Menurut Ahok, sapaan Basuki, pembenahan bantaran sungai di Jakarta Utara dilakukan agar aliran air di wilayah hilir lancar. Ia berpendapat, jika aliran di hilir telah lancar maka potensi terjadinya banjir di ibu kota akan menurun.
"Makanya dari dulu saya kerjanya dari utara, jadi hilir dulu. Bereskan yang ke laut kemudian mulai naik ke atas (selatan). Kalau dibesarkan di selatan dulu, bangunan masih sempit, buntu (alirannya)," kata Ahok di kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (23/1).
Walau aliran air diklaim telah lancar, Ahok mengaku akan tetap memasang sheet pile atau turap di bantaran sungai ibu kota. Namun, turap hanya akan dipasang di bantaran sungai yang tidak mengandung batu cadas.
"Sheet pile-nya berapa lebar masih kami hitung. Jadi konsep kami, justru di pinggir sungai seperti daerah condet harus banyak kebun-kebun. Itu bisa menjadi agrowisata," katanya.
Dalam buku visi-misinya, Ahok dan pasangannya Djarot Saiful Hidayat memiliki delapan rencana aksi untuk menanggulangi banjir. Diantaranya adalah mendorong percepatan penyediaan Ruang Terbuka Biru (RTB), melanjutkan program Jakarta Emergency Dredging Initiative (JEDI) atau normalisasi sungai, dan menambah kapasitas pompa air.
Untuk program RTB, Ahok berjanji akan menyelesaikan pembangunan 17 waduk dan sembilan embung. Waduk-waduk itu antara lain terletak di Jagakarsa, Pondok Rangon, Pinang Ranti, Rawa Minyak, dan Sunter Jaya.
Selama menjadi Gubernur, Ahok telah beberapa kali melakukan normalisasi sungai di ibu kota. Beberapa lokasi yang telah dinormalisasi adalah kawasan bantaran sungai di Kalijodo dan Bukit Duri.