepala saya. Banyak orang terluka," katanya.
"Semua orang hanyalah warga sipil biasa," lanjut dia.
Serangan ini terjadi menyusul baku tembak pada akhir pekan lalu di tengah kebuntuan AS-Iran terkait Selat Hormuz. AS geram karena Iran tak kunjung sepakat terhadap tawaran damainya.
Kepala Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri parlemen Iran, Ebrahim Azizi, mengutuk keras serangan terbaru AS dan memperingatkan akan balasan Teheran.
Azizi menyebut pembunuhan warga sipil mencerminkan "keputusasaan" pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan merupakan kelanjutan dari kejahatan di Minab dan Lamerd.
Serangan AS di sekolah dasar di Minab menewaskan lebih dari 150 orang. Sementara itu, serangan di Lamerd yang mengenai gedung olahraga menewaskan sedikitnya 21 orang.
"Jangan salah sangka: kejahatan-kejahatan ini tidak akan lolos dari hukuman. Tidak ada yang akan melindungi mereka dari kekuatan dahsyat angkatan bersenjata Iran," ujar Azizi.
Baghaei secara terpisah juga mendesak komunitas internasional tak tinggal diam melihat "kebiadaban" Amerika Serikat.
"Iran akan menanggapi kejahatan biadab ini dengan tegas. Namun demikian, pemerintah dan lembaga internasional yang tetap diam menyaksikan kebiadaban semacam itu, atau berupaya membenarkan tindakan tersebut, harus memahami bahwa keheningan mereka bukanlah netralitas," tegasnya.
Selain di Kuhestak, kantor berita semi-resmi Iran Tasnim juga melaporkan ledakan di sejumlah kota lainnya, termasuk Konarak, Bandar Abbas, Jask, Asaluyeh, Ahvaz, serta Pulau Qeshm.
(rds)