Marsini yang Menolak Lupa

Utami Diah, CNN Indonesia | Senin, 06/10/2014 13:16 WIB
Marsini kakak kandung dari Marsinah, aktivis buruh yang dibunuh menolak lupa kisah keji yang menimpa adiknya. Namun ia menolak lupa, harapan terus ia gelorakan. Ilustrasi korban hak asasi manusia. (CNN Indonesia/Thinkstock/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sore itu, pada akhir pekan lalu, seorang perempuan duduk di serambi Goethe Institut, Jakarta Pusat. Kerudung oranye yang membalut kepalanya senada dengan warna baju bermotif kembang yang dikenakan olehnya. Di dada sang wanita, tersemat bunga mawar warna merah darah.

Perempuan itu adalah Marsini, kakak kandung Marsinah, aktivis dan buruh pabrik PT. Catur Putra Surya (CPS) yang dibunuh pada 1993. Dia datang ke Goethe Institut dari Surabaya untuk menghadiri acara Pelucuran Buku Nawacita 4 Mata Jalan Penyintas: Jalan Perubahan 40 Tahun Kekerasan. Acara tersebut diselenggarakan oleh Koalisi Keadilan dan Pencari Kebenaran (KKPK).

“Saya merasa menemukan harapan di sini,” ujarnya menjelaskan kepada CNN Indonesia. “Selama ini saya merasa kami (kasus Marsinah) nyaris terlupakan dan terpinggirkan.”


Marsini kemudian menceritakan kembali peristiwa lalu di mana adiknya, Marsinah, yang ditemukan tewas dibunuh secara tragis di hutan dusun Jegong, desa Wilangan. Semasa hidupnya Marsinah, di matanya, merupakan seorang gadis yang berpengetahuan luas. Perempuan itu suka sekali membaca buku dan senang berdiskusi. “Dia gadis pendiam tetapi keinginan dan kemauannya kuat sekali,” kata Marsini.

Kala itu almanak menunjuk tanggal 8 Mei 1993, seorang tetangga di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur menggedor kencang rumah kontrakan Marsini. Tetangga tersebut mengabarkan kematian Marsinah.

“Mendengar kabar itu, saya gak bisa tidur semalaman. Pikiran saya langsung pingin pulang ke rumah orangtua,” dia mengenang.

Marsini, yang saat itu sedang hamil tua delapan bulan, mengatakan sangat syok mendengar kabar tersebut. Belum juga matahari terbit, perempuan itu bersama suaminya langsung mendatangi rumah orangtua mereka untuk mengurus jenazah Marsinah.

Meski termasuk kategori pembunuhan, kasus Marsinah, ujarnya, baru ditelusuri oleh aparat polisi empat puluh hari setelah kematian Marsinah.

"Sejak itu, rumah jadi ramai. Banyak intel, banyak polisi. Anggota keluarga ikut dicurigai oleh mereka," kata dia. "Tapi saya gak pernah takut karena saya tahu saya gak salah."

Marsini mengatakan adiknya saat itu sangat aktif memperjuangkan upah layak bagi para buruh yang bekerja di PT. Catur Putera Surya. Berdasarkan surat edaran NO. 50/Th. 1992, Gubernur KDH Jawa Timur menghimbau agar pengusaha menaikkan gaji karyawan mereka sebesar 20 persen gaji pokok.

Gaji pokok para buruh di perusahaan Jawa Timur dikritik oleh banyak pihak sangat rendah dan tidak memadai.

Namun, imbauan tersebut rupanya tidak dilaksanakan oleh para petinggi perusahaan, jelas Marsini. Ada perbedaan upah yang cukup tinggi antara pekerja asing dengan pekerja lokal, yang membuat Marsinah geram. Alhasil, dia bersama teman-temannya melakukan unjuk rasa menuntut perusahan menaikan upah dari Rp 1700 menjadi Rp 2250.

“Ternyata, Marsinah diculik dan dibunuh dalam upaya dia memperjuangkan kebenaran itu,” ujar dia.

[Gambas:Video CNN]

Hingga kini, ingatan itu terus membekas. Marsini tak pernah letih berjuang untuk mengungkap siapa pelaku pembunuhan adiknya Marsinah. Meskipun usaha hukum sudah ditempuh dan berujung pada penangkapan Yudi Susanto, pemilik PT CPS, beserta 10 terdakwa lainnya, sebagai pelaku pembunuh Marsinah. Tapi, pada tingkat kasasi, Mahkamah Agung RI justru membebaskan semua terdakwa dari segala dakwaan pada 1993.

“Ada kekecewaan tersendiri saat tau pelaku utama dilepas. Saya mau melakukan perjuangan saat itu, gimana? Namanya orang kecil. Nyaris saya berhenti berharap,” dia menjelaskan.

Namun, dukungan yang terus datang dari berbagai macam organisasi lokal dan internasional, termasuk dari International Labor Organization (ILO) dan KKPK, membuat Marsini kembali memiliki harapan.

“Saya gak peduli bagaimana hasilnya nanti. Yang terpenting, masyarakat masih ingat selalu kasus pelanggaran HAM ini,” kata dia.

REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK