Logo Kursi Panas DKI 1

Meminjam Isu Reklamasi Demi Pilkada DKI

Rosmiyati Dewi Kandi & Sisilia Claudea Novitasari
Selasa, 21/03/2017 13:12 WIB
Meminjam Isu Reklamasi Demi Pilkada DKI Muara angke terdampak akibat reklamasi Pulau G yang juga merupakan kepanjangan proyek reklamasi pulau C dan D di Teluk Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

Jakarta, CNN Indonesia -- Lolos pada putaran pertama pilkada DKI Jakarta, perang isu antara Basuki Tjaha Purnama-Djarot Saiful Hidayat dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno mulai dilontarkan. Media-media sosial berisik, meski Ahok memilih kampanye senyap sebagai bagian dari strategi.

Saling serang dan saling balas argumentasi menggunakan beragam isu sudah terlihat. Anies menampakkan diri di tengah perkampungan padat penduduk yang terendam banjir hingga mencapai lututnya.

Ahok menyebut Anies alpa membaca undang-undang ketika menyatakan bakal memberi subsidi bagi semua angkutan umum, bukan hanya Transjakarta. Banjir dan transportasi massal memang merupakan dua di antara sejumlah isu seksi yang direbutkan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, masyarakat cenderung lebih peduli dengan isu yang terkait langsung dengan kehidupan sehari-hari.

"Yang diangap persoalan krusial di Jakarta adalah transportasi, banjir, birorkasi, pelayanan kesehatan, pendidikan, penataan ruang publik seperti pasar, dan jalan raya," kata Hamdi kepada CNNIndonesia.com.

Bagaimana dengan isu reklamasi?

Hamdi tidak yakin reklamasi di Teluk Jakarta akan memiliki pengaruh besar bagi pemilih di DKI Jakarta. Hal ini lantaran isu tersebut dianggap terlalu politis yang hanya bisa ditangkap oleh elite politik dan pengusaha.

Menurut Hamdi, isu reklamasi tidak akan memiliki pengaruh signifikan bagi pemilih DKI Jakarta. Pasangan Anies-Sandi adalah calon yang dapat meminjam isu itu untuk mencari dukungan, mengingat kebijakan reklamasi selama ini masih menjadi pro dan kontra.

Hamdi memerkirakan, pasangan Anies-Sandi akan membingkai isu reklamasi sesuai dengan kepentingan mereka seperti dampak reklamasi merugikan rakyat. "Masuk akal jika kisruh reklamasi dijadikan peluru andalan untuk menyerang pasangan petahana," kata Hamdi.
Sementara itu, pengamat politik UI Ikhsan Darmawan mengatakan, isu reklamasi dapat digunakan untuk mendongkrak perolehan suara pada pilkada putaran kedua apabila tepat sasaran. Pasangan Anies-Sandi akan menggunakan dampak reklamasi untuk memaikan isu itu.

Agar isu reklamasi dapat tepat sasaran, lanjut Ikhsan, pasangan Anies-Sandi harus memperhatikan latar belakang calon pemilihnya.

"Tim sukses harus jelas dia ingin meraih simpati dari pemilih mana dan jangan sampai blunder. Misal, jika tim sukses Anies-Sandi menggunakan isu itu, jangan-jangan malah jadi berbalik merugikan mereka," kata Ikhsan.

Untuk Ahok-Djarot, menurut Ikhsan, cukup riskan mengangkat isu reklamasi dalam kampanye mereka. Meski isu reklamasi dapat digunakan untuk mendongkrak perolehan suara, Ikhsan melihat kampanye menggunakan isu seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dampaknya akan jauh jelas dan lebih efektif.

Pada 8 Februari lalu, Anies sempat mengikuti parade nelayan untuk menegaskan sikap menolak reklamasi.

"Reklamasi tolak atau terima? Kami tolak reklamasi. Kita kembalikan keadilan di Jakarta," kata Anies berorasi di atas perahu nelayan, saat menghadiri "Parade Nelayan Tolak Reklamasi" di Tempat Pelelangan Ikan, Cilincing, Jakarta Utara. (rdk)

ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
0 Komentar