Ariel Heryanto
Profesor di Australian National University

Kolom

Ahok, Penista Kemasan Politik

Ariel Heryanto, CNN Indonesia | Kamis, 17/11/2016 09:11 WIB
Ahok, Penista Kemasan Politik Sikap politik Ahok tanpa basa-basi membuat muak lawan politiknya, yang menggunakan kemasan politik semu. Agama dan suku menjadi titik serang paling ampuh. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penetapan Ahok sebagai tersangka tidak sepenuhnya mengejutkan banyak pihak. Juga pihak-pihak yang saling bertentangan dalam menilai tuduhan penistaan agama olehnya. Sebagian pihak yakin Ahok memang bersalah. Maka status tersangka dianggap wajar. Sebagian lain yakin Ahok tidak bersalah. Tapi menetapkan Ahok sebagai tersangka dipahami sebagai sebuah siasat politik yang cerdik dari pemerintah Jokowi.

Penetapan status itu mengembosi sebagian, jika tidak sepenuhnya, daya tarik dan kewibawaan demonstrasi lanjutan (jika ada) terhadap Ahok dan istana. Keputusan yang sama membebaskan polisi dan Presiden dari tanggung-jawab atas kasus itu. Kini dialihkan ke kejaksaan.

Proses hukum selanjutnya atas kasus ini bisa makan waktu tahunan, tanpa sedikit pun mengurangi hak Ahok bertanding dalam Pilkada DKI. Juga tidak ada jaminan tersangka pada akhirnya akan dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Tapi berbagai penilaian itu bersifat sangat sementara.


Ada dua persoalan besar yang belum jelas.

Pertama, sulit dipastikan bagaimana proses hukum ini akan berlanjut dan sulit dipastikan apakah Ahok akan dinyatakan bersalah atau tidak bersalah oleh pengadilan. Kedua, bagaimana berbagai faktor non-legal ikut berpengaruh pada yang pertama, baik secara terbuka atau tertutup. Dalam bentuk tekanan eksternal berjarak, atau langsung menerobos proses hukum itu sendiri.

Sulit membayangkan semua ini sudah ada jawabnya tapi dirahasiakan, seakan-akan ada yang mengatur di balik layar. Peluang seperti itu hanya mungkin dalam situasi tertentu. Misalnya di puncak kejayaan rezim otoriterisme Orde Baru, dengan bangunan politik yang terpusat nyaris mutlak. Tidak sekarang, karena terpecah-pecahnya kekuatan politik serba oportunis yang siap berubah tingkah, sekutu dan siasat bila dianggap perlu.

Kasus Ahok tidak bisa disamakan dengan sejumlah kasus lain penistaan agama. Buktinya tidak semua penistaan agama telah beramai-ramai digugat seperti halnya pada Ahok, petahana dan calon Gubernur DKI, dan mitra politik Presiden yang sedang berkuasa.

Terlepas dari bagaimana nantinya nasib Ahok di ujung proses hukum, ada yang lebih menarik perhatian saya. Yakni sosok Ahok sebagai politikus tanpa kemasan atau basa-basi politik.

Di mana pun di dunia, urusan politik pada dasarnya merupakan tarik-ulur atau tawar-menawar, gerak dan gertak-balik, serta kerjasama antara berbagai pihak dalam pembagian kuasa kenegaraan dan kepentingan material. Di mana pun di dunia, proses politik tidak tampil dan berlangsung telanjang bulat. Tetapi dibungkus dan dikemas dalam berbagai wacana dan format pemanis.

Ilmuwan sosial Pierre Bourdieu menyebutnya eufemisme.

Dengan kemasan orang berpolitik seakan-akan tidak sedang berpolitik. Caranya dengan membungkus gerak-gerik politiknya dalam kemasan yang dianggap sedang sah dan terhormat dalam masyarakat. Entah itu kemasan moral (baik/buruk), keagamaan (suci/nista), hukum (salah/benar) dan kultural (tinggi/rendah) seterusnya. Berbagai pihak menggunakan kemasan non-politik yang berbeda-beda.

Ini bergantung pada modal yang paling dimilikinya: modal-ekonomi, atau modal-moral, atau modal-keagamaan. Kemasan tidak sama dengan tipuan. Tidak ada yang menipu atau ditipu. Karena semua dianggap sudah tahu-sama-tahu, mana yang politik dan mana yang kemasan.

Sarat Muatan Politik

Sejak awal, tuduhan terhadap Ahok sebagai penista agama sarat dengan muatan politik. Tapi tidak semata-mata dinyatakan dalam kemasan politik. Lebih sering dikemas dalam wacana keagamaan. Serangan ini sebagian datang dari mereka yang sejujur-jujurnya perduli pada soal agama. Namun, para musuh politik Ahok ikut-ikutan menumpang, dan membesar-besarkan kasus itu seakan-akan mereka juga peduli pada masalah agama.

Seorang ulama senior pernah membela Ahok dengan mengatakan hanya orang bodoh yang menganggap Ahok telah melakukan penistaan agama. Mungkin ada benarnya. Tapi ada yang luput dari pernyataan itu.
Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama oleh Mabes Polri. (CNN Indonesia/Safir Makki)Ahok ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama oleh Mabes Polri. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Menurut saya, hanya mereka yang buta-politik akan berbantah melulu soal agama dan adu-kutipan ayat suci dalam menanggapi kasus Ahok. Apakah Ahok bersalah atau tidak secara keagamaan, kurang menarik perhatian saya. Juga apakah dia bersalah atau tidak secara hukum.

Sejauh pengamatan saya, kesalahan pertama dan utama Ahok selama ini adalah berpolitik tanpa basa-basi atau kemasan apa pun. Entah karena tidak mau, tidak mampu, atau dua-duanya. Dia berpolitik secara telanjang. Politik telanjang itu dianggap nista oleh banyak pihak yang terbiasa dengan basa-basi moral, budaya, atau keagamaan.

Bahkan ketika ingin menyerang Ahok, mereka tidak bisa menyerang Ahok tanpa kemasan-kemasan yang sudah lazim, termasuk bahasa rasis atau kutukan keagamaan. Secara politik, titik terlemah Ahok terletak pada kegagalannya memuaskan sebagian tidak kecil lapisan kelas bawah yang menjadi korban kebijakan tata-kotanya.

Titik Terlemah

Tapi para musuh politik Ahok yang terlembaga paling besar tidak memiliki kemampuan atau kewibawaan untuk berbicara dengan kemasan kelas sosial. Maka, titik terlemah politik Ahok tidak pernah diserang secara massif seperti dalam demonstrasi massal di Jakarta dua bulan terakhir.

Bagaimana menjelaskan popularitas Ahok di kalangan pendukungnya? Menurut saya mereka tidak semata-mata menyukai cara berpolitik-telanjang Ahok. Mereka hanya jenuh dan muak dengan berbagai kemasan berlapir-lapis yang dipakai berbagai politikus sebelumnya, tanpa isi. Seperti pepes kosong.

Pemerintahan Jokowi selama ini diuntungkan dan menguntungkan Ahok. Pemerintah ini menghadapi berbagai serangan terakhir terhadap Ahok dan istana dengan kemasan hukum. Tidak bertelanjang. Merestui ketetapan Ahok sebagai tersangka merupakan sebentuk kemasan hukum yang mereka pilih dengan penuh perhitungan politik.

Tapi ini baru kemasan. Tidak lebih. Jadi jangan terburu cemas atau lega. Ada apa persisnya di balik kemasan itu, akan menjadi jelas dalam beberapa bulan ke depan.


(asa)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS