Penulis adalah Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK) Universitas Padjdjaran dan Dosen Sarjana & Pascasarjana Politik dan Pemerintahan, FISIP UNPAD, Bandung.
KOLOM
Jebakan Sentimen Agama di #Aksi212 dan Pencoreng Pilkada
muradi.clark | CNN Indonesia
Kamis, 08 Des 2016 12:39 WIB
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNNIndonesia.com
Jakarta, CNN Indonesia -- Terlepas bahwa ada yang mengambil keuntungan dan dirugikan secara politik dalam #Aksi212 dengan isu dan sentimen politik agama, harus diakui bahwa tuntutan Ahok ditahan karena diduga menista agama telah mengubah peta politik di Jakarta dalam tiga bulan terakhir.Salah satu indikasinya adalah hasil dari survei sejumlah lembaga sigi yang memosisikan Ahok tidak lagi perkasa.
Sementara calon lain seperti Agus dan Anies secara perlahan menguat dan bahkan pada sejumlah survei keduanya melewati prosentasi Ahok secara bergantian. Situasi tersebut tentu tidak cukup baik bagi pembangunan demokrasi di Jakarta dan Indonesia pada umumnya.
Apalagi secara faktual, penggunaan tekanan massa yang massif untuk memaksa agar Ahok dijadikan tersangka dan ditahan mengindikasikan bahwa politik yang terbangun lebih banyak mengedepankan sentimen agama dan etnis dari pada adu program.
Saat penetapan ketiga pasangan calon, penulis membayangkan bahwa Pemilihan Gubernur DKI Jakarta adalah miniatur dari Pemilihan Legislatif dan Pemilihan Presiden 2019.
Ketiga calon sendiri memiliki dukungan partai politik yang selama 15 tahun terakhir menjadi partai dengan tingkat elektabilitas yang tinggi.
Bahkan juga diyakini bahwa siapapun pemenang dalam Pilgub Jakarta akan memiliki peluang untuk memenangkan Pileg maupun Pilpres 2019 mendatang.
Pertaruhan Politik
Namun bayangan tersebut tergerus oleh politik berlabel agama yang menguat, membuat kompetisi ketiganya tidak lagi menarik.
Karena tanpa berkeringat dan adu program, ada yang diuntungkan secara politik terkait dengan tuntutan penahanan Ahok yang bergerak massif.
Situasi ini pula yang menjadi bagian perhatian masing-masing calon untuk bisa meyakinkan publik. Meyakinkan bahwa bahwa memilih pemimpin yang tepat pada Pilgub Jakarta 2017, menjadi penegasan bagi penguatan politik masing-masing pengusung kandidat tersebut.
Aksi anti Ahok pada 2 Desember lalu tetap mendesak agar Ahok ditahan dalam kasus dugaan penistaan agama. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono) |
Sebaliknya juga SBY yang ingin tetap ‘eksis’ secara politik menginginkan agar Agus, putera sulungnya, dapat meraih suara signifikan. Tujuannya, dapat menjaga dinasti politik keluarga Cikeas tetap punya akses secara politik.
Lihat juga:Agus 'Jualan' Program Dana Bergulir |
Dengan waktu kurang lebih dua bulan, ketiganya tetap memiliki peluang untuk memenangkan kontestasi di Pulgub Jakarta.
Isu politik berlatar belakang agama dan etnis tentu tidak baik terus untuk dimunculkan tanpa menampilkan program yang akan diimplementasikan.
Sejauh hal tersebut tidak bisa diimplementasikan secara politik, maka Pilgub Jakarta 2017 akan terjebak dalam sentimen keagamaan yang akan merusak tatanan demokrasi secara substansial.
Aksi anti Ahok pada 2 Desember lalu tetap mendesak agar Ahok ditahan dalam kasus dugaan penistaan agama. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)