Rachel Maryam Laporkan Akun Palsu Pemfitnah Anies-Sandi

Marselinus Gual, CNN Indonesia | Senin, 17/04/2017 18:20 WIB
Juru bicara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Rachel Maryam melaporkan akun Twitter palsu yang mirip dengan akun miliknya ke Polda Metro Jaya. Rachel Maryam melaporkan akun palsu twitter yang mirip dengan miliknya. (CNN Indonesia/Marselinus Gual)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru bicara pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Rachel Maryam melaporkan akun Twitter palsu yang mirip dengan akun miliknya ke Polda Metro Jaya. Akun palsu tersebut hanya berbeda satu huruf dengan akun milik Rachel namun terlihat tak ada perbedaan.

Akun asli Rachel adalah @cumarachel (menggunakan huruf L kecil di akhir), sementara akun akun palsu itu adalah @cumaracheI (menggunkan huruf i kapital di akhir). Perbedaan satu huruf ini membuat tampilan tulisan nama akun itu terlihat sama.

Dalam laporannya Rachel mengaku dirugikan karena akun palsu itu memposting berita yang berisi fitnah kepada Anies-Sandi.
Laporan Rachel terdaftar dengan nomor LP/1899/IV/2017/PMJ/Dit.Reskrimsus tertanggal 17 April 2017.


"Ada sebuah akun Twitter yang berpura-pura menjadi diri saya, menggunakan foto saya, dengan nama akun yang sekilas tampak sama seperti akun Twitter saya, tapi sebetulnya berbeda," kata Rachel di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (17/4).

Yang jelas membedakan akun Rachel dengan akun palsu itu adalah jumlah pengikut. Akun Rachel asli memiliki pengikut lebih dari 37 ribu akun. Sementara akun palsunya cuma memiliki pengikut 265 akun. Akun palsu itu juga baru dibuat pada April 2017. Sementara akun Rachel aktif sejak Mei 2012.

Politikus Partai Gerindra ini mengaku tidak menulis hal-hal yang berbau fitnah dalam akun resminya. Sementara akun palsu menulis seolah-olah kecewa pada Anies-Sandi.

"Isi cuitannya seakan-akan saya kecewa dengan paslon, karena ada cuitan yang mem-framing seakan-akan mas Anies bersama Syiah. Nah ini sama sekali bukan cuitan saya, dan saya anggap ini bermuatan fitnah," kata Rachel.

Rachel mengatakan laporannya dibuat untuk menjadi pembelajaran bahwa warga menginginkan Pilkada yang sehat. Ia berharap kepolisian dapat memproses pelaku pelanggaran Pilkada terutama penyebar informasi palsu.
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK